Friday, November 16, 2018

Warung Mami


Mungkin aku terlalu parno.
Safir memberitahu abinya kalau ia mau ikut lomba. Kompetisi game. Kalau tidak salah Mobile Legend. Game tersebut banyak digandrungi orang lintas usia, mulai anak-anak sampai orang tua. Bukan Safir namanya kalau informasi yang diberikan cukup jelas bagi kami. Ia selalu begitu. Menginfokan sesuatu sepotong sepotong. 
 Pokoknya lomba. Berkelompok. Tempat di Warung Mami. Bayarnya sekian. 

“Siapa yang ngadakan, Mas?Ada pemberitahuannya ta?Brosur atau formulir?” tanyaku ketika secara tidak sengaja kumendengar percakapan mereka. 

“Ada, Mik,” jawabnya pelan. 

Satu hal yang mengganjal di pikiranku. Kosa kata mami.  
Sebenarnya mami ini panggilan untuk ibu. Sama seperti bunda, mama, umi, uma. Namun, dari beberapa bacaan yang kuserap, mami mempunyai pergeseran makna ke arah negatif. Ia biasa digunakan para PSK untuk memanggil induk semangnya dengan mami. Maka, makna itulah yang menempel di pikiranku saat ini. 

Rasanya wajar saja aku mengkhawatirkan Safir. Ia anak yang masih polos. Remaja yang baru menginjak dunia SMA. Maka, aku mencecar pertanyaan tentang lomba yang diadakan di warung mami. Seperti biasa, jabrikku itu tidak bisa menerangkan dengan gamblang jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

***
“ Safir, ayo umi antarkan daftar lombanya, ”kataku di suatu sore.
Hari ini pendaftaran terakhir. Maksudku, penyerahan uang pendaftaran. Safir sudah mendaftar online. Ia hanya perlu mentransfer uang sebenarnya. Tapi, ya itu tadi... kekhawatiran memaksaku mengambil tindakan untuk mengantarkannya membayar secara off line. Menurutku, itu satu-satunya cara mengetahui dengan jelas lomba apa sebenarnya acara tersebut. 

“Umi mau antar aku?” tanya Safir tak percaya. Matanya membulat. 

“Ya, kenapa? Mas Safir malu diantar umi?” tanyaku kemudian.  

Ia tampak ragu menjawab. 

“Malu? Umi lo cantik, “ kataku memecah kesunyian. 

Aku yakin alasannya bukan hal di atas. Barangkali ia malu karena sudah SMA masih diantar orang tuanya. 

“Nggak gitu, Mik, “ jawabnya. 

“Okelah, umi nanti nunggu di parkiran. Safir yang ke dalam, “ tawarku, “ Sudah sana, segera ganti kaos dan celana, “ pintaku. 

Safir tidak banyak membantah. Segera saja ia lari ke belakang, mencari kaos dan celana yang cocok. Aku membuka google maps, mencari lokasi warung Mami. Memastikan arah yang akan kami tempuh. Tidak lama kemudian Safir muncul. 

Dengan Mio merahku, kami membelah jalan A. Yani arah Surabaya. Sesampainya di RSI kami berputar, balik arah menuju ke A. Yani arah Sidoarjo, menuju RSAL dan Maspion Square. Warung Mami tepat di pinggir Maspion Square.
Seorang lelaki tua memintaku memarkir Mio di sebelah timur warung ini. Kuturuti perintahnya.
“Gimana, Fir, Umi masuk atau menunggu di parkiran?” tanyaku. 

“Masuk, aja Mik,” jawabnya. 

“Oke. Umi mau pesan minum, Safir mencari tempat pendaftarannya ya, “ kataku kemudian. 

Warung Mami ini jauh dari prasangkaku. Tempatnya di tempat terbuka, cukup luas juga. Banyak mahasiswa sedang duduk-duduk di sayap kiri. Bergerombol. Beberapa membentuk kelompok-kelompok kecil. Berdiskusi mungkin. 

Ada beberapa orang dewasa di sayap kanan warung. Beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak di beberapa meja terpisah. Mereka sedang menikmati kopi susu panas. Aku berkeliling, melihat-lihat menu yang tersedia. Makanan dan minuman ringan yang banyak. Aku memesan juz jambu merah di kasir. Safir sudah berada di belakangku. Ia memesan juz mangga. Selain itu, aku memesan pisang goreng keju. Kubayar sesuai menu yang kuminta. Petugas segera memberiku nomer meja. 

Ketika sampai di meja, Safir bercerita kalau petugasnya belum ada. Kuminta ia menelpon panitianya. Safir keberatan dan merasa ia berada di tempat yang salah. 

“Mungkin ini tempatnya salah ya, Mik,” katanya.

“Salah gimana?Memang ada warung mami yang lain?Katanya lokasinya di sini? “ tanyaku mulai tak sabar. 

“Ya, alamatnya di sini sih, “ jawabnya kemudian. 

“Coba kamu telpon kontak personnya, Mas,” pintaku. Aku berusaha menyabarkan diri. 

Safir mencoba menelpon nomor yang diberikan panitia. No respon. 

“Coba Umi yang telpon,” kataku. 

Safir mulai kelihatan tidak suka dengan sikapku. Aku meminta nomor tersebut dan mulai menelponnya. 

No respon. 

“Ini, Mik. Sudah ada jawaban di WA. Orangnya masih salat, “ kata Safir. 

“Ok. Kita tunggu di sini. Ngobrol sama umi sambil nunggu pisang goreng datang,” ujarku kemudian.
Tidak lama kemudian pesanan kami datang. Orang yang Safir tunggu pun datang. Ada dua orang anak muda. Seorang laki-laki dan seorang gadis cantik berjilbab. Mereka mengenalkan diri mahasiswa UPN. Jadilah aku bertanya-tanya. 

“Penyelenggara lombanya siapa ya Mbak?” tanyaku pada gadis berhijab tersebut. 

“Kami, tante. Mahasiswa UPN jurusan Informatika. Jadi, lomba ini semacam tugas dari dosen untuk menyelenggarakan event seperti ini,” jelasnya. 

Aku baru paham. 

“Banyak Mbak pesertanya?” tanyaku lagi.

“Lumayan, tante. Ada yang dari mahasiswa dan adik-adik SMA,” jawabnya. 

“Adik kelas berapa?” tanya mahasiswa yang putra. 

“Kelas 1, “ jawab Safir.

“Harus semangat ya dek, “ katanya.

Safir tersenyum tipis dan mengangguk. Safirku itu sangat pemalu di depan orang banyak.  

Ploong.... rasanya. Ternyata kekhawatiranku tidak terwujud. Bahwa lomba ini benar-benar legal. Penyelenggaranya jelas. Eventnya jelas. Tidak sia-sia pengorbananku mengantar Safir hari ini. Meskipun lelah aku merasa senang.
Semoga sukses anakku


Wednesday, October 24, 2018

4D Theater, A Very Late Post


“Ayo nonton film, bi,” pinta Enji sambil menunjuk gedung yang tepat di hadapan kami saat ini. Gedung ini berdampingan dengan arena Go cart. 

Abi memesan 4 tiket untuk nonton film 4D. Aku sebenarnya bertanya-tanya dalam hati, apa bedanya bioskop 3 dimensi dan 4 dimensi ini. Per tiket 15 ribu rupiah. Aku lupa judul filmnya. Yang pasti film anak-anak, film kartun.  Kalau tidak salah tentang petualangan Billy, seekor burung. Setelah menerima tiket, segera kami menuju gedung bioskopnya. Petugas penjaga pintu memberi kami kaca mata khusus untuk menonton film jenis ini. Keseluruhannya berwarna hitam.  

Saat memasuki gedung teaternya masih belum ada penonton. Hanya kami berempat. Kami harus menunggu penonton lainnya. Ruangan ini lumayan luas. Kami mengambil baris ketiga dari depan layar. Mencoba mengenakan kaca matanya dan berfoto ria. Salman duduk di antara abi dan aku, sementara Enji duduk di samping kiriku. Kami saling bergaya di depan kamera. 

Tidak lama kemudian, datanglah serombongan penonton lainnya. Setelah dirasa cukup maka para petugas pemberi kaca mata tadi menutup pintu. Tandanya, film akan segera diputar. Kami segera melakukan persiapan. Duduk senyaman mungkin sambil menikmati apa yang ditayangkan di layar. 

Dalam layar ditampilkan pemandangan yang sangat indah sebagai pembuka. Beragam pepohonan menghijau dan bunga-bunga. Kupu-kupu sedang bekejar-kejaran. Nah, ini yang istimewa. Teknologi 4D memungkinkan kupu-kupu tersebut tidak hanya terbang di dalam layar. Mereka seolah-olah terbang di sekitar kita. Beberapa kupu-kupu melaju menuju para penonton sehingga kami menangkupkan tangan untuk sekadar menangkapnya. Enji sampai berdiri untuk menangkap kupu-kupu biru yang cantik. Ia tertawa-tawa ketika tahu bahwa yang ditangkap hanyalah udara. 

Bunga-bunga bermekaran. Berwarna-warni. Binatang-binatang kecil melompat ke sana ke mari. Kupu-kupu masih bermain-main ringan. Kalau yang kubaca, teknologi 4D mampu menghadirkan tidak saja gambar yang realistis, efek hujan, awan, salju, tetapi juga efek scent atau bebauan benda yang ditampilkan. Jika yang ditampilkan di layar gambar bunga mawar, maka penonton akan mampu membau aroma mawar yang wangi. Tidak di sini. Mungkin karena membayarnya tidak semahal di bioskop 4D aslinya sehingga efeknya dikurangi. Hehehe...

Muncullah dua ekor burung sedang bercakap-cakap. Rupanya sang induk sedang menjelaskan kepada anaknya kalau sebentar lagi musim berganti. Tandanya mereka harus melakukan migrasi. Sang anak yang ternyata bernama Billy mendengar dengar seksama mengapa mereka harus melakukan perjalanan. Aku tidak mengenali burung jenis apa si Billy ini. Setelah kubrowsing di internet, tampaknya ia sejenis burung jenjang. 

Memang, banyak burung melakukan migrasi tiap tahunnya. Mereka berkelompok berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Biasanya dari Utara ke Selatan. Perjalanan migrasi ini bisa panjang dan lama. Bahkan melintasi samudera. Karena itu migrasi menjadi perjalanan yang membahayakan. Belum lagi ketika dihadang oleh badai dan hujan. Burung bermigrasi ini bisa jadi karena pengaruh musim. Ketika musim gugur, misalnya, mereka harus pindah karena jumlah makanan yang tersedia tidak mencukupi. Istimewanya, burung ini akan kembali ke tempat asalnya jika musim sudah berganti. 

Perjalanan Billy dan rombongan sampailah pada suatu malam. Malam tersebut diseliputi mendung tebal. Hawa dingin segera menampar Billy. Serabut-serabut awan  bertebaran di sekeliling penonton bersama hadirnya hawa dingin di ruangan ini.
Tiba-tiba turunlah hujan. 

“Mik, hujan Mik... basah,” teriak Enji.

“Mama... mama...hujan..., ” teriak anak kecil yang duduk tepat di belakangku.  

Aku tersenyum sendiri ketika kurasakan ada semburan air yang membasahi jilbabku. Lucu juga.
Singkat cerita, Billy sedikit nakal. Merasa dirinya sudah besar, iIa mencoba memisahkan diri dari rombongan. Tiba-tiba ada seekor elang yang terbang menukik ke arahnya. Suasananya begitu mencekam. Elang ini terbang meliuk-liuk dengan cepatnya menuju...... penonton. 

“Aaarrrrrh......, “ teriak para penonton.

“Awaaaaaas.....,” teriak penonton di belakangnya.

 Setelah itu derai tawa mengikutinya. 

Ibu Billy yang tahu putranya dalam  bahaya segera melakukan manuver balik. Ia menolong Billy dan menyelamatkannya. 

“Billy, lain kali jangan berpisah dengan rombongan, Nak. Terlalu berbahaya, “ nasehat ibunya. 

“Maafkanlah, Billy, ibu,” rajuk Billy. 

Akhirnya keduanya bergabung kembali dengan rombongannya. Sampailah mereka ke tempat yang dituju. Tempat yang indah seindah kecantikan tropis. Bunga-bunga bermekaran kembali, burung-burung berterbangan, kupu-kupu, semut-semut, ulat semua bergembira. Kegembiraan dilengkapi dengan bubble yang diguyurkan di kursi penonton. Enji, Salman, berdiri melompat-lompat menangkap bubble dengan riangnya.








Stasiun Malang Kota Baru


Akhirnya KA sampai di Malang setelah 2 jam lebih perjalanan. Kami turun di stasiun Malang Kota Baru. Karena ini pertama kalinya kami turun di stasiun ini kami coba mengikuti penumpang di depan. Ternyata turun dari KA kami harus menuruni tangga kemudian naik tangga kembali. Baru kemudian kami dapati sedang berada di pintu keluar KA. Banyak orang berjualan di sisi kanan dan kiri pintu ini. Di depannya tempat parkir sepeda motor. Agak ke depan rupanya terminal sementara.  Banyak angkutan kota mangkal di situ. Kata abi, itu lin DPL. Angkot itu menuju ke terminal Landungsari. Dari Landungsari, ada lin lagi menuju ke Dau. 

Enji minta dibelikan Roti ‘O. Kami langsung menuju ke counter-nya. Ada dua pembeli di depanku. Ternyata mereka hanya membeli minuman. Penjaga stand segera meresponku.

“Roti 3, mas,” pintaku sambil kuulurkan 3 lembar uang puluhan ribu dan selembar 5 ribuan. Aku sudah melirik harga yang terpampang. Per bijinya 11 ribu rupiah. 

Dia mengangguk. Menerima uangku dan memasukkan ke tempatnya. Dengan cekatan dibukanya kantung kertas berwarna kuning dan memasukkan satu demi satu roti ke masing-masing kantung. Ia mengarahkan kantung-kantung tersebut ke arahku. Kemudian dia memberikan uang dua ribuan sebagai kembalian uangku. 

Raut muka Enji tampak sumringah. Diambilnya satu kantung, dibuka, dan dicicipinya roti berbau khas tersebut. Abi segera mengajak kami makan siang. Kami menyebrang dan menemukan banyak pilihan warung makanan. Ada yang duduk di kursi aluminium memanjang, ada juga yang lesehan. Aku memilih lesehan. Santai. Kami duduk di atas karpet berwarna merah. Berhiaskan daun dan bunga-bunga kecil yang jatuh dari pohonnya. Lesehan sebelah kini sudah dipenuhi banyak pengunjung. Ada para mahasiswa, ada pekerja kantoran, barangkali ada yang seperti kami, para musafir. 

Di depan atau di belakang tempat duduk lesehan yang digelari karpet ini ada play ground. Kulihat beberapa anak bermain-main jungkat-jungkit, ayunan, prosotan, dan lainnya. Di sisi lain, tampak orang tua mereka mengawasi. Enji segera membisikiku kalau setelah makan akan ikut main ayunan. Aku mengiyakan saja. 

Hemmm... makan apa ya? batinku. Banyak pilihan semakin membingungkan. Ada nasi rawon, soto, pecel, ikan bakar, asem-asem iga. Buanyak pokoknya. Enji sudah  memesan nasi dan mujair goreng. Abi lebih memilih tempe penyet dan telur sepertinya. Aku tidak tahu pasti karena ia memesan di tempat yang terpisah dengan kami. Setelah kutimbang-timbang, akhirnya aku malah memilih rawon. Aku ini sangat tidak kreatif dengan makanan. Sepertinya kemana pun perginya, kembalinya selalu ke nasi rawon. Entahlah .... 

Sambil menunggu, Enji menghabiskan Roti ‘O. Matanya mengerjap-kerjap indah. Bungsuku ini selalu ceria. Setelah roti habis disantapnya, dikeluarkanlah sebungkus nori yang dibawanya dari rumah. Rencananya, ia akan membungkus nasi yang dipesannya dengan nori, mencocolnya dengan sambal, memakannya bersama mujair yang garing dan gurih. 

Makanan yang kami pesan akhirnya datang juga. Abi segera melahap nasi pesanannya. Pun dengan Enji. Mujairnya ok. Sambal di atas cobek kecilnya juga lumayan. Rawonku datang yang paling akhir. Walaah... ternyata dari penampilannya, rawonku kurang menarik. Aku tersenyum kecut. Sebagai pecinta rawon aku bisa membedakan mana rawon yang enak dan tidak. Sepertinya ini termasuk yang kedua. Warnanya kurang hitam. Kurang panas juga. Kulihat tidak ada kepulan asap panas di atas nasinya. Aku sedikit kecewa tapi bagaimana lagi sudah kupesan. Aku harus bertanggung jawab. 

“Kenapa, Mik?” tanya abi sambil menyelidiki mimik mukaku.

“Gak pa pa,” jawabku sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut. 

“Gak enak ya?” tanya abi lagi. Kali ini ia sedikit berbisik. 

“Heem....,” kataku tak kalah pelannya. Takut terdengar sang penjual. 

Sementara itu kulihat Enji dengan santainya menikmati mujairnya. Mencocolkan ke sambal. Abi malah sampai berkeringat menikmati tempe penyetnya. 

“Umik mau?” tanya Enji sambil membawa sekepal nasi dan mujair. 

Aku segera menggeleng, tersenyum, dan kembali ke nasi rawonku. Harus kuhabiskan.
Abi mengakhiri makannya dengan bersendawa. Enji masih menyisakan sedikit nasi, mengeluarkan nori dan membungkus nasi dengannya. Memasukkan ke mulutnya. 

***
“Mik, gak pengin coba naik lyn itu ta?” tanya abi sambil mengarahkan telunjuknya ke angkot berwarna biru putih. 

“Iya, Mik. Ayo mik,” ajak Enji. Ia paling suka kalau diajak keluyuran. 

“Turun di..?” tanyaku kemudian. 

“UMM,” kata abi kemudian, “ Dari UMM kita nge-Grab, “ 

“Oke,” jawabku santai. Sudah lama juga aku tidak mbolang. 

Abi segera menuju ke salah satu sopir yang ngetem. Ia memastikan bisa turun di UMM. Sopir mengiyakan dan meminta kami bertiga masuk ke angkot. Segera ia menghidupkan mesin dan angkot melaju dengan sempurna. Karena penumpangnya hanya kami bertiga, Enji bisa leluasa memainkan HP. Memotret kami berdua, selfie bertiga, dan membuat video dengan aplikasi Snow-nya. 

Aku menikmati suasana kota Malang di siang bolong. Jalan-jalan rapi dan indah. Apalagi ketika melewati jalan Ijen boulevard. Wah...mataku serasa dimanjakan. Jalan Ijen adalah jalan kembar yang dipisahkan oleh taman bunga dengan rumput hijau yang segar. Adem. Di sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi pohon palem yang kokoh. Trotoar yang lapang cukup memanjakan pejalan kaki. Kursi-kursi cantik disediakan bagi pengguna jalan. Di sepanjang jalan kulihat banyak orang memanfaatkan kursi taman tersebut. Ada yang duduk berdua, ada yang sedang memainkan hapenya, memutar musik, ada yang tiduran. 

Ijen dikenal juga sebagai kawasan wisata sejarah karena banyak bangunan kuno peninggalan Belanda masih tersisa di sana. Salah satunya yang sempat kulihat adalah perpustakaan kota Malang. Ada lagi ternyata, gereja tua. Kawasan ini menyimpan spot bagus untuk berfoto. Banyak rumah-rumah kuno ala Belanda yang sekarang peruntukannya berubah sebagai guest house bagi para wisatawan. 

Pak sopir mengingatkan sebentar lagi kami akan sampai di terminal. Kami harus berjalan beberapa meter untuk sampai di UMM. Sebelum ke UMM, kami mampir untuk menunaikan salat Asar. Aku sendiri sedang berhalangan sehingga harus menunggu abi dan Enji salat. Kami salat di mushola yang tempatnya pas di pintu masuk terminal. Tempat salat untuk akhwat ada di lantai 2. Jadi, aku mengantar Enji ke atas.  
Setelah selesai salat, kami semua melanjutkan perjalanan ke pondok dengan Grab.