<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404</id><updated>2011-12-30T03:17:01.367+07:00</updated><category term='resensi'/><category term='catatan harian'/><category term='renungan'/><category term='opini'/><category term='Cerpen'/><category term='opensource'/><category term='puisi'/><category term='cerbung'/><title type='text'>herna's life</title><subtitle type='html'>catatan pribadi herna</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-3576097604317969544</id><published>2009-03-04T13:40:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T13:43:49.059+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Ba’da sholat lail</title><content type='html'>Kupandangi satu demi satu malaikat kecilku. Benar kata suami, anak-anak makin besar. Makin panjang (karena mereka sedang tidur ketika tulisan ini kubuat). Bita dengan pakaian khususnya ketika tidur, beberapa helai rambutnya yang panjang hitam berkibar-kibar kecil ditimpa hembusan angin dari kipas angin. Lengan dan kaki Safir yang semakin kokoh, menyokong tubuh sang pejantan tangguh yang sangat mencintai sang bunda. Ah, Salman yang tidak bisa besar badannya karena tidak suka makan nasi. Ia hanya mengkonsumsi susu secara berlebihan dan ikan laut tanpa nasi. Enjie yang semakin menggantung kedua buah pipi tembemnya. Kakinya semakin kuat menyokong tubuh yang mengikuti sunnahtullahnya untuk berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya fisik. Alhamdulillah, Bita semakin pintar mengajinya, asmaul husnanya semakin oke, Safir semakin bagus tulisan tangannya (hal yang sulit kupercaya karena begitu kinestetisnya dia), Salman semakin oke motoriknya, kemampuan bahasanya semakin meningkat (sudah bisa menyanyikan lagu-lagu Iqro’ walau beberapa huruf hijaiyah yang diucapkan masih sekedar menirukan dan cadel),  Enjie yang suka mengerak-gerakkan tangannya, menaikturunkan badannya ketika ada suara musik dan nyanyian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang remaja menarik perhatianku. Dendi, anak yang dititipkan Allah kepadaku. Mengapa aku tak mampu meraih hatinya. Khas remajakah? Atau ada yang salah dalam diriku sehingga merajukku untuk belajar menjadi orang tua bagi anak remaja seusianya.  Beberapa kali upaya pemberontakan,  namun beberapa kali pula hati tetaplah terpaut. Ah, hidup begitu indahnya dengan selaksa peristiwa. Jatuh bangun, canda tawa dan air mata mengiringi hari seperti matahari yang tak pernah alpa janji pada sang pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuberalih pada sosok laki-laki dewasa yang baru saja menyapaku dengan sapaan khasnya menjelang tidur. Hari ini Abi, begitu anak-anak memanggil,  harus pulang larut karena ada acara kantor. Konsekuensinya, aku harus naik kendaraan umum. Beberapa sms cantik kukirim untuk mengusir kejenuhan dan menyalurkan energi rindu pada sang kekasih. Begitulah, aku harus mengawalnya dengan kalimat-kalimat pendek nan manis agar lelah tak memakan tubuh dan pikiranya. Segera saja hp kami dipenuhi cinta merah jambu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia tertidur dengan waktu telah memakan energinya hingga lelah tampak di wajahnya. Tapi begitulah, tangan kokoh dan hati seluas samuderanya selalu tak lekang dimakan waktu. I love U.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya sungguh harta yang tak ternilai harganya. Amanah yang selalu mengingatkanku, mengerakkan langkah kaki dan hatiku untuk selalu berjalan di jalan yang lurus. Allah, jagalah keluargaku dari hal-hal yang membahayakan kami dan berikanlah penjagaanmu yang sempurna. Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-3576097604317969544?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/3576097604317969544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=3576097604317969544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3576097604317969544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3576097604317969544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2009/03/bada-sholat-lail.html' title='Ba’da sholat lail'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-8147861170363971284</id><published>2009-02-20T15:06:00.000+07:00</published><updated>2009-02-20T15:08:03.563+07:00</updated><title type='text'>Perempuan Berkalung Surban</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CITO, 12.45. Itu artinya, kami terlambat 15 menit dari jam tayang yang dijadwalkan. &lt;br /&gt;Seorang teman terpaksa tidak bisa masuk karena STNKnya ketinggalan. Benar saja, sesampai di loket film yang kami incar sudah main 15 menit yang lalu. Tak apa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Berkalung Surban. Sebuah simbolisme yang menarik. Surban mewakili gender laki-laki. Bisa diartikan seorang perempuan seperkasa laki-laki. Atau bisa jadi perempuan di bawah kendali laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti scene demi scene jelaslah bahwa film ini memihak perempuan. Annisa, anak seorang kyai sebuah pesantren di Jawa yang memiliki cita-cita tinggi. Jatuh cinta pada seorang kerabat jauh yang dipanggil lek Chudori, seorang pemuda lulusan Cairo. Selepas SMU  secara diam-diam ia mengirim surat lamaran beasiswa ke sebuah Perguruan Tinggi di Jogya dan Kairo, Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih ke Kairo, keinginan ini terpaksa sirna karena budaya pesantren yang mengukung hidup perempuan. Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena surga bisa didapat dari tunduk patuh pada suami. Melayani suami dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Annisa dinikahkan dengan seorang anak kyai, Samsudin—yang kelak diketahui banyak membantu &lt;br /&gt;jalannya roda pesantren ayahnya namun dengan niat terselubung: menikahkan anaknya yang berandal agar segera berhenti keberandalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 tahun kemudian diceritakan bahwa kehidupan Annisa benar-benar hanya berkumpar antara dapur, kasur, dan sumur. Pun,  ia mengalami apa yang banyak ditakutkan perempuan: KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Tidak jarang tangan melayang, kaki menendang. Bahkan untuk urusan ranjang sekalipun, ia tidak kuasa menolak karena hadist-hadist yang mengutuk perempuan yang menolak suaminya segera meluncur dari mulut laki-laki biadab ini. Hingga suatu saat Annisa merasa sudah tidak tahan. Ia meraih belati dan mengancam membunuh Samsudin. (Sampai disini saya segera teringat dengan novel Khaled Hussein, A thousand Splendid Sun) Ketika ia memutuskan untuk meninggalkannya, Samsudin segera meminta ampun dan menyembahnya. Annisa menyerah karena Samsudin telah tobat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama merasakan kebebasan dari  belenggu laki-laki, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Samsudin menghamili seorang perempuan dan harus menikahinya karena agama mengijinkan laki-laki mengawini 4 orang perempuan . Konflik batin terjadi lagi karena ternyata Samsudin menempatkan istri muda ini serumah dengannya. Nyaris, ia jadi pembantu. Ia harus merawat bayi madunya sementara perempuan itu sedang bermesraan dengan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit Kebebasan &lt;br /&gt;Kebebasan, sebuah kata impian bagi Annisa. Maka tatkala ia bertemu dengan lelaki dari masa lalunya, lek Chudori, ia tumpahkan semuanya. Bahkan ia merelakan dirinya dizinahi agar segera terbebas dari belenggu Samsudin. Ibarat nabi Yusuf bertemu Zulaikha, Chudori menolak solusi yang tidak solutif tersebut. Terlambat, Samsudin menemukan keduanya dan meneriakkan rajam sebagai hukuman para pezina.  Untunglah kehadiran sang ibu membatalkan hukuman tersebut. Singkat cerita, Samsudin menceraikan Annisa. Ia segera menyongsong kebebasannya dan menjemput impian di Jogya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana ia bertemu dengan teman lamanya yang telah menjadi seorang mahasiswi. Ia dihadapkan bahwa kebebasan yang lain, dunia mahasiswa yang bebas tanpa batas. Bahkan kehidupan seksual yang suci dicederai dengan fenomena free seks. Apakah kebebasan seperti ini yang dicarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman KDRT dalam rumah tangga Annisa membawanya pada sebuah Women Crisis Center, sebuah lembaga advokasi perempuan. Ia terjun secara aktif melakukan advokasi pada perempuan yang kurang beruntung dalam berumah tangga. Disamping itu, ia juga melemparkan wacana kebebasan kepada pesantren tradisional ayahnya yang diwariskan pada kakak laki-lakinya yang masih menganut paham patriarkhi. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dari sini bisa kita lihat keperkasaan Annisa sebagai perempuan. Pernikahannya dengan Chudori membuahkan seorang anak yang terpaksa menjadi yatim karena ayahnya meninggal karena kecelakaan. Annisa berduka. Tapi kemudian ia bangkit dan berjuang menyembuhkan sang luka dengan mewujudkan impiannya bagi para anak perempuan: kebebasan dalam menentukan kehidupan, menuntut ilmu dan meraih cita. Bukan kebebasan yang kebablasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan kepercayaan diri yang dalam dibuangnya sang surban pengalung lehernya: dominasi laki-laki dalam hidupnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-8147861170363971284?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/8147861170363971284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=8147861170363971284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8147861170363971284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8147861170363971284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2009/02/perempuan-berkalung-surban.html' title='Perempuan Berkalung Surban'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-5601004180650851910</id><published>2008-10-30T22:36:00.002+07:00</published><updated>2008-10-30T22:41:42.432+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Maman Sang Zoologist</title><content type='html'>Lain Safir lain Salman. Kalau Safirku begitu kinestesis maka Salman adalah sang pengamat kehidupan, hewan khususnya. Tidak kurang dari semut, nyamuk, belalang, kupu-kupu pernah jadi objek penelitiannya. Anehnya, hewan-hewan ini dengan mudah ditangkap Maman. Entah lem apa yang ada di tangannya sehingga ia dengan mudah menangkap semut, nyamuk, belalang, dan kupu-kupu. Pernah dalam satu hari ia mampu menangkap 4-5 belalang. Binatang tersebut kemudian dipelihara dalam sebuah keranjang plastik. Kemudian Maman akan memberinya makan dedaunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Maman masih belum paham akan keselamatan hewan maka tak jarang belalang tersebut terjepit penutup keranjang. Kalau sudah begitu maka aku yang cerewet memaksanya melepas peliharaannya itu. Daripada menyiksa binatang, kan dosa. Seperti biasa, ia akan menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu terakhir ini ia sedang menggeluti (dalam arti yang sesungguhnya) binatang yang lebih besar. Kucing. Mulanya ada seekor anak kucing yang masuk ke halaman rumah. Suara meongnya menarik perhatian Maman. Tidak lama kemudian ia sudah mengajaknya bicara, memberinya makan, dan  tak lupa menentengnya kemana-mana. Tentu saja bersama teman-teman sebayanya. Ada sekitar 4-5 anak seusianya yang asyik dengan binatang ini. Padahal kucing tersebut kotor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking jengkelnya aku pernah coba membuang kucing tersebut ke sawah di seberang perumahan namun ia kembali. Gak tanggung-tanggung, ia bawa tiga saudaranya. Jadilah sekarang ada empat anak kucing yang mewarnai kehidupan Maman dan teman-temannya. Dan Maman sangat piawai menggendongnya,  Ia bahkan tidak takut dicakar. Pernah sih ia merasakan dicakar kucing tapi dasar Maman, menangis sebentar kemudian kembali asyik dengan kucingnya.  Tentu saja, ia semakin jarang di rumah karena sang kucing berlari-lari di sepanjang jalan perumahan. Dan seperti di iklan-iklan di TV, ia akan pulang dengan baju dan badan yang kotor.  Sering ia pulang menangis karena tercebur got.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di suatu hari Safir ingin dibelikan kura-kura,  aku merasa itu momen yang sangat pas untuk mengalihkan perhatian Maman dari kucing.  Segera kubelikan kura-kura dan benar saja. Kura-kura menarik minat zoologist tampan itu. Hari berikutnya kulengkapi dengan ikan-ikan mungil dan kutaruh dalam aquafil, semacam aquarium mini berbentuk toples. Tentu saja sang zoologist itu tidak puas sekedar melihat sang ikan maka tangan-tangan mungilnya segera meraup ikan-ikan di dalam toples itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman, ummi berdoa semoga engkau menjadi zoologist yang sholeh... amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-5601004180650851910?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/5601004180650851910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=5601004180650851910' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5601004180650851910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5601004180650851910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/10/maman-sang-zoologist-lain-safir-lain.html' title='Maman Sang Zoologist'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-5694810960461738344</id><published>2008-10-30T22:33:00.000+07:00</published><updated>2008-10-30T22:36:07.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Safir Jadi Imam</title><content type='html'>“Mi, apa kalau sudah tua kita mati?” tanya Safir menjelang tidur malam. Tak seperti biasa, ia ingin tidur bersamaku.&lt;br /&gt;“Ya,” jawabku pendek. &lt;br /&gt;“Kenapa mas Safir tanya hal itu?” tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;“Tadi di sekolahku ada orang mati, Mi. Apa kalau mati dikubur, Mi?Kenapa dikubur, Mi?”&lt;br /&gt;Belum sempat aku menerangkannya, si Jabrik ini bertanya kembali, “Mi, kalau ada anjing laut, apa ada harimau laut? Monyet laut, kelinci laut?” Jadilah malam itu kubangun komunikasi dengannya, malaikat kecilku yang penuh rasa ingin tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti kakaknya, anak nomor duaku itu sangat kinestetis. Dalam beberapa hal, ia cenderung destruktif.Tangan dan kakinya tidak pernah diam. Tidak jarang mereka makan korban. Setiap benda yang di dekatnya akan menderita. Mainan, contohnya. Tidak ada satu pun mainannya yang utuh. Selalu cacat. Baik itu mobil-mobilan (hilang roda, yang sering), robot (tangan, kaki, kepala sering terpisah dari badan),  tembak (hilang bunyi, patah), puzzle apalagi. Adiknya yang makhluk hidup pun tidak jarang terkena imbasnya. Karena sekarang Maman sudah besar, maka ia akan melawan. Terjadilah pertempuran sengit dua pejantan tangguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku sangat desperate karena ulah si Jabrik itu. Aku begitu menyerah seolah-olah Safir memang tak bisa dikendalikan. Sampai aku membaca artikel parenting tulisan ust. Ahmad.  Kalau anak nakal, orang tua cenderung mengatakan anaknya memang nakal. Padahal tidak seharusnya seperti itu. Justru di anak itulah universitas kehidupan berlangsung. Ortu harus tertantang mempelajari anaknya, mengapa anaknya sampai seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara pandang seperti itu aku merasa lebih ringan. Aku jadi sering mengamati tingkah pola anakku, terutama si Jabrik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azan Maghrib mengantar kedatangan kami ke rumah. Seperti biasa kubentangkan tangan tuk memeluk  malaikat-malaikat kecil itu. Momen yang sangat kurindukan ketika kerja.&lt;br /&gt;“Mi, aku yang mimpin sholat Maghrib ya?” pinta Safir mengejutkanku. Biasanya, ia yang paling susah diajak sholat. &lt;br /&gt;“Oke, pren!” kataku sambil mengacungkan dua jempol.&lt;br /&gt;Ketika aku sudah siap maka Safir segera memulai sholatnya. Mengalir dengan lancar dari lisannya Surat Al fatehah, An-Nas di rakaat pertama, Al-Falaq di rakaat kedua dan Al Kautsar di rakaat ketiga.  &lt;br /&gt;Duh Gusti ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-5694810960461738344?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/5694810960461738344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=5694810960461738344' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5694810960461738344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5694810960461738344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/10/safir-jadi-imam.html' title='Safir Jadi Imam'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-2755655624551354851</id><published>2008-10-25T02:11:00.001+07:00</published><updated>2008-10-25T02:14:11.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?</title><content type='html'>Tiba-tiba saja aku harus menangis di depan cermin ini. Aktifitas yang biasanya hanya butuh waktu tak kurang dari 2-3 detik kini harus kulakukan dengan kerja keras, menguras keringat dan air mata tentunya. Aku tak bisa mengaitkan peniti di jilbabku. Kesepuluh jari tanganku serasa tebal dan rasanya seperti kesemutan. Begini rasanya kalau Allah mencabut salah satu nikmatnya. Subhanallah. Hari itu aku harus terlambat sampai 14 menit. Itupun atas saran suami,  aku harus mengaitkan peniti di jilbabku sebelum mengenakannya. Mengapa tak kupikirkan sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir seminggu ternyata aku mengeluh kesemutan menetap. Mulanya aku merasa masuk angin, mual, pusing dan berkeringat dingin. Aku sudah pijat, kerokan, minum obat (hal yang paling aku tidak suka) namun masuk angin itu tak kunjung hilang.  Terakhir semua jariku serasa tebal. Mau apa-apa jadi tidak enak. Mau makan pakai jari nggak bisa. Memasang kancing pada lobangnya juga kesulitan, memotong kuku pun aku tak mampu. Mengajar juga susah, baru menuliskan 11 nomor latihan grammar untuk anak-anak, sudah kaku semua. Mau sms nggak bisa, apalagi mengetik yang merupakan kebutuhan utamaku sebagai guru. Padahal pada saat itu aku punya hutang menulis untuk seorang teman.  Duh Gusti, ampuni hamba jikalau tangan ini pernah hamba gunakan tidak semestinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpositif thinking saja, paling-paling kalau sudah beraktifitas penuh akan hilang dengan sendirinya. Sampai aku merasa tidak kuat dan menceritakan kepada seorang teman di tempat kerja. Kebetulan ia baru sembuh dari penyakit yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ia berobat pada seorang  kenalan yang berprofesi sebagai akupuntur. Segera saja ia merekomendasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sepulang kerja aku menuju ke tempatnya berpraktek bersama suami. Menurutnya peredaran darahku yang kurang lancar plus magh kambuh. Minum air putih hangat yang banyak, katanya. Ia membekaliku dengan kapsul yang dengan terpaksa aku konsumsi. Lalu, mulailah aku menggelontor tubuhku dengan air putih. Makan yang banyak, istirahat yang cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tulisan ini kubuat, jari manis dan kelingking di kedua tanganku sudah berfungsi normal. Tinggal ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah di masing-masing tanganku yang masih terasa tebal.  Aku sudah mampu mengetik meski sedikit memaksa jari-jari tersebut.  Aku harus bisa! Alhamdulillah. Aku juga sudah bisa mengancingkan lengan baju meski untuk mengaitkan peniti di jilbab masih terasa sukar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benarlah salah satu ayat dalam Al qur'an. Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-2755655624551354851?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/2755655624551354851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=2755655624551354851' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2755655624551354851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2755655624551354851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/10/maka-nikmat-tuhan-manakah-yang-engkau.html' title='Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-8069335672873450654</id><published>2008-09-21T06:05:00.000+07:00</published><updated>2008-09-21T06:06:40.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Perempuan, IT,   dan Pergeseran Budaya</title><content type='html'>Kalau Anda sempat membaca buku The Girls of Ryadh karya Rajaa Al Sanea, terbitan Ufuk Publisihing House (Desember 2007)  maka anda akan sedikit tercengang karena di dalamnya tersebar fakta tentang perempuan dan pergeseran budaya. Buku yang mengklaim dirinya sebagai internasional bestseller ini versi aslinya diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi karena isinya yang menghebohkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menceritakan tentang seorang tak dikenal yang setiap minggu—setelah sholat Jum’at--  mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup on line di Saudi Arabia. Email-email tersebut berisikan kisah nyata kehidupan empat sekawan gadis Ryadh: Qamran, Michelle, Shedim, dan Lumais.  Email-emailnya sangat dinanti publik karena berisi kisah-kisah yang cukup kontroversial dengan budaya ketimuran mereka. Mayoritas tentang relasi lawan jenis yang tanpa tedeng aling-aling dikupas secara terbuka. Sebuah topik yang cukup menggemaskan untuk dibicarakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media baru yang bisa menjadi sebuah life style baru bagi generasi muda muslim di Arab sana.  Simaklah apa yang dikatakan Lumeis: Internet hanyalah media untuk tertawa dan menemukan banyak hiburan.  Ini adalah satu-satunya wilayah anak muda yang aman dari pengawasan petugas Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Internet menjadi pilihan karena pertemuan di alam nyata dilarang oleh undang-undang dan nilai sosial. (hal 249) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Internet telah menjadi bagian hidup manusia modern. Email, chatting,  friendster, dan blog hanyalah sebagian kecil dari dunia maya tersebut. Maka, fenomena tersebut harus dilihat dari dua sisi. Di satu sisi,  kemajuan tehnologi telah membawa angin perubahan pada zona budaya. Tampak jelas adalah bagaimana kita sekarang bisa mengakses segala hal dalam waktu singkat. Apa yang terjadi di belahan bumi yang lain bisa kita terima dalam detik yang sama dengan di dunia barat. Tak terkecuali perempuan muda-terdidik, sebagaimana yang terjadi di Arab Saudi.  Kehadiran IT menjadikan dunia ini tak berbatas ruang dan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, kemajuan dunia IT ternyata juga bisa digunakan sebagai propaganda Barat dalam menyerang Islam. Bagaimanapun juga, media dipercaya sebagai aset terbesar dalam menyebarluaskan paham tertentu. Bahkan karena ada ruang yang hilang, bisa jadi hilang juga pranata sosial yang mengiringinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah pentingnya, perempuan merupakan makanan empuk dalam hal ini. Lihat bagaimana anda bisa mengakses gambar-gambar/pesan-pesan porno di hp,  dan situs-situs internet dengan mudah. Bagaimana iklan yang merupakan produk kapitalisme begitu menjerat perempuan. Pencitraan terhadap kecantikan yang salah kaprah, gaya hidup yang dibawa oleh para trend setter bisa dengan mudah kita temui bahkan telah memasuki  ranah paling pribadi, ruang tidur kita. Ya, televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak sama persis, tapi novel The Princess, masih terbitan Ufuk (2007) karya Jean P. Season  juga menyoroti budaya Arab yang banyak mengungkung perempuan. Novel ini ditulis oleh orang non muslim yang kebetulan punya sahabat seorang putri kerajaan Saudi, Sultana’s daughhter. Novel ini segera menjadi best seller karena sebagian besar isinya  mengupas kehidupan putri kerajaan yang notabene muslimah dengan keterkungkungannya. Sebuah potret perempuan Arab yang biasanya selalu diidentikkan dengan Islam. Saking terkungkungnya mereka, sampai-sampai mereka harus menjalani back street untuk berhubungan dengan lawan jenis.  Parahnya, di bagian ini juga dikupas bagaimana mereka mengadopsi life style barat yang cenderung bebas tanpa batas, termasuk dalam sexual behaviour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim, kita harus sadar melihat kenyataan ini.  Kita harus mewaspadai buku-buku yang sepertinya isinya Islami (karena judul dan covernya mengenakan identitas Islam)  namun kenyataannya justru jauh dari nilai-nilai Islam. Bagaimana bisa dikatakan novel Islami jika isinya penuh dengan budaya Barat yang notabene serba terbuka. Berhati-hatikah karena Barat telah menggencarkan serangannya. Lewat pemikiran tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini di Jerman telah digulirkan kampanye menentang Islam (radikal) dalam bentuk komik Andy. Komik bergambar ini menceritakan seorang pemuda Jerman bernama Andy yang mempunyai pacar seorang muslimah berjilbab bernama Aishee. Mereka digambarkan bergandengan berdua dan ingin menyelematkan kakak Aishee yang bergabung dengan Islam militan.  Dan komik ini disebarluaskan di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Jerman sebagai upaya negeri ini memproteksi generasi mudanya dari sikap militan Islam. Menurut pembuatnya, komik ini tidak ditujukan memusuhi Islam tapi hanya untuk memberikan wawasan kepada anak-anak Jerman tentang Islam yang radikal dan yang cinta damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, media-media semacam inilah sekarang yang sedang  mengancam Islam. Bisa jadi ini merupakan tahap peperangan selanjutnya karena melalui konflik bersenjata,  Barat yang mula-mula memenangkan pertempuran akhirnya mengalami kekalahan.  (baca: Perang Salib karya Carole Hillenbrand, 2006) Dan siapa yang akan rela jika mengalami kekalahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan Barat dalam perang salib jangan sampai membuat kita terlena karena ternyata mereka telah menyiapkan strategi selanjutnya. Mereka menggempur Islam dengan kekuatan ekonominya. Barangkali kita tidak bisa berbicara banyak kalau sudah berhubungan dengan bidang yang satu ini karena Islam sangat identik dengan Negara dunia ketiga. Sekumpulan minoritas di belahan bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal ini, Rudolf H Strahm dalam buku Yang Berlimpah Dan Yang Merana (1983) memberikan data yang cukup menyesakkan.  Ia menyebut kondisi ini  sebagai sistem ekonomi penghisapan. Penghisapan dari Dunia kesatu terhadap dunia ketiga. Disebutkan bahwa 30 % penduduk dunia yang hidup di dunia kesatu menguasai dan menikmati 82% sumber daya dunia yang ada. (hal viii)  Meskipun ini buku lama, data empiris ini cukup menunjukkan kepincangan  yang tajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomis mungkin kita kalah. Namun masih (selalu ada) ruang yang bisa diperjuangkan. Sebagai seorang muslim, kita harus mengambil bagian dalam concern ini. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-8069335672873450654?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/8069335672873450654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=8069335672873450654' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8069335672873450654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8069335672873450654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/09/perempuan-it-dan-pergeseran-budaya.html' title='Perempuan, IT,   dan Pergeseran Budaya'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-1634172673913477779</id><published>2008-09-20T23:15:00.000+07:00</published><updated>2008-09-20T23:18:42.001+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Pandang Bahagia dengan Cara Berbeda</title><content type='html'>Judul Buku: Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan&lt;br /&gt;Penulis: Awang Surya&lt;br /&gt;Penerbit: Kanzun Books&lt;br /&gt;Cetakan: I, Agustus 2008&lt;br /&gt;Tebal: 204 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat industri modern seperti saat ini, keberhasilan lebih dinilai dengan pencapaian materi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat membawa  segala bentuk kemudahan bagi manusia. Secara ekonomi, masyarakat semakin kaya, segala sesuatu mudah didapat, urusan lancar dan teratur. Namun, apakah segala bentuk kemudahan tersebut membekaskan kebahagiaan kepada masyarakatnya? Belum tentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man mengkritisi bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Mengapa? Karena segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan saja. Yakni keberlangsungan dan peningkatan sistem yang sudah ada yang tidak lain adalah kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta memang menunjukkan adanya tingkat produktifitas tinggi membawa peningkatan taraf hidup bagi semakin banyak orang. Namun itu semua pada dasarnya hanya bagian luar saja dari sebuah keberhasilan karena menurut Marcuse, hal tersebut belum menyangkut hakekat kehidupan manusia seutuhnya. Masyarakat industri modern tetap merupakan masyarakat yang teralienasi karena mengasingkan manusia-manusia yang menjadi warganya dari kemanusiaannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan fakta di atas,  Erich Fromm dalam bukunya Masyarakat Yang Sehat menyajikan data bahwa negara-negara Eropa yang paling demokratis, kaya, serta Amerika Serikat sebagai negara terkaya di dunia justru menunjukkan simpton gangguan mental paling berat. Kemakmuran hidup di kelas menengah, meskipun kebutuhan material terpuaskan ternyata mewariskan rasa bosan yang mendalam sehingga bunuh diri dan alkoholisme merupakan cara-cara patologis untuk lari dari kebosanan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal di atas bisa disimpulkan bahwa kekayaan tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan.   Meski itu tidak berarti kita tidak boleh kaya. Tidak ada yang melarang orang untuk menjadi kaya. Dampak dari kekayaan itulah yang harus dicermati. Apakah ia akan membawa pemiliknya ke arah yang positif atau bahkan sebaliknya. &lt;br /&gt;Sejalan dengan itu Awang Surya meluncurkan buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan ini. Buku  yang akan mengajak kita kembali menengok sisi kemanusiaan kita. Sebuah sisi yang mungkin saja terlupakan karena padatnya jam kerja, berjubelnya agenda, dan kompleksitas permasalahan yang harus kita selesaikan.  Buku yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana memandang hidup dengan cara berbeda. Buku yang akan mengajak kita mengapresiasi kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang juga seorang trainer ini  mendekonstruksi pandangan kita tentang arti bahagia. Bahwa kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak kekayaan kita. Kemudian, ia  menunjukkan kita jalan menuju kebahagiaan itu sendiri. Ternyata tidak sesulit dan serumit yang kita  bayangkan sebelumnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuliskan gagasannya dengan bahasa sederhana, lugas, dan populer sehingga memudahkan pembaca mencerna setiap mutiara kehidupan yang disharingkannya. Contoh-contoh yang menyertai setiap paparan begitu dekat dengan kehidupan kita karena memang  berangkat dari kenyataan di lapangan.  Beragamnya kisah-kisah penuh hikmah di dalamnya memperkaya asupan gizi bagi batin kita, jiwa kita yang gersang di tengah arus hedonis-materialis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak Cara Menuju Bahagia&lt;br /&gt;Banyak jalan menuju Roma. Pun, banyak cara menuju bahagia. Setidaknya ada lima jurus ampuh yang ditawarkan kepada pembaca untuk dicoba.  Dilengkapi dengan latihan-latihan di akhir setiap jurus memudahkan pembaca dalam mempraktekkannya. Kelima jurus tersebut adalah bersyukur, banyak memberi, cinta sesama, tersenyum dan senang memaafkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat kita. Maka, penulis yang juga Vice President  sebuah perusahaan besar di Indonesia ini menambahkan kata aktif di belakang kata syukur. Artinya, bersyukur tidak hanya berhenti pada tataran ucapan melainkan diteruskan pada tindakan aktif.  Contoh sederhana ketika kita diterima bekerja di tempat yang kita idam-idamkan maka syukur aktif kita adalah bekerja dengan sungguh-sungguh agar  perusahaan tempat kita bekerja tersebut untung sehingga banyak membantu orang. (hal 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus kedua, banyak memberi. Sekali lagi, tindakan aktif. Di sini, penulis memberi ilustri yang cukup menarik bahwa ketika kita memberi pada dasarnya kita telah membuka ruang untuk masuknya sesuatu yang baru. Namun ia juga mengingatkan agar kita memberi lalu lupakan. Hal ini bertujuan agar kita tidak menghitung-hitung kebaikan yang telah kita lakukan karena belum tentu apa-apa yang sudah kita lakukan itu diterimaNya. Allah tidak akan tidur dan lupa meski yang telah kita lakukan itu hal yang sangat kecil sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus selanjutnya adalah mencintai sesama, tersenyum, dan senang memaafkan. Ketiganya adalah jurus ampuh dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk sosial. Bukankah kita akan bahagia jika mampu mencintai sesama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita jeli ternyata jurus-jurus tersebut merupakan muara  dari kebesaran jiwa. Tidak perlu harta membeli kebahagiaan. Tidak perlu menunggu kaya untuk bahagia. Cukup buka hati dan  lapang dada untuk mempraktekkan kelima jurus tersebut. Sesungguhnya kelima jurus di atas adalah perwujudan hablumminallah dan hablumminannas kita. Bagaimana kita memaknai syukur yang sesungguhnya. Bagaimana kita mengelola emosi kita ketika bersosialisasi dengan sesama agar setiap aktifitas yang kita lakukan memendarkan energi positif tidak saja kepada diri pribadi melainkan juga lingkungan di sekitar kita. Dengan kata lain, kelima jurus di atas adalah jalan ruhani menuju kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Selamat berburu kebahagiaan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-1634172673913477779?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/1634172673913477779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=1634172673913477779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1634172673913477779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1634172673913477779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/09/pandang-bahagia-dengan-cara-berbeda.html' title='Pandang Bahagia dengan Cara Berbeda'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-4635292072633014519</id><published>2008-06-25T05:11:00.000+07:00</published><updated>2008-06-25T05:12:06.505+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Mamanku cemburu</title><content type='html'>Apa yang engkau rasakan sayang&lt;br /&gt;Hingga menarik diri dari ummi&lt;br /&gt;Atau menyerang ummi dengan raungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi tahu engkau cemburu&lt;br /&gt;Pada enji, adik kecilmu itu&lt;br /&gt;Tapi ummi percaya cemburumu&lt;br /&gt;Karena berlebihannya cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamanku cemburu&lt;br /&gt;Ummi tahu itu&lt;br /&gt;Ah, betapa inginnya ummi merengkuh&lt;br /&gt;Kalian berempat dengan tanganku&lt;br /&gt;Namun mungilnya enji&lt;br /&gt;Membuat ummi menyerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hati ummi tempat kalian berlabuh&lt;br /&gt;Dan jiwa ummi tempat kalian berteduh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamanku cemburu&lt;br /&gt;Lepaskan perasaan itu &lt;br /&gt;Karna di situ dikau belajar kelola emosimu&lt;br /&gt;Dan ummi-abi belajar banyak darimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love u&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June, 20 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-4635292072633014519?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/4635292072633014519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=4635292072633014519' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/4635292072633014519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/4635292072633014519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/06/mamanku-cemburu.html' title='Mamanku cemburu'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-6449163206640096184</id><published>2008-06-25T05:09:00.000+07:00</published><updated>2008-06-25T05:11:01.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Selamat Datang Malaikat Kecil Ummi: Enjie, N-ji, Angie.</title><content type='html'>Ada tiga nama bagus yang disodorkan seorang sahabat ketika ummi meminta saran buat namamu, kekasih. Hikmah badriya, Najma Fariha, dan Syahra Fariha. Ummi memilih Syahra karena abi memesan kata rembulan yang identik dengan perempuan. Mbak Bita juga suka sampai datanglah abi yang ternyata  lebih suka dengan kata Najma.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tahu sayang kenapa abi begitu suka dengan kata Najma yang artinya bintang? Karena ternyata abi telah menemukan panggilan sayang yang begitu ciamik, keren dan cool punya: Enjie, (ummi suka menuliskannya N-ji) , yang kalau ditulis dalam bahasa Inggris menjadi Angie, kan dekat ke angel yang artinya malaikat or bidadari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fariha sendiri artinya kebahagiaan. Jadi Najma Fariha artinya bintang yang memberi kebahagiaan. Bidadari yang selalu membahagiakan. Malaikat kecil yang menghadirkan  nuansa bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah N-ji yang imut, kulit bersih seperti kulit mas Maman membuat N-ji menjadi bintang di keluarga besar kita. Apalagi mbak Bita sangat senang dengan kehadiranmu karena katanya kalau sudah besar bisa sharing kamar. Sementara mas Maman akan bobok dengan mas Safir, kakakmu yang item manis plus jabrik itu. Tunggu sampai adek menyaksikan atraksi akrobatik dua kakak laki-lakimu. Adek bakalan bertepuk tangan gak habis-habisnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak-kakak N-ji sangat sayang sama adek. Bahkan mas Maman yang masih kehitung kecil itu sungguh cinta sampai-sampai dia cemburu kalo ummi nggendong adek, netekin adek ato berdua dengan adek. Wah, ummi sempat kelimpungan kalo abi lagi ngantor. Baru gendong adek, mas Maman minta gendong juga. Ato kalo nggak, mas akan mojok dan memasang wajah sedih, kayak anak tiri gitu. Makanya ummi harus pinter-pinter nyiasatinya. Kita kompakan yok nji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N-ji sayang, semoga selalu sehat. &lt;br /&gt;Seperti mbak Bita yang meski item punya mata seindah mata kelinci.&lt;br /&gt;Seperti mas Safir yang meski item punya rambut seindah ilalang di padang, dan energinya tumpah-ruah tak karuan.&lt;br /&gt;Seperti mas Maman yang berkulit terang, dan sudah pintar berhitung sampai angka sepuluh dan ngaji a-a, ba-ba, ta-ta. &lt;br /&gt;Seperti abi yang  menyimpan cinta seluas samudera. &lt;br /&gt;Seperti ummi yang selalu merengkuh dengan selaksa rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welcome N-ji sayang.&lt;br /&gt;We love u&lt;br /&gt;As u send your love through your eyes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June, 13, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-6449163206640096184?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/6449163206640096184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=6449163206640096184' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6449163206640096184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6449163206640096184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/06/selamat-datang-malaikat-kecil-ummi.html' title='Selamat Datang Malaikat Kecil Ummi: Enjie, N-ji, Angie.'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-8180313286126645661</id><published>2008-04-11T23:33:00.001+07:00</published><updated>2008-04-11T23:33:58.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Anak-Anak Luar Biasa (2)</title><content type='html'>Barusan aku menyelesaikan tulisan tentang anak-anak di kelas bahasa Inggrisku. Sepuluh remaja laki-laki yang menuntut perhatian lebih dariku. Kini aku ingin menulis tentang anak-anak di bawah perwalianku sebagai wali kelas. Selfirst, begitu nama kependekan dari kelas sembilan ef.  Kelas dengan 29 remaja muslimah yang benar-benar luar biasa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kali berturut-turut menjadi kelas dengan rata-rata tertinggi menjadikan mereka sebagai pemilik piala bergilir tersebut. Sebuah kondisi yang memaksa tim bimbingan belajar membeli piala lagi. Dan hari ini, piala baru itu dipegang kelas Selfirst juga. Sungguh luar biasa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku sebagai ibu mereka, tidak bisa tidak bangga pada mereka. I’m really really really proud of  you, gals....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perang belumlah usai&lt;br /&gt;Genderang baru ditabuh&lt;br /&gt;Maka jangan pernah terlena&lt;br /&gt;Jangan pernah menghadirkan setitik kesombongan sekalipun&lt;br /&gt;Karena yang demikian akan menghancurkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Aku acungi semangat berkompetisi mereka. Dan karena sudah basah maka aku titip pesan pada mereka: Do not ever reduce your time for studying and praying. &lt;br /&gt;Mengapa harus studying and praying? Karena kesuksesan itu bersumber dari keduanya. Belajar, berusaha, berlatih, dan berdo’a. Sebuah keseimbangan yang harus dijalankan karena orang  bijak bilang: berdo’a tanpa berusaha itu malas namanya sementara  berusaha tanpa berdo’a itu sombong namanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak luar biasa tidak dilahirkan menjadi orang biasa.&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi kemudahan kepada mereka dan kami, para arsitek kehidupan ini dalam mendampingi mereka. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-8180313286126645661?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/8180313286126645661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=8180313286126645661' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8180313286126645661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8180313286126645661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/04/anak-anak-luar-biasa-2.html' title='Anak-Anak Luar Biasa (2)'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-8738518425973080596</id><published>2008-04-11T23:31:00.002+07:00</published><updated>2008-04-11T23:32:55.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Anak-anak Luar Biasa (1)</title><content type='html'>Barangkali semua sepakat kalau anak-anak kelas 9 angkatan tahun ini semangatnya tidak dipertanyakan lagi. Dan beruntunglah aku yang mendapat kesempatan mengenal dan mengajar anak-anak yang butuh waktu lebih lama untuk memahami pelajaran.  Semangat mereka tak kalah dengan teman lainnya meski hasilnya menurutku belum optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama aku  mengajar mereka, aku diliputi kebingungan. Bagaimana tidak? Di satu sisi aku harus menyampaikan materi pelajaran yang sangat padat (tuntutan kurikulum) karena mereka ada di kelas akhir SMP. Di sisi lain aku masih harus memikirkan strategi apa yang aku gunakan untuk meraih hati mereka. Ya, karena mata pelajran yang kuajarkan adalah salah satu momok bagi sebagian besar siswa. Mapel tersebut adalah bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku melakukan diskusi baik dengan teman sesama guru, para senior bahkan tak jarang kubawa topik ini di tempat tidur. Bersama suami terkasih, tentunya. Kadang-kadang menjadi menu sampingan diantara menu utama kami, perkembangan dan pertumbuhan anak-anak biologis kami. Namun tak jarang menjadi menu utama perbincangan kami sebelum tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, ruang yang disediakan kekasihku itu begitu lapang sehingga aku bebas lepas mengumbar cerita tentang anak-anak luar biasa ini. Kadang kekasihku itu memberi komentar di sana sini, beberapa masukan namun tak jarang ia cuma diam,  mendengarkan ceritaku saja. Dan sebentuk perhatian yang ditunjukkan atas cerita-ceritaku membuat lempeng jalanku. Aneh??? (Begitulah  wanita, penginnya didengar...) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke anak-anak luar biasa ini. Memasuki intensif adalah saat-saat yang melelahkan, baik bagi siswa maupun para guru. Setiap hari anak akan dijejali dengan soal-soal seolah-olah tidak ada habisnya. Setiap minggu diisi dengan try out  (to) ini itu. Bisa dibayangkan seperti apa wajah mereka. Belum lagi wajah gurunya. Jauh-jauh hari sudah harus membuat soal-soal latihan, soal TO ini itu, mengevaluasinya kemudian mengajarkannya dari hari ke hari. Bertemu dengan wajah-wajah yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelasku ada sekitar 18 anak berkebutuhan khusus yang akhirnya harus kami split menjadi dua dengan alasan optimalisasi. Separo dari jumlah anak ini mempunyai masalah sikap belajar sementara separo lainnya hanya masalah potensi belajar. Rasanya tidak fair jika perlakuan yang kami berikan seragam terhadap kelompok anak yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekarang di kelasku hanya ada sepuluh siswa. Tapi rasanya, aku mengajar 30 anak. Ketika  aku membahas pre atau post test tersebut, mereka mengangguk-angguk tanda memahami meski kemudian kudapati jawaban mereka banyak yang tidak mengena. Kesabaranku benar-benar diuji. Aku tidak boleh menyerah, aku yakin mereka bisa. Seperti yang selalu kami gembar-gemborkan pada anak-anak. Bahwa Success is a choice. Sukses itu sebuah pilihan. Dan ia harus diperjuangkan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku salut dengan iklim yang dibangun oleh sekolahku ini. (boleh kan narsis, dikit...) Kami mengimbangi atmosfir ketegangan tersebut dengan  nuansa motivasi yang kental. Makanya, anak-anak luar biasaku itu sedikit banyak mendapat suntikan semangat dari lingkungan. Setiap hasil pre test atau post test ditempel, maka mereka segera berhamburan menuju mading. Teriakan Allahu Akbar kadang terdengar  meski ada beberapa lenguhan kekecewaan karena tidak lulus pada salah satu mapel, atau salah dua, atau bahkan keempat-empatnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup&lt;br /&gt;Harus diperjuangkan&lt;br /&gt;Yang namanya sukses&lt;br /&gt;Harus diminta &lt;br /&gt;Harus direbut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma la sahlan, Illa ma ja’altahu sahlan wa anta taj’alu husna ida sykta sahlan&lt;br /&gt;Allahumma inna nastafiduka wa nastadiuka bima alamtana fardludhulana inda hajatina wala tunsinahu yaa robbal’alamin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-8738518425973080596?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/8738518425973080596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=8738518425973080596' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8738518425973080596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8738518425973080596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/04/anak-anak-luar-biasa-1.html' title='Anak-anak Luar Biasa (1)'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-6735407239703847205</id><published>2008-04-03T14:02:00.000+07:00</published><updated>2008-04-03T14:04:07.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Generasi Imun Cegah Woman Trafficking</title><content type='html'>Membaca berita woman trafficking,  perdagangan perempuan di bawah umur yang dilakukan seorang remaja Lina (17 th) membuat hati kita miris. Lina yang masih berstatus pelajar SMK ternyata telah berkali-kali  menjual para gadis. Untuk yang masih perawan, ia mematok harga 2 juta. Separonya akan masuk ke kantongnya sebagai calo. Tertangkapnya Lina karena penggerebekan polisi menghasilkan nama Sofia, pelajar SMP (15 th) yang tidak lain adalah adik kelasnya. (Jawa Pos, 11 Maret 2008)&lt;br /&gt;Salah satu alasan mengapa Lina tega menjual Sofia karena Sofia sering mengatakan ingin bergaya hidup layaknya anak muda: punya pakaian bagus, handphone seri terbaru dan duit banyak. Sehingga ketika ada lelaki hidung belang membutuhkan,  segera saja ia teringat  Sofia. &lt;br /&gt;Demi melihat alasan di atas, ingatan saya segera melayang pada sebuah film remaja yang beberapa waktu lalu sempat menjadi kontroversi. Film tersebut berjudul Virgin. Dalam film itu diceritakan sang pemeran utama, seorang gadis SMA dengan sadar melepas virginitasnya. Keperawanannya ditawarkan dengan nominal 15 juta rupiah dan laku dengan nilai 10 juta rupiah. Dengan uang tersebut ia membeli life style tadi: pakaian bagus, hp terbaru, dan berfoya-foya dari café ke café, mall ke mall.&lt;br /&gt;Terlepas dari apakah Sofia mempunyai motif serupa ataukah semua itu hanya rekaan Lina sebagai upaya mempertahanankan diri, ada satu hal yang harus kita berikan concern yang dalam: gaya hidup remaja sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Populer&lt;br /&gt;Dalam ilmu psikologi disebutkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Remaja tidak ingin dikatakan anak-anak lagi namun juga tidak ingin dicap sebagai orang dewasa. Dengan kata lain, masa remaja adalah masa transisi. Banyak sekali pengaruh-pengaruh luar yang mewarnai wajah remaja. Pengaruh terbesar berasal dari lingkungan sosial.  &lt;br /&gt;Apalagi di era yang serba terbuka ini remaja telah menjadi konsumen terbesar dari sebuah modernitas. Dengan kelabilannya ia mencoba menjajaki apa yang menurut mereka bagus dan modern. Salah satunya life style yang sering mereka saksikan. Tidak saja melalui media tapi juga di dunia nyata. Pakaian bagus, hp model seri terbaru, kongkow-kongkow di mall, café untuk menyebut beberapa. Meminta hal tersebut pada orang tua belum tentu menuai hasil, maka diambillah jalan pintas. &lt;br /&gt;Dalam buku The Everything Parenting a Teenager Book (2007),  Dr. Linda Sonna mengingatkan para orang tua bahwa remaja modern merupakan produk dua keluarga. Pertama, produk orang tua dan saudara kandung. Kedua, produk budaya populer.  Karena berada di masa transisi, sering terjadi pertempuran pikiran dan hati remaja, dan tidak jarang budaya populer lebih memenangkannya. Kasus yang menimpa Lina dan Sofia di atas bisa menjadi contoh nyata kemenangan produk budaya populer yang membungkus gaya hidup atas peran orang tua.&lt;br /&gt;Biasanya budaya populer ini semakin dipopulerkan oleh kehadiran teman sebaya. Kita semua paham bagi remaja peran teman sebaya, peer group sangat penting. Kehadiran mereka di masa ini tidak jarang menimbulkan konflik dengan orang tua. Salah satunya karena gap generation. Maka tak heran kalau peer group  bisa merengkuh lebih jauh daripada orang tua. Ini, tentu saja membawa konsekuensi. Jika seorang remaja mampu menentukan peer group yang bagus akan selamatlah dia. Namun, begitu sebaliknya. &lt;br /&gt;Lebih jauh, Sonna menuliskan alasan mengapa remaja lebih tersedot pada peer group. Salah satunya adalah tidak adanya identitas dalam diri mereka menyebabkan mereka percaya bahwa teman-teman sebayanya akan lebih  memikirkannya. &lt;br /&gt;Sejalan dengan ini ada sebuah teori kontemporer tentang perkembangan sosioemosional anak yaitu teori ekologi Brofenbenner. Teori ini menekankan pada  konteks sosial di mana anak tinggal dan orang-orang yang  mempengaruhi perkembangan anak. Salaah satu konteks di mana anak menghabiskan sebagian besar waktunya adalah dengan  teman sebaya. &lt;br /&gt;Mungkin ini juga yang mendasari Sofia untuk curhat kepada Lina tentang obsesi dirinya. Memiliki apa yang seharusnya remaja seusianya punya.  Dan Lina yang menyadari adanya peluang memanfaatkannya dengan sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Imun&lt;br /&gt; Salah satu solusi untuk mencegah terjadinya woman trafficking adalah menciptakan generasi imun. Generasi yang kebal terhadap segala bentuk perubahan sosial yang ada di masyarakat. Bukan generasi yang steril karena rasanya tidak mungkin kita meminta anak-anak steril terhadap fenomena sosial di sekitarnya.&lt;br /&gt;Sistem imunitas tersebut bisa dibangun dari luar maupun dalam diri remaja. Faktor luar misalnya keluarga. Keluarga sebagai miniatur masyarakat bagi anak bisa menyiapkan mereka dengan pondasi religi dan nilai-nilai moral yang kuat sejak dini. Sehingga, ketika anak dihadapkan pada permasalahan, mereka telah memiliki pijakan yang kuat. Para orang tua yang tidak kenal lelah belajar cara pengasuhan, membuka pintu komunikasi seluas-luasnya bagi remaja, dan menyediakan a shoulder to cry on tentu akan meminimalisir prilaku menyimpang remaja. &lt;br /&gt;Selain itu, sekolah juga memegang peranan penting. Bersama dengan keluarga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya pribadi-pribadi yang berkarakter kuat. Atmosfir sekolah yang penuh motivasi,  kompetisi yang sehat,  dan gairah hidup yang menyala-nyala akan menyalurkan energi remaja yang berlebih ini. Didukung dengan nuansa spiritual yang tinggi akan menyeimbangkan sisi duniawi yang kental dengan remaja. &lt;br /&gt;Sinergitas antara keluarga dan sekolah akan menghasilkan generasi muda yang kuat, kokoh, tidak goyah terhadap iming-iming dunia, popularitas dan life style yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dan agama. &lt;br /&gt;Yang tidak kalah pentingnya adalah faktor internal remaja itu sendiri. Mereka harus memiliki konsep diri yang positif, berkarakter kuat, mampu membedakan  dan berani berkata tidak terhadap hal-hal yang membawa keburukan.&lt;br /&gt;Terakhir, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. Diterapkannya hukum yang tepat pada pelaku trafficking sebagaimana pelaku narkoba, misalnya, barangkali bisa mengeliminir kejahatan yang banyak merugikan kaum perempuan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-6735407239703847205?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/6735407239703847205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=6735407239703847205' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6735407239703847205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6735407239703847205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/04/generasi-imun-cegah-woman-trafficking.html' title='Generasi Imun Cegah Woman Trafficking'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-3275351337618573878</id><published>2008-04-03T13:39:00.000+07:00</published><updated>2008-04-03T13:41:49.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Allah, BersamaMu Tak Ada Jalan Buntu</title><content type='html'>Judul Buku: Catatan Hati di Setiap Sujudku&lt;br /&gt;Penulis: Asma Nadia, dkk&lt;br /&gt;Penerbit: Lingkar Pena Publishing House&lt;br /&gt;Cetakan: I, Januari 2008&lt;br /&gt;Tebal: 192 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan anda lakukan jika berada dalam kondisi benar-benar tidak berdaya? Ketika orang yang anda cintai--anak, pasangan, orang tua—sakit dan dalam hitungan n x 24 jam diprediksi akan meninggalkan anda selamanya. Atau ketika anda punya harapan dan mimpi setinggi langit sementara anda yakin kedua kaki ini masih menjejak bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya hanya satu: berdo’a&lt;br /&gt;Ketika semua ikhtiar sudah kita lakukan, hanya tawakal langkah selanjutnya. Kita serahkan saja semua urusan kepada sang pembuatnya. Ya, doa. Satu kata kunci itulah saripati buku Catatan Hati di Setiap Sujudku karya keroyokan Asma Nadia, dkk. &lt;br /&gt;Buku ini merupakan kumpulan tulisan di milis pembacaanadia@yahoogroups.com Diangkat dari kehidupan nyata para penulisnya. Kisah yang begitu dekat dengan kehidupan kita dan sangat jauh dari kesan menggurui. Inspiratif dan membangkitkan harapan bagi yang merasa jauh dari segenggam harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rejeki, Jodoh, dan Mati&lt;br /&gt;Secara umum, kita mengenal tiga hal yang manusia tidak mampu menembusnya. Hal tersebut adalah rejeki, jodoh, dan mati. Ketiga hal itulah yang menghiasi buku yang sarat akan lantunan berjuta rindu, berbuncah cinta pada Ilahi Robbi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Jalan Menuju Rumah-Mu, dikisahkan bagaimana seorang pegawai negeri kecil di pedalaman Ambon—tentu saja dengan gaji yang tidak seberapa—menyimpan rindu bertemu Sang Kekasih di Baitullah. Dengan logika matematika, ia menulis,  barangkali akan menginjakkan kaki di rumahNya setelah pensiun tiba. Sebagai muslim ia merasa optimis meski tak jarang keinginan tersebut mengalami fluktuasi demi melihat realitas kehidupan. Namun pertemuannya dengan teman semasa kecil yang  yang baru pulang berhaji setelah konflik Ambon meletus, melecutkan tekadnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Udin, nama teman kecil itu,  mengatakan,” Tugas kita berikhtiar, tugas kita menabung, nanti Allah yang mencukupi. Tugas kita adalah menunjukkan keinginan yang kuat. Jangan memaksakan kehendak, tetapi menunjukkan keinginan yang kuat itu penting. Menabunglah! Ida akan lihat hasilnya di luar perhitungan. Percaya itu. Jangan hitung rezeki Allah dengan kalkulator manusia. Allah punya kalkulator yang jauh lebih canggih,” (hal.17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, ia mewujudkan tekadnya dengan semakin mendekatkan diri pada Allah. Sholat lail, sholat taubat, dan mengamalkan isi surat Al Hajj diantara tadarus wajibnya. Hingga suatu hari ia dikirim mengikuti pelatihan sebagai fasilitator Panwas Pemilu 2004 di Jakarta. Uang saku dari pelatihan itulah yang kemudian menjadi batu pertama tabungan hajinya. Sejak saat itu, persiapan tidak hanya berbentuk permohonan setiap malam melainkan juga perubahan sikap. Tazkiyatun nafs ia lakukan setiap  hari, buku-buku keagamaan semakin meyemarakkan bacaannya. Setelah tiga belas bulan sejak menabung pertama tersebut sampailah ia di baitullah, menjemput impian di rumah Sang Kekasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang rahasia jodoh, salah satunya dikisahkan dalam Do’a Untuk Laki-Laki Berwajah Saleh. Tentang seorang janda beranak dua yang mempunyai harapan memberikan seorang ayah yang sholeh untuk kedua buah hatinya.  Hatinya tertambat pada seorang guru mengaji anaknya di TPA. Sebagai perempuan yang sadar akan dirinya, ia ragu melangkah. Lelaki itu masih muda sementara ia sudah beranak dua. Diantara keraguan ia memasrahkan semuanya kepada Allah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah ia pada suatu keadaan bahwa ia tak mungkin berdampingan dengannya. Lelaki itu sudah mempunyai calon istri, kata tetangganya. Maka, untuk mengatasi rasa sedihnya ia mencurahkan energinya pada doa, bermunajat sepenuh jiwa. Lalu,  ia memutuskan pindah ke kota lain. Justru kepindahannya inilah yang membawa laki-laki berwajah saleh itu memintanya menjadi istrinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan, ia baru tahu kalau perempuan yang diberitakan sebagai calon istrinya itu hanya teman satu profesi.  Lelaki itu mengatakan, “ Saya tidak mengenal istilah pacaran, karena Islam tidak mengajarkan kebersamaan seperti itu sebelum adanya ikatan yang halal, dan ikatan yang halal itu adalah pernikahan.” (hal 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Rezeki dan jodoh tidak akan lari kemana kalau memang ia sudah ditakdirkan untuk kita. Selain rezeki dan jodoh, akhir hidup seseorang juga menyimpan misteri. Banyak kisah di buku ini yang mengungkap akhir hidup seseorang. Pengalaman Asma Nadia merawat Adam, anak keduanya yang sakit parah dan hidupnya hanya diprediksi dalam hitungan hari tertuang dalam tulisan yang akhirnya menjadi judul buku ini: Catatan Hati di Setiap Sujudku. (hal 2) Atau tentang Keajaiban Do’a,  tentang seorang ayah yang koma beberapa hari di rumah sakit dan divonis akan meninggal dunia.  Namun akhirnya sadar setelah mendengar suara anak perempuannya di negeri seberang dan do’a-do’a yang dilafadzkannya meski lewat telepon.(hal 30) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a telah melewati dimensinya karena dalam do’a hanya kita dan Allah saja yang tahu. Dan kita tidak pernah tahu dari doa siapa pinta kita dikabulkan. Karenanya, jangan segan-segan meminta doa pada orang-orang terdekat kita pada saat kita membutuhkannya. Dan, jangan pernah lupa mendo’akan orang-orang yang sedang membutuhkannya. Sinergitas yang tercipta dari lingkaran do’a ini insya Allah akan berbuah manisnya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdakwah lewat Tulisan&lt;br /&gt;Benang merah dari tulisan di buku ini adalah pencerahan pembaca akan makna sebuah kepasrahan. Sebentuk sikap tawakal yang membuahkan hasil ketenangan hati, kenyamanan hidup meski yang terjadi kenyataan pahit sekalipun. Barangkali sebagian dari  kita ada yang masih nggerundel ketika mendapat cobaan, insya Allah buku ini bisa jadi salah satu penawarnya. Atau ada yang masih sangat susah mengeluarkan infaq, percayalah kalkulasi Allah tidak akan sama dengan kalkulasi manusia. Atau ketika kita merasa sangat miskin, mintalah pada Allah karena memang hanya Dialah yang Maha Kaya.  Maka, buku ini layak dikonsumsi siapa saja yang sedang membutuhkan oase di tengah kegersangan atau siapa saja yang merasa begitu desperate, karena seperti judul tulisan ini: Allah, BersamaMu Tak Ada Jalan Buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Asma Nadia dengan milis yang digawanginya telah menanamkan sebentuk  keimanan tersebut lewat tulisan. Sebagai penulis, ibu dua anak ini  tergolong sangat produktif. Sejak tahun 2000 ia  telah menghasilkan lebih dari 32 buku.  Berbagai penghargaan telah ia peroleh sebagai perwujudan kerja cerdasnya selama ini. Sebagai rasa syukur, ia tidak saja tetap menulis tapi juga memberikan wadah kepenulisan kepada perempuan umumnya dan muslimah khususnya. Tulisan telah menjadi media dakwah, baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernawati K. &lt;br /&gt;Tanggulangin, 22 Maret 2008. 01:50 a.m&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-3275351337618573878?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/3275351337618573878/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=3275351337618573878' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3275351337618573878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3275351337618573878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/04/allah-bersamamu-tak-ada-jalan-buntu.html' title='Allah, BersamaMu Tak Ada Jalan Buntu'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-6055365156191990027</id><published>2008-02-21T11:53:00.002+07:00</published><updated>2008-02-21T11:58:40.975+07:00</updated><title type='text'>Menjadi 'The Inspiring Teachers'</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hernawati Kusumaningrum&lt;br /&gt;Guru SMP Al Hikmah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sudah membaca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt;, novel karangan Andrea Hirata? Salah satu contoh the inspiring teachers akan Anda temukan di novel best seller ini. Mengapa? Karena menurut pengakuan sang penulisnya, novel ini ditulis untuk sang guru tercinta. Karena guru tersebut mampu mentransfer tidak saja ilmu-ilmu akademik tapi juga ilmu kehidupan. Karena guru tersebut mampu memuaskan tidak saja dahaga anak akan ilmu pengetahuan tapi juga cinta dan kasih sayang, membasahi syaraf-syaraf otak, rasa dan ruhaninya. Karena guru tersebut mendedikasikan dirinya tanpa pamrih, meletakkan pondasi bagi tumbuhnya mimpi-mimpi dan memberikan kekuatan untuk meraihnya. Karena guru tersebut telah menginspirasi hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kita? Sudah mampukah diri kita menjadi inspirasi anak didik kita? Ada dua kata kunci untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama, kompetensi. Bagaimana guru bisa menginspirasi anak didiknya jika kompetensinya masih dipertanyakan? Guru harus mengoptimalkan kompetensinya, baik itu kompetensi akademik maupun paedagogiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengoptimalkan kompetensi guru adalah belajar. Guru harus menjadi manusia pembelajar, penganut paham long life education. Dengan demikian, ilmunya tidak akan stagnan. Ia akan berkembang seiring perkembangan waktu dan akan selalu up to date. Selain itu, guru harus benar-benar memahami realitas individual difference setiap anak didiknya. Bahwa setiap anak itu unik, masing-masing mereka mempunyai kemampuan yang berbeda baik itu kemampuan fisik, mental, intelektual, dan spiritual sehingga cara guru berinteraksi dengan mereka pun harusnya berbeda. Kompetensi seperti ini juga harus diasah, ia tidak boleh berhenti ketika kita, guru telah menyelesaikan pendidikan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sendiri telah menggencarkan program sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi guru. Sayangnya, masih banyak di antara kita, guru-guru yang menganggap program ini hanya berkaitan dengan uang, tunjangan, sehingga berlomba-lomba mengumpulkan sertifikat dan bukan ilmu yang diperoleh dalam sebuah kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran jika kemudian sertifikat menjadi komoditi bagi orang-orang yang membaca peluang. Seminar sertifikasi pun menjamur dengan pengelolaan yang tidak profesional, kasus jual beli sertifikat, dan sertifikat palsu untuk menyebut beberapa. Padahal, esensi sebenarnya program ini begitu mulia, yakni bagaimana meningkatkan kompetensi guru sehingga berimbas pada peningkatan kualitas pendidikan di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, komitmen. Selain berkompetensi optimal, guru dituntut memiliki komitmen yang tinggi terhadap pendidikan. Seorang guru bukan hanya pengajar tapi ia juga pendidik. Ia tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga nilai-nilai. Justru transformasi nilai inilah bagian terpenting dalam pendidikan. Ia akan dibawa anak sampai dewasa. Bahkan ketika ia menjadi pemimpin, ia akan membawa nilai-nilai yang diwariskan sang guru pada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana guru mengubah prilaku anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang berprilaku buruk menjadi lebih baik, untuk menyebut beberapa. Maka dibutuhkan jiwa yang benar-benar memahami arti pendidikan itu sendiri. Jiwa-jiwa yang bebas, ikhlas tanpa batas. Sehingga, setiap tutur kata yang keluar dari lisannya adalah mutiara, dan setiap tindak-tanduknya adalah teladan. Guru seperti inilah yang mampu menginspirasi siswanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Baru&lt;br /&gt;Tingkatkanlah kompetensi diri. Jangan pernah lelah dan malu untuk belajar. Bukankah di era informasi saat ini, akses belajar menjadi sangat mudah? Media massa, elektronik, dan internet bukan barang baru lagi. Sudah saatnya bagi guru untuk melek IT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tumbuhkan komitmen positif kita sebagai guru. Guru adalah profesi yang mulia, ladang pahala. Namun kalau kita menjalaninya tanpa profesionalitas dan komitmen yang tinggi, guru hanya sekadar menjadi profesi. Ia hanya mengajarkan ilmu tanpa ruh. Peningkatan kompetensi dan komitmen guru sangat membutuhkan dukungan pemerintah, dalam hal ini Diknas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, program sertifikasi sebenarnya sudah on the right track. Tinggal bagaimana mengimbanginya dengan kontrol yang ketat agar guru yang benar-benar lolos sertifikasi adalah mereka yang memang memenuhi kualifikasi tersebut. Upaya pemerintah memberikan diklat-diklat yang mengiringi program tersebut hendaknya dikelola dengan lebih profesional sehingga tidak terkesan hanya menghabiskan anggaran atau sekedar proyek semata. Selain itu dukungan dari masyarakat juga tidak kalah pentingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal kita, bagaimana para guru ini menyikapinya. Segera tetapkan langkah menuju guru yang 'baru', guru yang inspiratif di tahun 2008 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;((tulisan ini pernah dimuat di harian Republika, Rabu, 20 Februari 2008))&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-6055365156191990027?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/6055365156191990027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=6055365156191990027' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6055365156191990027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6055365156191990027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/02/menjadi-inspiring-teachers.html' title='Menjadi &apos;The Inspiring Teachers&apos;'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-2937401357433235668</id><published>2008-02-06T04:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T04:35:47.393+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>MENJADI SUFI METROPOLIS</title><content type='html'>Judul Buku: The Road to Allah&lt;br /&gt;Penulis: Jalaluddin Rahmat&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan&lt;br /&gt;Cetakan: I, Oktober 2007&lt;br /&gt;Tebal: 335 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata sufi atau tasawuf? Anda tidak salah ketika mengatakan tasawuf identik dengan kemiskinan, kelusuhan, bahkan kekotoran. Sebagian besar kaum muslim bahkan takut menyentuhnya, mempelajarinya  karena citra negatif di atas.  &lt;br /&gt;Namun anggapan di atas akan segera sirna ketika kita membaca The Road to Allah.  Buku ini merupakan kompilasi pemikiran Jalaluddin Rahmat dan pencarian jati diri yang panjang selama safar (perjalanan) ruhaninya di masjid Al Munawaroh.  Sang editor yang kebetulan putra Kang Jalal sendiri mengumpulkan transkrip ceramahnya selama periode romantisme religus tersebut. Kang Jalal  mengenalkan sekaligus membuka mata kita bahwa tasawuf sejati tidaklah demikian. Ia menunjukkan bahwa menjadi pecinta Allah nan sejati adalah sebuah perjalanan yang kaya romantika. &lt;br /&gt;Ya, serangkaian perjalanan yang tidak menjadikan kita mandeg, eksklusif, dan mati secara sosial. Justru perjalanan yang menjadikan kita lebih dinamis dan inklusif dalam memaknai hidup. Kita tetap bisa  menjadi manusia profesional, berkomunikasi dengan dunia luar, menjalin relasi luas dan  tidak haram menjadi kaya.  Kita tetap bisa nyufi meski hidup di era metropolis karena sufi adalah urusan hati,  urusan ruh yang diwujudkan dalam kesalehan sosial. Poin penting inilah yang sesungguhnya dibidik Kang Jalal ketika menyampaikan gagasan dan pemikirannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahap-Tahap Safar Ruhani &lt;br /&gt;Selain menyajikan tasawuf teoritis, buku ini juga dibekali dengan pedoman praktis yang bisa kita amalkan.  Dibagi dalam lima bab yang di setiap babnya merupakan tahapan perjalanan manusia dalam mencari Tuhannya.  &lt;br /&gt;Bab pertama menyajikan peta, pedoman, pondasi sebagai bekal sebelum melakukan safar. Pembaca akan banyak dicekoki dengan teoritis tasawuf cinta, bagaimana memaknai cinta yang sesungguhnya. Bab kedua merupakan pengejewantahan teoritis idealis di atas karena Kang Jalal mengajak kita menghadapi realitas kehidupan. Sebuah proses perjalanan yang ternyata menghadirkan banyak kejutan. Perbedaan madzab, pilihan-pilihan yang harus diambil, untuk menyebut beberapa. &lt;br /&gt;Sebagai contoh,  kisah tentang Nasruddin yang terkena cekal karena ceramahnya dianggap subversif oleh ulama. Ia mengatakan bahwa filsuf dan kalangan cerdik cendekiawan adalah manusia  bodoh, bingung, dan tidak bisa mengambil keputusan.  Ketika mereka mengadukan hal ini pada raja, Nasruddin meminta raja menyuruh mereka menjawab sebuah pertanyaan: Apa yang disebut dengan roti? Ternyata setiap mereka memberikan jawaban yang berbeda. Lalu Nasruddin mengatakan,  kalau untuk urusan roti saja mereka tidak mempunyai kata sepakat, apalagi untuk menentukan urusan lain seperti menilai  tentang khutbahnya. (hal 78)&lt;br /&gt;Kisah Nasruddin seakan hendak menyampaikan kepada kita semua bahwa di atas keberagamaan yang  terpecah dalam berbagai madzab, terdapat satu keberagamaan yang disepakati bersama, yakni substansi ajaran agama itu sendiri.  Ke sanalah para sufi menuju.   Kisah-kisah ringan seperti di atas yang mewakili nuansa kehidupan itu sendiri banyak mewarnai isi buku ini. &lt;br /&gt;Selain itu tidak lengkap kiranya jika menyoal tasawuf tidak menyentuh penyakit hati.  Menurut para sufi,  penyakit-penyakit tersebut merupakan penghalang safar itu sendiri.  Takabur, ujub, riya, ghibah, sebagai contoh yang pembaca bisa dapatkan di bab tiga. Dan, kang Jalal melengkapinya dengan tips-tips untuk mengobatinya di bab selanjutnya. Bagaimana mengendalikan diri,  nafsu, memperoleh hati yang khusuk, untuk menyebut beberapa. (hal 203-284) Akhirnya, safar ditutup dengan pertemuan manusia dengan Tuhannya di bab terakhir.   &lt;br /&gt;Kang Jalal menuliskannya dengan bahasa tutur yang tidak njlimet, menghiasnya dengan doa-doa indah para imam,  kutipan kisah dari  Al Ghazali, dan bait-bait puisi Jalaluddin Rumi menjadikan buku ini segar dan kaya nuansa.  Buku ini patut dibaca siapa saja yang ingin menyempurnakan safar ruhaninya menuju Allah. Fafirruu Illallah, berlari menuju Allah.  &lt;br /&gt;Menjadi sufi tidak harus meninggalkan segala kegiatan dan menyembunyikan diri di sudut masjid atau gua di tengah hutan. Sufi sejati bukan tidak memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia. Artinya, sufi juga harus cerdas,  melek IT, mampu mengoperasikan satelit, menjadi llmuwan,  dan boleh  kaya-dermawan. Jadi, menjadi sufi metropolis, mengapa tidak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-2937401357433235668?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/2937401357433235668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=2937401357433235668' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2937401357433235668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2937401357433235668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/02/menjadi-sufi-metropolis.html' title='MENJADI SUFI METROPOLIS'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-4029588642546070734</id><published>2008-01-20T00:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-20T00:07:29.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Aku Selalu Terpesona dengan Alam</title><content type='html'>Ketika subuh datang. Langit biru kehitaman merangkak pelan membiru muda. Kemudian muncul semburat kemerahan di ufuk sebelah timur. Ditingkahi nyanyian burung yang baru membuka matanya, sentuhan udara bersih yang segar menjadikan pagi atmosfer yang nyaman bagi hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pagi tadi ketika kulangkahkan kakiku menuju mobil yang membawaku ke tempat kerja. Hampir satu bulan ini aku ke kantor memakai mobil karena kebaikan rekan kerjaku. Dia merelakan mobilnya dipakai secara berjamaah ke kantor. Subhanallah, Allah itu sungguh telah menyiapkan segala sesuatunya. Ketika malaikat kecil ini makin tumbuh, Allah menyiapkan kemudahan transportasi bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang cerah. Dari stasiun radio kudengar SBY mencanangkan gerakan menanam kedelai. Ketika aku membaca di koran-koran kalau ternyata kita mengimpor kedelai, rasanya aku tidak percaya. Negeri agraris seperti ini kok kedelai aja ngimpor, dari Amrik lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika harga kedelai meroket, pengusaha tempe dan tahu klepek-klepek nggak karuan. Itu artinya, tempe akan menjadi makanan langka di rumahku. Asal tahu saja, setiap hari aku menstok tempe dan tahu untuk lauk pauk selingan. Sepertinya di sebagian besar masyarakat kita tahu-tempe menjadi makanan favorit. Pagi-pagi bisa digoreng untuk sarapan. Kalau sore  lagi hujan, bisa bikin tahu gejrot. Bisa dibayangin, super duper yummy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini aku bisa membayangkan wajah-wajah pengusaha tempe dan tahu tidak akan secerah nuansa pagi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku selalu terpesona dengan alam.&lt;br /&gt;Pulang melewati jalan tol. Langit sore ini begitu cerahnya. Tampak sisa bola mentari di lengkung langit putih kebiruan. Bundaran mentari di ufuk barat itu sangat eksotik. Warna putihnya baru kali ini kusaksikan dengan mata telanjangku. Keperakan?tidak juga. Yang pasti, bikin aku terpesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama bundaran mentari itu hilang ditingkapi langit. Muncul kembali dan memamerkan sinarnya yang biasa aku saksikan ketika mengajak ketiga anakku jalan-jalan mengitari kompleks perumahan. Maman selalu minta diangkat tinggi-tinggi untuk menyaksikan bola mentari di langit sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang alam telah memberikan tanda. Ketika mentari bersinar penuh seperti saat ini aku bisa menyaksikan orang yang lalu lalang di jalanan tampak lebih sumringah ketimbang ketika hujan mengguyur alam. Wajah-wajah yang ditekuk, bersembunyi di balik payung, mengkerut di dalam jas hujan karena kedinginan, belum lagi yang harus menangis karena air bah, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kelangkaan kedelai masih menghiasi sore hari ini. Di stasiun radio itu kudengar wawancara reporter dengan pengusaha kedelai yang banting setir jadi peternak ayam, tukang parkir, dan  sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita selanjutnya tentang harga gandum melangit yang mengakibatkan harga tepung terigu ikut naik. Imbasnya pada pengusaha roti. Mereka mengurangi ukuran roti yang diproduksinya. Adonan yang dulu untuk dua roti kini harus dibagi jadi tiga bagian. Belum lagi rencana kenaikan harga gas alam, kenaikan tarif telpon, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di rumah, aku dilapori suami yang kebetulan sedang libur. Ia suka blusukan ke pasar tradisional kalau sedang off. Katanya,  harga minyak goreng yang biasa sudah mencapai sepuluh ribu rupiah. Kalau dipikir-pikir pusing juga. Mending dijalani saja. Yang pasti, kayaknya kita harus mengencangkan ikat pinggang deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di saat seperti ini rasa-rasanya aku makin terpesona dengan alam. Kalau tidak bisa makan roti, kita masih bisa konsumsi polo kependem seperti ketela, ubi, talas, mbothe, ganyong,  dkk. Minyak mahal? Ya, dikukus aja.  Kayaknya lebih sehat.  Kita lihat saja apakah akan terjadi migrasi besar-besaran ke vegetarian. Tapi kalau sayuran juga mahal, ya nggak tahu lagi???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-4029588642546070734?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/4029588642546070734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=4029588642546070734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/4029588642546070734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/4029588642546070734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/01/aku-selalu-terpesona-dengan-alam.html' title='Aku Selalu Terpesona dengan Alam'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-9004200382450378359</id><published>2008-01-16T17:39:00.001+07:00</published><updated>2008-01-16T17:41:24.784+07:00</updated><title type='text'>Cantik Itu Luka?</title><content type='html'>Ketika mendengar cerita teman-temanku yang akan aku ceritakan ini segera aku teringat akan sebuah novel karangan Eka Kurniawan berjudul Cantik Itu Luka. Mungkin tidak ada hubungan antara cerita di dalam novel tersebut dengan kejadian yang menimpa temanku ini kecuali permainan judul semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu kesempatan makan siang, seorang teman mengeluhkan perutnya sakit. Tanpa ditanya ia menceritakan bahwa barusan ia minum obat, tapi tidak lama kemudian ia merasa perutnya nyeri karena ia belum makan nasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kenapa kok nggak makan nasi?” tanyaku ingin tahu.&lt;br /&gt;“Ya gimana ya, aku sendiri bingung. Kalo tiap hari aku makan nasi tiga kali sehari maka berat badanku naik 3 kilo. Makanya, biasanya aku cuma makan nasi satu kali sehari, sisanya aku makan sayur aja,” terangnya. &lt;br /&gt;Aku cuma bisa ber-ooo yang panjang. Sebenarnya tubuh temanku itu tidak begitu gemuk jika disandingkan dengan tingginya. Ia tipe-tipe bangkok. Tapi ia sangat khawatir seolah-olah hanya dirinya yang over weight di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si anu lho berhasil dietnya. Beratnya turun delapan kilo sebulan terakhir ini,” kata temanku satunya. &lt;br /&gt;“Gimana caranya?” tanya temanku yang sakit perut tadi.&lt;br /&gt;“Puasa. Ia rajin puasa dan hanya minum susu saja. Ia jarang sekali makan nasi,”tambahnya.&lt;br /&gt;“Puasa apaan?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Nggak tahu tuh, pokoknya puasa,” katanya kemudian.&lt;br /&gt;“Lha kalau nggak ada sunnahnya, masak diniatin puasa diet?” tanya temanku satunya.&lt;br /&gt;Aku segera mengalihkan pokok pembicaraan kami agar terhindar ghibah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo menurutku sih, tubuh sampeyan cukup proporsional. Nggak gemuk-gemuk amat. Lagian sampeyan tinggi. Mending sampeyan ikutan senam aja, daripada nggak makan nasi. Tubuh bisa kencang, terbentuk dan nggak khawatir kena magh. Bukankah itu mendholimi tubuh kalo sampai sakit gitu?”kataku kemudian.&lt;br /&gt;“Aku lho punya alat senam sendiri,” sahutnya kemudian.&lt;br /&gt;“Sebenarnya sih seluruh keluargaku besar-besar semua, tapi kalau setiap hari beratku naik aku jadi takut juga,”imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri jadi ingat dengan pengasuh anak-anakku yang juga dikaruniai Allah kelebihan berat badan. Ia sangat bingung dengan tubuhnya yang bulat. Apalagi dia belum menikah. Menurutnya, laki-laki nggak bakalan suka dengan perempuan yang besar. Ia takut tidak ada laki-laki yang bakalan datang padanya. Makanya ia mati-matian berdiet. Beragam cara telah dicobanya. Mulai mengganti nasi dengan kentang, mengkonsumsi sayur dan buah lebih banyak, sampai makan hanya telur setengah matang dan madu. Aku sih oke-oke aja kalau ia diet asalkan tidak mengganggu aktifitasnya. Ia tetap sehat dan tugas-tugas terlaksana dengan sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Mungkin yang dialami dua orang di atas juga dialami oleh sebagian perempuan lainnya. Mereka menganggap kecantikan adalah masalah fisik. Sementara persepsi terhadap kecantikan itu sendiri dibentuk oleh kapitalisme untuk memasarkan produknya. Cantik itu harus tinggi, langsing, putih, dan berambut panjang misalnya. Seperti yang banyak kita saksikan di stasiun televisi, majalah, dan media lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika dirinya tidak langsing maka ia menganggap dirinya tidak cantik. Dibelilah produk-produk pelangsing tubuh, alat-alat yang bisa membuat tubuh dan bagian-bagiannya lebih mendekati definisi cantik buatan para kapitalis. Begitu juga ketika kulitnya tidak putih seperti yang sering kita lihat di iklan-iklan produk pemutih kulit, ia akan menganggap dirinya tidak cantik. Satu-satunya cara, membeli produk pemutih kulit padahal pigmen kulit orang Asia berbeda dengan mereka yang tinggal di Eropa, Australia  misalnya. Akhirnya, larislah produk-produk yang mereka iklankan di media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kemudian yang kukatakan pada temanku yang sakit perut tadi adalah mengubah persepsinya terhadap kata cantik. Cantik itu urusan persepsi. Kalau persepsi kita terhadap cantik sama dan sebangun dengan yang digulirkan oleh para kapitalis tadi, ya, siap-siap aja bangkrut. Rambut tidak hitam, legam, lebat,dan panjang sudah bingung. Wajah berjerawat sedikit jadi pusing. Kulit tidak halus, mulus, dan licin jadi pening. Kalau sudah begitu, kita tinggal hitung berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk urusan kecantikan. Belum lagi kalau harus menanggung sakit, terluka hanya karena ingin tampil cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semua itu jangan diartikan kita tidak perlu merawat tubuh kita. Perawatan tubuh tetap perlu itu. Apalagi bagi perempuan. (Baik yang belum married maupun yang sudah, lho!)  Sebagai perempuan, kita harus pandai-pandai memanage diri, waktu, finansial,  dan jangan sampai terjebak dengan  jerat kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang terpenting selain kecantikan fisik adalah inner beauty. Bagaimana kecantikan yang fana ini berhiaskan kepribadian yang adi luhung, otak yang encer sehingga ada sesuatu yang bisa kita banggakan. Maka tak heran ada seorang teman yang bilang, okey I’m big but here I’m. Dan temanku itu memang sangat cerdas dan ia pantas dihargai karena kompetensinya bukan dilihat karena fisik semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, untuk menjadi cantik, nggak perlu kok harus sampai luka apalagi pake berdarah-darah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-9004200382450378359?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/9004200382450378359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=9004200382450378359' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/9004200382450378359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/9004200382450378359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/01/cantik-itu-luka.html' title='Cantik Itu Luka?'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-2123449318646540962</id><published>2008-01-15T00:40:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T00:42:01.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Seribu Mentari Surga di Hati Perempuan Afghan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Judul Buku: A Thousand Spendid Suns&lt;br /&gt;Penulis: Khaled Hosseini&lt;br /&gt;Penerbit: Qanita&lt;br /&gt;Cetakan: I, November 2007&lt;br /&gt;Tebal: 510 halaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini berkisah tentang pencarian jati diri seorang perempuan Afghan, Mariam,  yang dilahirkan sebagai anak haram, harami. Ayahnya seorang kaya raya di Herat bernama Jalil. Ia mempunyai 3 orang istri dan 9 orang anak. Ia juga memiliki 3 orang pembantu yang kelak di kemudian hari salah satunya menjadi ibunda Mariam. Perempuan itu bernama Nana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengetahui Nana hamil, ia segera disingkirkan. Jalil membangun sebuah kolba,  sejenis gubug, di sebuah tempat terpencil di Gul Daman. Di sinilah Mariam menghabiskan 15 tahun pertama kehidupannya. Tumbuh dari seorang ibu  yang pendendam dan inferior di satu sisi serta ayah yang sangat penyayang di sisi lain menjadi kannya sebuah pribadi yang asing. Ia bingung dengan keberadaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan pertama tampak ketika ia menghadapi prilaku Nana yang selalu menyalahkan keadaan. Karena ia dilahirkan oleh tukang batu yang miskin, menjadi pembantu, hamil diluar nikah, dan diasingkan. Semua hal tersebut membuatnya sangat temperamental. Semua ucapannya mengandung kebencian pada sang hidup. Semua tindakan yang dilakukan Jalil sebagai ayah anaknya dianggapnya sebagai cinta dan kasih sayang palsu. Sementara itu yang diketahui Mariam hanya satu: ia sangat mencintai ayahnya, Jalil. Karena yang dilihat dan dirasakannya begitu. Mariam mendapati dirinya di persimpangan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Maryam bermimpi untuk sekolah, Nana segera memberangus mimpi itu. Ia mendoktrinnya dengan filosofi: tidak ada ilmu yang bisa dipelajari di sekolah. Yang ada hanya satu keahlian yang harus dikuasai  perempuan seperti kita dalam kehidupan ini, dan itu tidak diajarkan di sekolah. Keahlian tersebut adalah tahamul, bertahan! (hal. 33)&lt;br /&gt;Mariam kecil tidak bisa berkata apa-apa. Ia harus menerima segala doktrin ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia kemudian memutuskan untuk menemui Jalil, ia mendapatkan kenyataan yang sesungguhnya. Cinta dan kasih sayang yang ditebarkan Jalil adalah palsu. Jalil tidak bersedia menemuinya meski ia harus menginap di jalanan untuk bertemu dengan ayah tercinta. Alih-alih membawakan cinta, membuka pintu gerbang pun ia tak mau. Mariam pulang dengan kekecewaan yang dalam. Kekecewaan bertambah dalam saat ia menemukan Nana, ibunya tewas gantung diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Jalil mengambil Mariam dan memintanya tinggal di istananya. Di sinilah, ia mendapati dirinya teralienasi dengan lingkungan barunya: Tetapi, di manakah tempatku?Apa yang harus aku lakukan sekarang? (hal. 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Mariam tumbuh dalam kesendiriannya. Ia dijodohkan dengan Rasheed, seorang tukang sepatu di Kabul yang berusia 45 tahun. Ia marah dengan Jalil karena ia sama sekali tidak berpihak padanya dalam kawin paksa ini. Hari-hari menjadi istri dilaluinya dengan keterpaksaan apalagi yang termasuk urusan intim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan=KDRT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KDRT terhadap perempuan mengambil porsi yang besar di novel ini. Bagaimana pada akhirnya Mariam mengalami sendiri konsep bertahan yang dikatakan oleh Nana pada masa hidupnya. Ia terus terngiang-ngiang ucapan Nana bahwa hanya ada satu keahlian yang harus dimiliki oleh perempuan, yakni bertahan. Mariam tidak saja harus bertahan menghadapi kekerasan hidup tapi juga kekerasan yang dilakukan oleh Rasheed, suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KDRT ini dipicu karena Mariam tidak berhasil memberikan keturunan. Kehamilan pertamanya berakhir dengan keguguran. Kenyataan ini membuat Rasheed gelap mata. Setiap tindakan Mariam selalu tidak ada benarnya. Di setiap detiknya hidup Mariam dirundung kecemasan. Ketika menanak nasi, sebagai contoh,  selalu saja tidak benar. Suatu hari Mariam dipaksa menelan batu-batu kerikil hanya karena nasi yang ditanaknya menurut Rasheed kurang matang. Ia juga sering menggunakan ikat pinggangnya untuk mencambuk Mariam. Sampai urusan ranjang pun Rasheed menggaulinya dengan sangat kasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasheed memutuskan untuk menikahi Laila, gadis tetangga yang mereka tolong karena  kedua orang tuanya mati terkena roket Soviet, Mariam pun tak punya hak memperjuangkan hidupnya. &lt;br /&gt;“Aku… aku tidak menginginkan ini,” kata Mariam, merasa mati rasa dengan perasaan tak berharga dan tak  berdayanya.&lt;br /&gt;“Ini bukan keputusanmu. Ini antara aku dan dia.” (hal.262)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Mariam, korban KDRT Rasheed lainnya adalah Laila, istri keduanya. Berbeda dengan Mariam, Laila dilahirkan sebagai anak sah. Namun nasib sebagai perempuanlah yang menjadikannya berada di posisi yang tidak menguntungkan.  Ketika ia melahirkan anak perempuan, segera saja ia mengalami apa yang dialami Mariam. Sekali lagi, karena ia melahirkan anak perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena persamaan nasib akhirnya Mariam dan Laila bersatu. Apalagi ketika tahu bahwa ternyata anak perempuan yang dilahirkan Laila bukanlah anak Jalil melainkan anak  Toriq, kekasih Laila yang dikabarkan telah meninggal oleh Jalil. (Ia bersedia menikahi Rasheed karena di rahimnya telah tumbuh janin, buah cinta terlarangnya dengan Toriq)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika kedua perempuan ini berusaha melarikan diri dari rumah Rasheed. Namun akhirnya mereka tertangkap dan dikembalikan ke rumah suaminya. Rasheed yang merasa harga dirinya diinjak-injak segera mengurung mereka di sebuah gudang pengap dan gelap tanpa memberinya makan dan minum padahal saat itu Laila bersama bayi perempuannya, Azizah. Bahkan sejak bayi pun perempuan mengalami KDRT.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan kemudian, Toriq, kekasih Laila muncul tiba-tiba di Afghan. Pada saat itu Laila sudah mendapatkan anak laki-laki dari Rasheed. Perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan sangat kentara sekali. Kemunculan Toriq di pintu rumahnya diceritakan oleh anak laki-laki Jalil, Zalmai,  pada ayahnya. Ini membuatnya gelap mata. Maka, dihajarnya Laila habis-habisan. Entah darimana datangnya kekuatan, Laila melawan Rasheed. Rasheed hampir saja membunuh Laila kalau saja Mariam datang terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebuah pergulatan yang sengit, akhirnya Mariam berhasil mengalahkan Rasheed. Ia membunuhnya dengan sebuah sekop. Sebenarnya itu adalah sebuah tindakan mempertahankan diri namun kondisi dan situasi di sana yang tidak memungkinkan untuk memberitakan kebenaran maka mereka segera mengubur mayat Rasheed. Mariam merasakan sesuatu yang luar biasa setelah adegan ini. Ia merasa telah membuang jauh-jauh kemampuan tahamulnya. Ia sampai pada penemuan terhadap dirinya. Ia merasa harus melakukan sebuah tindakan yang diatasnamakan untuk kemerdekaan dirinya dan perempuan pada umumnya. Meskipun untuk itu, ia harus rela meringkuk di tahanan dan akhirnya meregang nyawa di depan kalashnikov. Sebelumnya ia meminta Laila meninggalkan Afghan dan segera menikah dengan Toriq. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam eksekusi yang dilakukan pihak Taliban, bukan penyesalan yang dirasakannya. Justru ia mendapati dirinya sangat berharga: jati dirinya sebagai seorang anak manusia. Jauh lebih berharga daripada kemunculannya di dunia ini sebagai seorang harami. Ia meninggalkan dunia sebagai seorang teman, kakak, pelindung, ibu. (hal 456) Ia merasa mendapat kedamaian, kehangatan, sehangat seribu mentari surga yang akan membawanya terbang bersama kemerdekaan yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting Eksotik&lt;br /&gt;Jika Anda penikmat novel-novel dengan setting eksotik, maka novel ini memanjakan Anda dengan setting historis yang sangat kental: perjalanan Afghan mulai dari nostalgi masa-masa indahnya sampai dengan masa-masa kehancurannya. Persis novel pertama Khaled Hosseini The Kite Runner yang juga menjadi best seller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau The Kite Runner bercerita tentang pencarian jati diri seorang anak Afghan maka seperti disebut di depan, novel ini berkisah pencarian jati diri seorang perempuan, Mariam. Keduanya menampilkan langit negeri Afghan yang biru damai pada awalnya hingga akhirnya terkoyak dengan kedatangan pasukan Soviet. Desingan peluru, hamburan roket di udara ibarat gemintang di tengah malam. Darah dan air mata bercampur menjadi adonan santapan kepiluan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul haru birunya masyarakat Afghan menghadapi kaum Mujahidin, teror di mana-mana sampai kedatangan penguasa Taliban yang sangat fundamentalis. Dengan caranya sendiri menyuguhkan nuansa teror yang tidak kalah mencekamnya. Etnic cleansing, kalashnikov, hukum cambuk, hukum rajam, dihapuskannya kesempatan belajar dan bekerja hanya karena seseorang bergender perempuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi yang dilakukan Hosseini sangat sempurna menyentuh relung-relung kalbu, membawa pembaca seolah-olah hadir di sebuah tempat yang penuh teror. Afghan yang indah segera berubah menjadi neraka di setiap inci wilayahnya. Setiap halaman yang terbuka menghadirkan thriller yang berkepanjangan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting yang mencekam ini akhirnya ditutup dengan nuansa yang sangat manis. Sebuah episode dimana Afghan mulai merangkak menuju kehangatan surya di awal hari. Episode yang mampu menarik kembali Laila dan Toriq ke Afghanistan  untuk mengabdikan diri mereka bagi kemajuan dan harapan negerinya. Harapan yang dirasakannya seperti cahaya seribu mentari surga yang selalu bersinar di hatinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-2123449318646540962?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/2123449318646540962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=2123449318646540962' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2123449318646540962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2123449318646540962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/01/seribu-mentari-surga-di-hati-perempuan.html' title='Seribu Mentari Surga di Hati Perempuan Afghan'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-5890591114722324900</id><published>2008-01-15T00:32:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T00:36:16.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Sehalus Lembayung Senja</title><content type='html'>Seorang teman memintaku mendekat dan mengajak bicara dari hati ke hati di suatu sore. Aku pikir ada sesuatu yang sangat penting karena cara dia memulai percakapan terkesan agak canggung. Seperti biasa, aku pusatkan seluruh perhatian untuk menghormati lawan bicaraku, demi menangkap informasi apakah yang akan disampaikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf ya, sebelumnya tapi sudah lama sebenarnya aku ingin bertanya padamu.  Aku lihat kehidupan rumah tanggamu kayaknya enjoy, gitu, apa sih resepnya?”&lt;br /&gt;Aku segera tersenyum simpul lalu merespon,” Darimana kamu tahu kalo kehidupan kami ok-ok aja?”&lt;br /&gt;“Ya, tahulah!”&lt;br /&gt;“Apa kamu juga tahu kalo di dompetku ini ga ada uangnya?” aku mencoba mencairkan suasana yang serius.&lt;br /&gt;“Aku ini serius!” potongnya.&lt;br /&gt;Aku tahu, kata hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia bercerita.&lt;br /&gt;“Ya, banyak sih kesan yang kutangkap. Dari cerita kamu tentang keluargamu. Aktifitas yang kamu lakukan sehari-hari. Tentang dirimu yang meski sudah beranak tiga masih mampu membaca novel-novel tebal, membuat resensinya, punya blog sendiri, bla..bla..bla,” katanya kemudian. (oya, pada waktu itu aku memang sedang menscan cover novel Khaled Hossein terbaru yang baru selesai aku resensi sehari sebelumnya. Resensi bisa dibaca juga lho disini)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku diam. Mencoba memberi ruang yang lebih luas baginya.&lt;br /&gt;“Kalo aku, punya anak satu aja pusingnya bukan main. Apalagi suamiku itu, orangnya kaku!” katanya kemudian.&lt;br /&gt;Ia terdiam menatapku, mencoba mencari tahu apa aku mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuncinya komunikasi. Sekali lagi ko-mu-ni-ka-si,” kataku berlagak ahli penasehat perkawinan. (he-he-he) Padahal kalo dia tahu, meski aku sudah punya tiga malaikat kecil  terkadang masih suka nggondok sama kekasihku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu, dan aku sudah banyak baca teori-teori tentang itu tapi kenapa sulit sekali menerapkannya? Terutama pada suamiku yang nggak banyak omong itu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sampeyan nggak pernah ngobrol berdua? Maksudku, benar-benar berdua thok? Contohnya: kalo kami sih, setelah menidurkan anak-anak, selalu kami sempatkan untuk ngobrol, tentang apa aja, mulai hal-hal kecil sampai yang besar. Hal-hal kecil contohnya sothel(bs jawa) yang patah, cobek yang pecah, kalo yang besar contohnya ya hal-hal yang berbau ideal seperti gimana enaknya pendidikan di negeri ini bisa benar-benar mengedukasi warganya,  pendidikan murah, kesehatan gak mahal,  …,” cerocosku dengan senyum nakal. &lt;br /&gt;“Kamu memang nggak bisa diajak bicara serius, kok,” timpalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, sorry. Take it easy aja. Rumah tangga itu kan sebuah fase kehidupan. Semua itu butuh proses dan kita harus sabar sekaligus pintar dalam mengelola proses ini. (gimana, apa aku sudah kayak psikolog?) Coba segala cara untuk menguatkan komunikasi diantara sampeyan berdua. Masak sih nggak ada kesempatan untuk berdua? mungkin sekedar ngobrol, pijat-pijatan, atau membangkitkan kembali romantisme yang pasti ada di awal-awal menikah dulu? “&lt;br /&gt;“Masalahnya, suamiku itu nggak romantis blas! Latar belakang keluarganya yang keras membentuk kepribadiannya”&lt;br /&gt;“Ya, sampeyan yang mulai. Kalo ia keras, sampeyan yang harus lembut. Klop, kan?Kalo keras dilawan dengan keras, wah… benjut semua!”&lt;br /&gt;Kali ini ia tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang gini nih, coba satu cara untuk berkomunikasi efektif diantara sampeyan berdua. Ciptakan momennya. Dan sampeyan harus benar-benar pintar mencari peluang, maksudku ketika ia sedang nggak capek, nggak sibuk alias dalam kondisi santai. Nah, disitu sampeyan masuk! Ajak omong, sekali kali ngalem juga nggak haram kok. Lelaki mana sih yang kuat ketika kekasihnya bermanja-manja di dekatnya???”&lt;br /&gt;Untuk yang satu ini temanku menatap penuh minat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan pernah menyerah. Cinta itu harus diupayakan. Apinya harus tetap menyala, meski tidak harus berkobar-kobar. Kitalah yang harus mengaturnya, kapan ia harus menyala dengan kekuatan penuh, kapan ia harus menyimpan energi panasnya. Kayaknya sih nggak jauh-jauh amat dari menggunakan kompor untuk memasak makanan.  Terus, jangan lupa mendoakan pasangan kita karena kita ingin kan berkumpul dengannya di alam yang kekal nanti,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku paham benar bahwa bagi sebagian orang menciptakan komunikasi efektif diantara pasangan adalah hal yang tidak mudah. Tapi itu berarti bukan hal yang tidak mungkin, kan? Pernikahan adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Semua orang kayaknya setuju dengan pendapat di atas. Cuma sayangnya, tidak setiap orang mampu memetik hikmah dari perbedaan yang Allah ciptakan tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, kita harus mampu menjadikan diri kita sebagian orang yang mampu dan mau memetik hikmah di balik perbedaan itu. Islam mengajarkan pada kita untuk tak kenal lelah belajar memahami ayat-ayat Allah. Salah satunya,  ayat Allah yang setia di sisi kita, pasangan kita. Terus terang saja, aku yang hampir 7 tahun ini mendampingi kekasihku itu kadang masih menemukan hal-hal yang baru dalam dirinya. Terkadang bergolak ibarat gelombang samudera namun tak jarang lembut sehalus lembayung senja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan melalui serangkaian proses itu butuh kesabaran, ketelatenan. Untunglah kita, perempuan ini dibekali Allah dengan potensi tersebut. Tinggal bagaimana kita memadupadankan potensi tersebut dengan melihat sikon di sekitar kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat belajar, kawan.&lt;br /&gt;Selamat berjuang, kawan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-5890591114722324900?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/5890591114722324900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=5890591114722324900' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5890591114722324900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5890591114722324900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/01/sehalus-lembayung-senja.html' title='Sehalus Lembayung Senja'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-3116338498567268469</id><published>2008-01-09T00:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T00:37:41.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Sarapan Cinta</title><content type='html'>Aku tidak ingat sejak kapan aku punya agenda tetap yang kulakukan ketika hari minggu atau libur tiba. Aktifitas itu sangat sederhana. Saking sederhananya bagiku ia sangat istimewa. Aku mengajak ketiga anakku sarapan pagi atau makan sore di pos kamling di ujung gang. Pos itu berdindingkan tembok pembatas perumahanku yang dibaliknya adalah sawah yang membentang luas sejauh mata memandang. Kadang-kadang kami ditemani sekawanan burung yang sedang mengitari persawahan. Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku membawa mereka ke sana. Berbekal sepiring nasi, sepiring bihun campur wortel, daging cincang, dan bakso serta dua botol air minum ukuran sedang.  Taklupa kubawa selaksa cinta buat mereka di awal hari ini. Kami mau sarapan. Sarapan cinta, begitu aku menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca hari ini sangat cerah. Matahari bersinar penuh, memamerkan kegagahannya pada semesta. Curahan orange cahayanya membagi kehangatan pada tiap unsur penghuni alam. Kulitku serasa dimanja oleh sentuhan hangatnya. Kunikmati sangat pelukannya di pagi ini. Hal yang sangat jarang aku dapatkan di hari kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berangkat pukul enam pagi ketika ia masih malu-malu menyembul. Kadang-kadang aku menikmati hangatnya yang mampir karena aku di jalanan. Sampai di kantor, kulitku langsung disambut dinginnya udara AC yang sudah dinyalakan. Pulang pukul empat atau lima sore, ia sudah tak mau lagi membagi hangatnya. Maka, ini kesempatan langka bagiku. Segera kupamerkan wajahku pada sang surya. Anak-anakku segera menyipitkan mata telanjangnya ketika sinarnnya jatuh menimpanya. Lucu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ummi, lihat ada kuburan!” teriak Safir sambil menunjuk ke arah persawahan. &lt;br /&gt;“Bukan, Fir, itu sawah!” ralat Bita.&lt;br /&gt;“Ndak, itu ada pocongnya!” sahut Safir nggak mau kalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku tertawa, namun ekspresi wajah Safir penuh keseriusan dan aku nggak  mau mengganggunya. Maman melompat-lompat seolah ia meneriakkan bahwa dirinya juga berhak mendapat informasi yang akurat. Segera kuangkat badannya. Ia tampak puas. Ternyata yang dimaksud pocong oleh Safir adalah para petani yang sedang menanam padi sementara kuburannya adalah pematang sawah yang memang berbentuk gundukan seperti kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sawah, Mas, dan yang itu pak tani sedang nanam padi,” kataku kemudian. “Ayo segera duduk dan baca do’a, katanya mau sarapan?” pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu satu persatu anakku itu mulai duduk bersila, menengadahkan kedua tangannya. Tanpa kuminta, Bita memimpin baca do’a sebelum makan. Maman ikut bergumam, dan menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah ketika sampai pada “aamiin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang siapa dulu?” aku selalu menawarkan hal ini agar tidak jadi rebutan ketika suapan demi suapan aku lakukan. Ternyata hari ini suapan pertama dimulai dari Bita kemudian Salman dan Safir. Tentu saja kutambahkan setangkup cinta pada setiap suapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Mbak, buka mulutnya,” pintaku. Suapan pertama masuk dengan sempurna. Selanjutnya.&lt;br /&gt;“Mi, kalo orang mati itu jadi pocong ya?” tanya Safir kemudian.&lt;br /&gt;“Iya Mi, terus disiksa. Bergerak-gerak, gitu,”sahut Bita. “Sofi lho punya CD siksa kubur, pocongnya gerak-gerak, terus ada kebakarannya, merah semua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat beberapa minggu lalu, Sofi dan keluarganya yang tinggal di sebelah rumahku, memutar CD siksa kubur. Aku dan rekan-rekan sudah mendengarkan rekamannya. Mungkin berbulan-bulan sebelumnya. Tentang seorang geolog yang mengebor bumi. Ia menambahkan sejenis microphone untuk melacak kedalamannya.  Tak dinyana, kemudian ia mendapati suara jeritan orang-orang yang disiksa. Bulu kudukku berdiri mendengarnya. Rekaman itu begitu berarti, tapi tanpa ilustrasi.  Dan yang dilihat anakku adalah pocong, orang mati itu menjadi pocong dan disiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak semua orang mati itu disiksa,” kataku sembari menyuapi giliran selanjutnya. Maman agak enggan menerimanya. Ia bergulung-gulung sembari memainkan bihun yang menempel di atas bibirnya. &lt;br /&gt;“ Kalau orang itu baik amalnya, ia tidak disiksa. Makanya, mbak Bita, mas Safir, dan Maman harus jadi orang baik. Sayang sama umi-abi, kakak sayang sama adik-adiknya dan teman-temannya. Kalo ngomong nggak boleh yang kasar-kasar. Allah pasti sayang sama anak yang seperti itu,” lanjutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuaduk bihun campur itu karena mata Safir melirik pada bongkahan bakso yang menggelinding. Ternyata dugaanku  benar. Ia segera minta tambah suapan. Aku  melayaninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Mi, kata ustadzahku kita itu dicatat ya Mi, “ sahut Bita.&lt;br /&gt; “Betul sayang, yang dicatat itu perbuatan kita. Ada malaikat yang mengikuti kita. Kalo kalian melakukan yang baik-baik, malaikat yang di sebelah kanan kita mencatatnya. Kalo yang jelek-jelek, yang sebelah kiri. Nanti, catatan itu diberikan pada kita kalo sudah kiamat. Terus ditimbang. Kalo berat yang baik, maka kita masuk surga. Tapi kalo berat yang buruk maka masuk neraka,” lanjutku. &lt;br /&gt;“Neraka itu apa, Mi?” tanya Safir tiba-tiba.&lt;br /&gt;Aku tersentak, “ Neraka itu tempat bagi anak-anak yang nakal, nggak sayang sama ummi abinya. Kalo anak itu anak baik, sholih sholihah maka tempatnya di surga,” lanjutku sekenanya.&lt;br /&gt;“Cerita lagi, Mi!” seru Safir kegirangan karena bakso yang tersisa diberikan Bita secara cuma-cuma.&lt;br /&gt;“Dan kalian tahu sayang, di surga itu enak. Hawanya sejuk, banyak buah-buahan, pemandangannya indah,”&lt;br /&gt;“Aku pernah ke sana, Mi!” seru Bita tiba-tiba. &lt;br /&gt;“Aku juga, sama abi sama Maman. Sama abi aku dibelikan es krim di surga. Enak, Mi!” tambah Safir nggak mau kalah. Maman masih bergulung-gulung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku tidak tahu apakah mereka paham akan penjelasanku. Apalagi buat Safir dan Maman. Tapi semoga apa yang kuceritakan hari ini mengendap di alam bawah sadarnya dan suatu saat akan menjadi prior knowledge, pengetahuan awal bagi mereka. Aku berhutang pada mereka, atas pertanyaan yang mereka ajukan. Semuanya membuatku berpikir dan belajar kembali menjadi orang tua. Bagaimana aku  harus sabar menjawab pertanyaan mereka yang terkadang datang tiba-tiba dan membuatku tersentak, menyampaikannya dengan bahasa sangat sederhana yang mereka pahami. Ah, anakku terima kasih ya atas rasa ingin tahumu yang sangat tinggi. &lt;br /&gt;Sepiring nasi, bihun campur ludes tak tersisa. Alhamdulillah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari semakin memanasi kami. Keringat mulai muncul di dahi kekasih-kekasih mungilku. Aku sangat merindukan saat-saat seperti saat ini, mengumbar cinta pada momen sarapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Ya Allah, jadikan kami orang tua yang sabar dan anak-anak yang sholih solihah, sehat, dan cerdas. Amin)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-3116338498567268469?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/3116338498567268469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=3116338498567268469' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3116338498567268469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3116338498567268469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/01/sarapan-cinta.html' title='Sarapan Cinta'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-1136934223152051840</id><published>2008-01-05T23:55:00.000+07:00</published><updated>2008-01-06T00:00:22.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Rasanya baru kemarin</title><content type='html'>Rasanya baru kemarin.&lt;br /&gt;Aku dan  kekasihku menatap bintang di depan teras (kalau bisa dikatakan demikian) mini rumah mungilku. Anak-anak baru saja kami tidurkan. Kupeluk lututku untuk mendapat posisi yang nyaman dan meminimalisir gigitan nyamuk-nyamuk nakal. Berdua kami menikmati gemintang yang entah mengapa, seperti kami,  hanya sepasang. Sisanya adalah langit dan kegelapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan di depanku hanyalah rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Hanya ada satu bola lampu, itupun masih berjarak lima rumah dari rumah yang persis di depan rumahku. Sementara di samping kanan, berjarak tiga rumah dari tempat tinggalku adalah pagar pembatas perumahan sederhana ini. Di baliknya adalah bentangan sawah yang menghadirkan symphoni malam: suara jengkerik, nyamuk, kodok, yang berkolaborasi dengan dawai-dawai angin yang bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Romantis ya, Mas, “kataku memecah sunyi.&lt;br /&gt;Kekasihku itu hanya berdehem. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Kebanggaan memulai hidup baru, mungkin. Memiliki rumah sendiri meskipun kecil, lengkap dengan orang-orang yang dicintai: seorang istri dan tiga malaikat kecil. Aku pribadi sangat bersyukur atas karunia  Allah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari sebelumnya kami pindah dari hiruk pikuk Surabaya dan menempati rumah sederhana di bilangan Tanggulangin, Sidoarjo. Rumah tipe 36 dengan ruang tamu, dua kamar, satu kamar mandi dan sebidang tanah di belakang.  Kami menambahkan satu kamar, mushola, ruang keluarga,  dapur,  dan memindahkan kamar mandi ke belakang. Dengan demikian, rumah ini tampak lapang. Apalagi kami mengonsepnya secara minimalis (alias tanpa furniture) Alasan kami sederhana: anak-anak masih kecil. Mereka butuh ruang untuk bergerak. Alasan sebenarnya: belum ada anggaran untuk memilikinya (he he he) Begitulah, rumah ini istana bagiku. Istana bagi kekasih dan anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan tahu, Dik, sebentar lagi daerah sini akan ramai. Aku yakin nggak sampai setahun rumah-rumah kosong itu pasti sudah berpenghuni,” ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;“Mengapa Mas begitu yakin?”tanyaku.&lt;br /&gt;“Kita lihat aja,” jawabnya pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah hidup di perumahan baru sebagai pembabat alas, istilahnya. Hanya ada delapan keluarga dan lokasi rumah yang saling berjauhan terkadang menyisakan ketidaknyamanan bagi yang sudah terbiasa hidup di lingkungan yang sudah jadi. Tapi, inilah hidup. There’s always the first time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang ada perasaan takut menggelayutiku tatkala senja menghilang. Malam datang. Sepi. Sunyi. Apalagi jika kekasihku itu dead line malam. Pernah suatu hari, kekasihku sedang pulang kampung. Tinggal aku bertiga dengan anak-anak dan seorang pengasuh mereka. Tiba-tiba pintu depan diketuk oleh seseorang. Ketika pengasuh anak-anakku itu membukakan pintu tidak ada seorang pun di sana! Ia segera mengunci pintu dan lari ke kamarku. Bukan hantu yang kutakutkan tapi maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, ternyata, prediksi kekasihku itu benar. Tidak sampai setahun rumah-rumah kosong itu telah berpenghuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hidup ini memang penuh misteri. &lt;br /&gt;Aku masih ingat betul saat itu aku sedang mengetik di depan komputer. Tiba-tiba saja kekasihku menunjukkan sesuatu. Kami menggantung kayu di plafon yang terbuka untuk menjemur pakaian. Tidak ada angin tapi kayu itu bergoyang-goyang pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada gempa, Dik,” katanya.&lt;br /&gt;“Aku nggak merasakan apa-apa,”&lt;br /&gt;“Coba lihat ini!” Ia menunjukkan pergerakan kayu jemuran itu. &lt;br /&gt;“Dan ini, “ ia menarik tanganku dan membawaku ke depan. Ke sebuah daun pintu yang permukaan bawahnya bergerak pelan. Aku tidak mempercayainya karena aku tidak tahu tanda-tanda alam. Tapi kekasihku yang banyak belajar dari alam itu sangat bersungguh-sungguh menerangkannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari kutahu apa yang dikatakannya benar. Beberapa hari kemudian, lapindo dan tempat kami berrmukim menjadi berita di mana-mana. Lumpur lapindo menjadi kejutan dalam perjalanan rumah tangga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin.&lt;br /&gt;Tapi ini memasuki tahun ketiga aku dan kekasihku tinggal di negeri bencana ini. Tiga hari yang lalu, tanggul jebol dan banjir melanda desa Ketapang dan sekitarnya. Desa itu hanya berjarak 1-2 km dari istanaku ini. Para penghuni rumah segera menghambur keluar. Sampai-sampai aku melewatkan malam bersama para pengontrak yang tentunya sudah berpengalaman dengan banjir lumpur ini. Aku belajar bagaimana menghadapi hidup yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kekasihku dan bapak-bapak lainnya memantau dari radio. Kulihat mereka berdiri di pos di ujung gang. Pos itu sering kugunakan piknik bersama kekasih-kekasih kecilku. Kalau hari libur aku biasa membawa mereka ke atas pos. Dengan berbekal makanan dan minuman,  aku menyuapi mereka. Kuhamburkan cinta dan kasih sayang di setiap suapan makanan yang kuberikan. Kami duduk bersila, membaca doa sebelum makan, bercanda. Tak jarang Maman kuangkat, kutunjukkan betapa indahnya sawah-sawah yang menghijau di balik pos dan tembok pembatas tersebut. Si jabrik Safir, melompat-lompat, berteriak-teriak tatkala serombongan burung yang aku tak tahu namanya terbang melintas di langit persawahan. Bita, ia selalu saja menikmati lauk dengan sempurna. Ia akan mengikis habis daging dari tulangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, pos itu digunakan bapak-bapak untuk memantau keadaan. Bukan dalam kondisi relaks seperti yang biasa kugunakan namun dalam posisi siaga. Ah, akankah pos itu dan juga rumah-rumah ini akan jadi masa laluku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau air itu sudah masuk ke sawah, itu artinya evakuasi harus dilakukan,” kata kekasihku menyampaikan hasil diskusi bapak-bapak.&lt;br /&gt;Aku diam. Dalam hati aku hanya mampu bermunajat:&lt;br /&gt;Skenario apa ya Allah yang Engkau siapkan untuk kami? Apapun itu, semoga Engkau memberi kami pertolongan dan perlindungan yang sempurna untuk kami, anak-anak kami. Bukakanlah pintu arsy itu ya Robbi, agar hati ini selalu lapang dan luas seluas samudera menerima semua karuniaMu ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, rasanya baru kemarin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-1136934223152051840?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/1136934223152051840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=1136934223152051840' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1136934223152051840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1136934223152051840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2008/01/rasanya-baru-kemarin.html' title='Rasanya baru kemarin'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-5486326253011978645</id><published>2007-12-22T05:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-22T05:41:28.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Maman Sudah Besar</title><content type='html'>&lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;, yang telah menakdirkan serangkaian hari libur di sela-sela hari kerja. Sebuah hitungan hari yang bagiku sangat luar biasa sekali. Aku bisa merentangkan punggung di atas kasur yang meskipun sudah tidak empuk lagi dengan kenikmatan tiada tara, mengaktifkan tangan-tanganku, membersihkan, menata setiap hal yang tiba-tiba menjadi tidak sedap dipandang (padahal di hari biasa semuanya serasa biasa)  atau  meramu, memasak makanan kesukaan anak-anakku, dan yang penting menikmati tumbuh kembang mereka dengan durasi yang tidak pernah kutemukan di hari kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah, anak-anakku telah tumbuh luar biasa!&lt;br /&gt;Yang paling mencolok adalah anakku nomor tiga,  Salman.  Hari ini ia berusia 2 tahun 2 bulan. Selain tubuhnya yang tambah besar ia juga tambah pintar. Ia menyebut dirinya Maman. Sebenarnya aku mendapati fakta ini secara tidak sengaja. Ketika sedang membuka file-file foto di laptop, ia menemukan gambar kakak-kakaknya dan menyebut nama mereka satu per satu. Tita, sebutan mbak Bita. Ma, sebutan mas Safir. Dan ketika mendapati gambar dirinya, dengan segera ia menyebut: Maman. Sejak hari itu, aku dan abinya menemukan nama kecilnya: Maman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman sangat ceria. Setiap detiknya adalah canda. Setiap detiknya adalah tawa. Meskipun detik selanjutnya menjadi tangisan. Ternyata Maman sangat piawai menggoda kakak-kakaknya. Uniknya, ia  mampu membedakan bagaimana bercanda dengan kakak perempuannya atau kakak laki-lakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perempuan, Bita mewarisi sifat keibuan yang kuturunkan: penyayang dan ngemong. Maka dengannya, Maman lebih suka bermanja-manja, menggelitik perut Bita yang gendut dan mencium pipi Bita yang tembem.  Sementara dengan Safir, sang jagoan, ia lebih suka bermain kejar-kejaran, lempar-lemparan bola atau tendang-tendangan. Aktifitas maskulin. Tidak jarang Safir mengajarinya lompatan salto. Dan Maman adalah seorang peniru yang ulung, lompatannya terkadang jauh lebih ciamik dari Safir. Aku hanya bisa mengelus dada. Begitu berbedanya laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Safir, kekasihku berambut jabrik itu sedang sakit. Sudah dua hari ini badannya panas. Akibatya, ia lebih suka bermanja-manja denganku. Sepertinya Maman tahu kalau aku lebih dibutuhkan kakaknya sehingga ia lebih memilih bermain dengan Bita. Ketika aku menyuapi Safir, Bita mencoba mengambil alih peranku. Ia meyuapi Maman. Anehnya, Maman mau! Bita senang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Gimana Mbak?“ tanyaku dari dalam rumah.&lt;br /&gt;„Habis, Mi!“ jawab Bita dari teras. Sepiring nasi bersayur sop dan lauk empal daging itu ludes tak tersisa. &lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku  menghambur diri keluar.&lt;br /&gt;„Makasih ya Mbak, sudah bantu ummi,“ kataku pada Bita.&lt;br /&gt;„Salman pintar Mi makannya,“ jawabnya.&lt;br /&gt;Segera aku hujankan ciuman pada mereka. Seperti biasa, Maman mengerucutkan bibirnya. Tanda sayang, mungkin itu yang ada dalam benaknya.&lt;br /&gt;Maman memang sudah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggulangin, 22 Des 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-5486326253011978645?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/5486326253011978645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=5486326253011978645' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5486326253011978645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5486326253011978645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/maman-sudah-besar.html' title='Maman Sudah Besar'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-7705667858725819117</id><published>2007-12-21T03:04:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T03:18:22.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Dari Acara Diklat Kompetensi Guru B. Inggris SMP, SMK, dan SMA Kota Surabaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Hari pertama, Senin 17 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Baru saja aku meletakkan tas di meja kerjaku, tiba-tiba korbid (koordinator bidang studi) ku menemui dan mengajakku berangkat ke sebuah acara di kampus UNESA, Lidah Wetan. Tentu saja aku terkejut, kok mendadak begini? Memangnya acara apaan? Segera saja ia menceritakan kalau acara ini erat kaitannya dengan follow up uji kompetensi guru yang dilakukan diknas kota beberapa waktu silam. Segera saja aku mengemasi tasku karena surat tugas sudah dibuat. Singkat cerita, kami sampai di acara tersebut dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan kedua kudapatkan ketika sampai di forum tersebut. Tidak ada spanduk apapun, baik ucapan selamat datang atau yang menunjukkan ini acara apa, siapa penyelenggaranya, tujuannya apa dan nyaris tanpa protokoler. Peserta hanya menandatangani daftar hadir rangkap tiga dan mendapatkan susunan acara selama tiga hari ke depan beserta copi materi hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peserta sekitar 250 orang guru negeri dan swasta, acara ini dikemas dengan tidak profesional. Acara molor 40 menit dari yang dijadwalkan, pukul 08.00. Kulihat hanya ada seorang bu Syukriah, dosenku dulu mondar-mandir di depan. Aku pikir ia sedang menunggu seseorang untuk membuka acara. Ternyata, tidak ada pembukaan, pembicara yang dosen UNESA itu langsung tancap gas. Meminta peserta melihat hand out yang diberikan dan mulai membahas materi hari ini, &lt;em&gt;Reading&lt;/em&gt;. Persis pertemuan dosen dan mahasiswa yang bersifat reguler. Tidak menyiratkan sama sekali bahwa kami, para peserta ini datang untuk kali pertama dan tidak tahu apa tujuannya dikumpulkan di sini. Dengan begitu, kami tidak yakin mampu menangkap esensi acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan ketiga kudapatkan saat break. Karena tergelitik dengan kronologis acara hari ini ditambah rasa penasaranku terhadap acara ini kuberanikan diri bertanya: Maaf bu kalau saya sedikit lancang, sebenarnya tujuan acara ini apa?untuk apa kami dikumpulkan di sini?kok tidak ada pembukaannya, no goal setting, dan ibu langsung masuk materi. Diluar dugaan, bu syukriah juga menjawab tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya menyatakan diri sebagai pemateri, itu saja. Tapi buru-buru ia menjelaskan kalau ia dibekali dengan secarik kertas berisi beberapa instruksi diantaranya: kalau ada yang bertanya apakah acara ini ada kaitannya dengan uji kompetensi guru yang dilakukan beberapa waktu lalu jawabannya tidak, dan tindak lanjut acara tersbut masih belum dipikirkan, kalau ada yang bertanya apakah yang hadir di sini tidak lulus pada saat uji kompetensi guru jawabannya tidak, bla…bla…bla…, kalau ada yang bertanya apakah peserta akan mendapat sertifikasi jawabannya ya.&lt;br /&gt;Kemudian ibu yang tetap cantik energik ini mengumumkan pertanyaanku dan membacakan semuanya tadi di depan peserta setelah break. Ketika sampai pada kosakata sertifikat, segera saja tepukan riuh menggema di auditorium ini. Ah, selalu saja sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari kedua, 18 Desember 2007 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku siap dengan kejutan selanjutnya.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, tak habis-habisnya aku mendiskusikan acara ini dengan korbidku. Kami mengkritisi habis-habisan UNESA yang menyelenggarakan acara besar semacam ini dengan asal-asalan. Mengapa kami menyebut asal-asalan? Ya, salah satunya karena alasan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, dengan jumlah peserta yang relatif besar sebenarnya UNESA bisa lebih well prepared. Dibentuk sebuah panitia, disusun sebuah acara yang mampu memberikan gambaran jelas apa yang akan didapat peserta setelah pelatihan, apa manfaatnya bagi guru sebagai peserta sehingga ketika pulang dari acara ini guru merasa mendapat sesuatu. Bukan sekedar sertifikat. Bukankah hal ini sebagai bagian dalam Pengabdian Pada Masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal sertifikat, mungkin saat ini dikatakan sebagai &lt;em&gt;euphoria &lt;/em&gt;bagi guru mengumpulkan sertifikat. Dan itu tampaknya telah menjadi makanan empuk bagi pengeruk uang. Lihat saja di surat kabar, berapa jumlah training sertifikasi tiap minggunya. Ujung-ujungnya, uang. Karena guru merasa butuh sertifikatnya maka tak segan-segan ia membayar sejumlah rupiah. Sekali lagi, karena sertifikat dan bukan ilmunya. Ironis bukan dunia pendidikan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, pelatihan guru profesional yang diselenggarakan oleh Klub Guru beberapa waktu silam. Menurut seorang teman, jumlah peserta mencapai 200 an guru sampai-sampai panitia kehabisan sertifikat. Coba dikalkulasi kalau setiap pesertanya membayar 50 ribu rupiah, berapa jumlah transaksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke acara. Ketika kami sampai, acara baru dimulai. Seperti biasa kami duduk di barisan terdepan. Entah mengapa, barisan terdepan selalu kosong. Bagi kami, justru forum-forum seperti ini membutuhkan tingkat keseriusan lebih dan karenanya duduk di depan adalah pilihan yang tepat. Kami bisa menyimak materi dengan jelas, akses bertanya, komplain dan menyampaikan saran jauh lebih mudah dan cepat dibanding dengan penghuni barisan belakang. Belum lagi, kalau ternyata sang pembicara membutuhkan bantuan, maka penduduk terdepan punya akses lebih luas untuk membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Rini, pemateri hari ini adalah dosen favoritku ketika masih kuliah dulu. Ia tampak awet muda. Dengan kaos dan celana hitam dipadu rompi bunga-bunga merah menawarkan kesan perpaduan maskulin feminin yang eksotik. Bu Rini masih sumringah, caranya mengajar step by step, bahasanya terpilih dan tertata dengan rapi persis dengan materi &lt;em&gt;Structure &lt;/em&gt;yang dibawakan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerangkan selama lebih kurang setengah jam kami harus mengerjakan soal di hand out yang sudah diberikan panitia. Soal tersebut terdiri dari 9 item soal errror analysis dan 15 soal pilihan ganda yang harus dikerjakan secara berkelompok. Jenis soal tersebut sangat membutuhkan kejelian yang dalam. Untungnya kami bekerja secara berkelompok. Ada dua orang guru yang tergabung di tim kami, pak Ari dari SMP 24 dan bu (saya lupa namanya) dari SMP Sudirman. Diskusi berjalan lancar di awal dan pertengahan sampai akhirnya aku merasakan kejenuhan juga. Capek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah sesi pembahasan. Entah sudah berapa item jawaban yang salah hanya karena kami kurang teliti dan lupa karena sudah lama kemampuan menganalisa tersebut jarang kami pakai. Sesi ini juga mengambil waktu yang relatif lama dan berujung kebosanan. Forum terlalu kaku, kami hanya duduk manis dan tak bergerak kecuali otak kiri kami. Akhirnya, ustad Darwis mengingatkan bahwa waktu kurang sepuluh menit dan bu Rini belum memberikan apa yang dijanjikan. Ia berjanji akan sharing tentang pembuatan RPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari ketiga, 19 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Belajar dari pengalaman dua hari sebelumnya maka kami menyiapkan diri untuk menulis hari ini karena materinya Writing. Pematerinya bu Lies Amin, dosen UNESA juga. Penampilannya jauh berbeda dengan ketika aku masih menjadi mahasiswanya. Ia sudah berjilbab. Baju warna blewah dengan jilbab senada dipadu celana hitam menampilkan kesan ceria. Dan benar, bu Lies benar-benar ceria!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan bu Rini yang tampak elegan, perempuan satu ini cenderung lebih terbuka, blak-blakan logat Surabayanya dan candanya menurutku kurang cerdas. Ia cenderung nyerempet-nyerempet bahaya. Dosen ceria ini mengklaim dirinya sebagai dosen yang suka ngeyel, tidak mau kalah dan berminat besar pada menulis. Dengan terus terang (sedikit sombong?) ia mengakui tidak bisa grammar dan hanya bisa menulis. Karenanya, ia didapuk membawakan materi &lt;em&gt;Writing An Argumentatif Essay&lt;/em&gt;. Melihat makalahnya, aku bisa menilai kalau memang ia concern di &lt;em&gt;Writing&lt;/em&gt; karena ia satu-satunya pemateri yang menampilkan Bibliography dalam makalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, menulis itu erat kaitannya dengan kondisi pikiran seseorang. Kalau orang itu cenderung berpikir linier maka tulisan yang dihasilkannya akan bagus, dengan serentetan logika yang tajam dan tidak mbulet. Tulisan para peserta uji kompetensi guru kemarin dinilai dosen ini sebagai tulisan yang mbuleting alias mbulet, berputar kemana-mana dan tidak fokus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ditampilkannya slide (ia satu-satunya pemateri yang memanfaatkan tehnologi informasi, laptop dan LCD namun sayang rupanya ia masih belum prigel dalam menggunakannya, belum melek IT) berisi karya seorang peserta uji kompetensi guru kemarin yang dinilai mbulet tadi. Dikritisi dengan alat bantu makalah tadi. Menurutnya, menulis Esai Argumentasi kuncinya pada seberapa jauh kita mempertahankan pendapat kita dengan menuliskan alasan-alasan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karakteristik tulisan esai argumentasi adalah:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The argumentative essay should introduce and explain the issue or case.&lt;br /&gt;The essay should offer reasons and support for those reasons.&lt;br /&gt;The essay should refute opposing arguments.&lt;br /&gt;If an opponent does have a valid point, concede that point.&lt;br /&gt;The conclusion should logically follow from the argument.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Esai Argumentasi biasanya terdiri dari tiga bagian: Introduction, Body, and Conslusion. Untuk membuat Introduction yang bagus, penulis harus memikirkan beberapa hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. The section relating the topic to the reader’s own experience.&lt;br /&gt;2. A question that sets out the problem behind the topic.&lt;br /&gt;3. A statement of why some people disagree with the writer and are likely to hold that opinion.&lt;br /&gt;4. A statement that sets out the writer’s own opinion to the topic. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Body &lt;/em&gt;terdiri dari kalimat-kalimat pendukung yang masing-masing paragraf hanya berisi satu alasan, tidak lebih.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Conclusion&lt;/em&gt;. Ada dua kesalahan mendasar yang sering dilakukan oleh penulis argumentasi. Pertama, teks argumentasi diakhiri tanpa simpulan. Kedua, kalaupun ada simpulan, biasanya berisi ide baru. Beberapa metode untuk menuliskan simpulan diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Climax &lt;/em&gt;: menunjukkan ide terakhir yang berkaitan dengan poin utama tulisan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Restatement &lt;/em&gt;: menuliskan kembali atau menyimpulkan ide pokok tulisan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Application &lt;/em&gt;: menuliskan penerapan dari materi tulisan yang dipresentasikan. Selama tidak mengandung ide-ide baru (di luar yang sudah dibicarakan di introduction dan body) penulis bisa mengakhiri tulisannya dengan a challenge, a suggestion of importance atau a provoking question.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bu Lies mengakhiri materinya dan forum ditutup tanpa tanya jawab. Dan benar dugaanku, forum ditutup tanpa ada evaluasi. Tidak meminta sedikitpun kritik dan saran dari peserta baik secara lisan maupun tulisan. Rupanya panitia sudah cukup percaya diri kalau acara yang digelar selama 3 hari ini sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang penuh kejutan. Kejutan terakhir kudapatkan ketika hasil uji kompetensi guru yang lalu diumumkan lewat selebaran yang menurut bu Lies masih rahasia dan tidak boleh keluar dari forum. Dari 250 peserta yang ikut, alhamdulillah aku berada di peringkat ke 8 dengan nilai rata-rata 87. Korbidku berada di 2 atau 3 tingkat di bawahku sementara teman-temanku yang lain agak jauh di bawah, sekitar peringkat 60 sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;However&lt;/em&gt;, diklat 3 hari ini memberiku banyak ilmu. Pertama, bagaimana mengelola sebuah acara dengan bagus. Kedua, memotivasi diri untuk selalu belajar, khususnya IT karena sudah saatnya bagi guru untuk melek IT. Ketiga, ini yang paling aku suka karena aku bertemu dengan orang-orang dari masa lalu, sahabat, dosen dan selaksa kenangan yang tinggal bersama mereka. Terlebih lagi karena kami memiliki komitmen yang sama, mencerdaskan anak bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-7705667858725819117?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/7705667858725819117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=7705667858725819117' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/7705667858725819117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/7705667858725819117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/dari-acara-diklat-kompetensi-guru-b.html' title='Dari Acara Diklat Kompetensi Guru B. Inggris SMP, SMK, dan SMA Kota Surabaya'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-3359846488256482719</id><published>2007-12-13T22:00:00.000+07:00</published><updated>2007-12-13T22:05:03.678+07:00</updated><title type='text'>Workshop on English Language Assessment  and Leadership Development in English Language teaching</title><content type='html'>Organizer:&lt;br /&gt;The English Education Department, Graduate School&lt;br /&gt;Widya Mandala Catholic University Surabaya&lt;br /&gt;In collaboration with&lt;br /&gt;The U. S. Regional English Language Office&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date and Venue :&lt;br /&gt;On Monday, 10 December 2007&lt;br /&gt;From 08.00 – 16. 00&lt;br /&gt;Graha Widya Mandala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topic and Speakers:&lt;br /&gt;Dr. Adrian Palmer &lt;br /&gt;v     Four Roles of Topical Knowledge in Language Assessme&lt;br /&gt;v     Assessment Use Arguments in Assesstment Development and Use&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Mary Ann Christison&lt;br /&gt;v     Leadership Development in English Language Teaching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Adrian Palmer is Professor of Applied Linguistics at the University of Utah. His areas of specialization include language assessment, teacher training and professional development, and language teaching methodology. He regularly offers a wide variety of workshops and presentations on language assessment, language teaching, and teacher professional development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. MaryAnn Christison is Professor of Linguistics/Director of Graduate Studies, and Adjunct Professor, Departement of Teaching and Learning University of Utah, Salt Lake City, Utah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her area of expertise covers language and the brain, brain based teaching, leadership development, second language acquisition, language revitalization, learning styles and strategies, multiple intelligences, content-based instruction, cooperative learning, learning theory, curriculum design, materials development, L2 teacher eduacation, and language teaching methodology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She teaches English Grammar, Introduction to Linguistics, Expository Writing, L2 theory, L2 Methodology, L2 Practicum, L2 Curriculum Design, Content-based instruction, Pedagogical Structure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Result:&lt;br /&gt;The committee began the workshop at a quarter to nine. It was 45 minutes late from the schedule since they had a little bit trouble with computer and LCD. The first agenda was an opening ceremony given by Wuri Soedjatmiko, the director of Graduate School. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Session I was given by Prof. Dr. Adrian Palmer. He talked about Designing Useful Language Teaching Tasks. He warmed up the audience with a question: What makes a language test useful?&lt;br /&gt;To answer the question, he gave us four qualities of usefulness i.e Reliability, Construct validity, Authenticity, and Beneficial Impact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Session II was given by Prof. Palmer, too. The topic was Creating Meaningful Language Teaching Tasks.  Meaningfulness, according to him depends on the degree of involvement of various attributes of an individual in performing a language use task, including&lt;br /&gt;Topical knowledge&lt;br /&gt;Language knowledge&lt;br /&gt;Personal attributes&lt;br /&gt;Affective schemata&lt;br /&gt;Problem Solving strategies&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Session III was given by Prof. Dr. MaryAnn Christison. Her topic was Leadership Development in ELT. First, she led us to  traditional views on leadership such as leaders are born not made, it deals with position so that only leaders lead. Then, she brought us into emerging views on leadership such as leadership is defined by the behaviours not the position, leaders’ behaviours can be quantified and studied, and we can learn to be an effective leader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She offered two models of leadership development:&lt;br /&gt;Leadership IQ.&lt;br /&gt;v     Leadership can be defined and measured as a form of intelligence.&lt;br /&gt;v     Effective leaders know how to say the right thing to the right people at the right time in order to get the right work done.&lt;br /&gt;v     Leadership IQ can be activated through specific activities that lead to behaviours associated with effective leadership.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are 8 roles for Leaders:&lt;br /&gt;1.      The selector&lt;br /&gt;2.      The connector&lt;br /&gt;3.      The problem solver&lt;br /&gt;4.      The evaluator&lt;br /&gt;5.      The negotiator&lt;br /&gt;6.      The healer&lt;br /&gt;7.      The protector&lt;br /&gt;8.      The synergizer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meta-analyses of Effective Leaders.&lt;br /&gt;Characteristics of Effective Leaders are:&lt;br /&gt;v     Affirmation&lt;br /&gt;v     Change Agent&lt;br /&gt;v     Communication&lt;br /&gt;v     Protector&lt;br /&gt;v     Flexibility&lt;br /&gt;v     Focus&lt;br /&gt;v     Ideas/beliefs&lt;br /&gt;(detailed information can be found in the hand out)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-3359846488256482719?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/3359846488256482719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=3359846488256482719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3359846488256482719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3359846488256482719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/workshop-on-english-language-assessment.html' title='Workshop on English Language Assessment  and Leadership Development in English Language teaching'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-8427205328515764492</id><published>2007-12-08T09:17:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T09:21:40.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerbung'/><title type='text'>Menanti Pagi Kembali (III)</title><content type='html'>Begitulah. Sore itu kuhabiskan bersama Amanda. Gadis manis bergincu tebal ini menceritakan semuanya kepadaku. Why me? Ah, aku tidak mau ambil pusing mengapa aku tempat curahan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bibirnya mengalirlah cerita tentang lelaki misterius yang telah merampas masa mudanya itu. Tentang bunga-bunga cinta yang bertaburan di mana saja ia melangkah. Senyumnya selalu merekah setiap ia menceritakan detil kehidupannya. Matanya melompat-lompat indah menggambarkan dunianya. Untunglah aku cukup realistis menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beruntung masih dikaruniai logika untuk menimbang dan mengukur apa yang sampai di otakku. Kalau tidak, mungkin aku akan menautkan selaksa perasaan dan pasti cemburu berat demi mendengar kisah cintanya yang menurutnya sangat fantastik itu. Amanda bercerita tanpa memberikan jeda. Aku mendengar penuh khidmat dan tidak ingin mengajukan pertanyaan secuil apapun sampai ia pada suatu klimaks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Tapi aku merasa ada yang berubah dengan teman-teman se&lt;em&gt;gank&lt;/em&gt;ku Dhan, aku merasa mereka telah menjauhiku,“ katanya kemudian.&lt;br /&gt;’’Apa tidak sebaliknya?“ pancingku.&lt;br /&gt;’’Maksudmu?“&lt;br /&gt;’’Ya, menurut mereka kamu yang semakin jauh. Kamu tidak pernah lagi kumpul-kumpul dengan mereka. Begitu selesai kuliah, kamu cabut dengan kekasihmu itu,”&lt;br /&gt;’’Iya juga sih. Dhan, ada satu hal yang aku rahasiakan dari kalian semua,“ kali ini mimiknya lebih serius. Begitu cepatnya dunia ini berubah, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menekuk kepalanya dan tampak berhati-hati. Ia sangat bersusah payah untuk memulainya. Aku mulai mencium hal yang kurang bagus. Semoga hanya perasaanku saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Dhan, Mas Andi itu sudah berkeluarga,“ katanya lirih. &lt;em&gt;Glek&lt;/em&gt;, aku menelan ludah.&lt;br /&gt;Ternyata benar.&lt;br /&gt;’’Tapi aku nggak mau menyerah!” Aku kaget.&lt;br /&gt;’’Maksudmu?“ tanyaku tak paham.&lt;br /&gt;’’Menurutmu apa aku salah memperjuangkan cintaku? Mas Andi bilang ia tidak bahagia dengan pernikahannya. Sebenarnya istrinya itu jauh lebih cantik dariku tapi ia tidak bisa mengimbangi ketika Mas Andi mengajaknya berdiskusi tentang banyak hal. Maklum saja, ia hanya lulusan SMA dan mereka dijodohkan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bull shit!!” komentarku.&lt;br /&gt;’’Berapa anaknya?“&lt;br /&gt;’’Dua dan istrinya sedang mengandung anak ketiga,“ jawabnya enteng.&lt;br /&gt;’’Gila kau!!!“ kataku&lt;br /&gt;’’Dengar dulu, ’’katanya tidak mau kalah.&lt;br /&gt;’’Mas Andi itu baik, Dhan. Ia bersedia mengenalkan aku padanya. Nanti kalau tiba waktunya ia akan mengenalkan aku pada istrinya itu. Aku tidak akan mundur, Dhan, meskipun harus jadi istri kedua.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahan lagi. Kepalaku pusing. Amanda benar-benar telah dibutakan oleh cinta, sebuah jerat yang dipasang seorang laki-laki dua putra, mau tiga bahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Pikirkan lagi masak-masak, Non. Kamu ini sedang dilanda cinta, mabuk asmara. Semua yang di dekatmu pastilah menawarkan pesona. Sekarang aja kamu sudah nggak tertarik lagi dengan dunia kampus, rapat-rapat senat selalu kamu tinggalkan. Kuliah-kuliah pun, jarang kutemukan dirimu. Atau kalau tidak, selesai kuliah kamu cabut dengan katana silvernya. Ingat, masa depanmu masih panjang. Kita masih semester lima,” pintaku serius. Amanda mendengarkan seperti anak kecil dimarahi oleh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Okelah kalau itu masukanmu, “ katanya kemudian.&lt;br /&gt;“Tapi agama kita kan nggak melarang lelaki berisitri lebih dari satu?” protesnya.&lt;br /&gt;“Aku setuju tapi jalan itu ditempuh karena berbagai sebab dan persyaratan tertentu. Kalau sebabnya hanya karena istri tidak nyambung diajak bicara terus kawin lagi, ya .. itu nggak syar’i. Apalagi kemudian pacaran dengan mahasiswi sementara istri di rumah menanti-nanti, dalam kondisi hamil, Nda. Sekali lagi &lt;em&gt;think twice&lt;/em&gt;, Non!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu mau tahu pendapatku, tinggalkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Sadarlah, kamu sedang bermain api. Kalau tidak hati-hati bisa terbakar nanti!” seruku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu dari mana aku mendapat kosa kata itu. Naluri kewanitaanku mungkin yang mengajari semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu berakhir kaku, beku, seperti suasana hari ini yang dingin mendung. Awan di langit sangat menggantung. Tinggal menunggu hujan turun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-8427205328515764492?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/8427205328515764492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=8427205328515764492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8427205328515764492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/8427205328515764492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/menanti-pagi-kembali-iii.html' title='Menanti Pagi Kembali (III)'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-9009603928878864941</id><published>2007-12-08T09:06:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T09:16:37.387+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerbung'/><title type='text'>Menanti Pagi Kembali (II)</title><content type='html'>Aku tidak menaruh perhatian khusus kepada Amanda. Bukan karena aku tidak punya rasa empati yang tinggi tapi kami memang disibukkan dengan urusan masing-masing. Seperti dia, aku pun harus bekerja paroh waktu untuk kelancaran kuliahku. Orang bilang agar kita bisa mandiri namun jujur saja kami memang orang kecil yang bercita-cita tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak diakali dengan bekerja, rasanya kami tidak mampu membiayai foto kopi materi atau diktat kuliah. Belum lagi biaya hidup di kota besar ini. Itulah mengapa sebagian besar mahasiswa di sini sudah bekerja paroh waktu. Dan itu menjadi kebanggaan bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Amanda, seperti kubilang tadi, aku tidak pernah menaruh perhatian khusus kepadanya sampai terdengar berita kalau ia menjalin hubungan khusus dengan suami orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya yang membawa berita itu bukan Tina, sahabat dekat Amanda mungkin aku tidak percaya. Tapi ini Tina, salah satu dari lima sekawan (Tina, Amanda, Rinta, Selvy dan Indah), dan ia memintaku khusus membicarakan masalah ini. Berdua saja. Lalu apa hubungannya denganku? Aku bukan geng mereka. Semua ini membuatku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dhan, Amanda &lt;em&gt;is in trouble&lt;/em&gt;, “ katanya.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Trouble&lt;/em&gt; apa?” tanyaku&lt;br /&gt;“Kamu tahu, laki-laki yang biasa antar-jemput dia. Yang pakai Katana silver, yang selalu menunggunya kuliah?”&lt;br /&gt;“Ya…. ,” sahutku tak yakin,”&lt;br /&gt;"Tahu bagaimana?”&lt;br /&gt;“Menurut kamu, dia itu cocok nggak sebagai mahasiswa?”&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa kalau bukan mahasiswa?” tanyaku bodoh.&lt;br /&gt;“Dhan, orang ini telah merampas kehidupan Manda,”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak Manda kenal laki-laki ini, ia jarang berkumpul dengan kami. Setelah kuliah, mereka langsung cabut. Bahkan diantara jam kuliah, ia menungguinya seolah-olah Manda itu miliknya, “&lt;br /&gt;Tina berapi-api terbakar cemburu.&lt;br /&gt;“Memangnya kamu tidak tahu siapa laki-laki itu?” tanya Tina penuh selidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau di tempat kerja, gimana? Apa laki-laki itu juga sering nongkrongin Manda?”&lt;br /&gt;“Kayaknya enggak tuh. Tapi entahlah… karena jam kerja kami berbeda. Setelah aku selesai urusanku ya langsung pulang sehingga meskipun kami satu kantor jarang ketemu juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu Dhan, Mas Andi, nama laki-laki itu, membuat Manda tidak punya kesempatan bersama kami lagi. Percaya nggak, kemarin Manda mengatakan ia harus meninggalkan kehidupan hura-huranya. Ia harus mencoba lebih serius lagi menghadapi kehidupan ini. Lebih parah lagi, Mas Andi itu sepertinya sudah punya keluarga,” kata Tina berapi-api. “Ah, yang benar??” tanyaku tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri sudah curiga sejak pertama kali melihatnya. Potongannya itu lo, nggak mahasiswa banget,” kata Tina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam, tidak berani menduga-duga. Mungkin ini alasan Tina selalu menanyakan pertanyaan yang sama padaku apakah Andi pantas sebagai mahasiswa. “Tapi kamu dapat berita itu darimana?” “Ya, feelingku aja,” jawabnya dengan mudah. Ah, ternyata cuma feeling Tina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari ini ada meeting semua staf. Itu berarti aku akan bertemu Amanda setelah sekian lama tidak berjumpa. Ia jarang kelihatan di kampus. Kalaupun kelihatan pasti hanya di dalam ruang kuliah, selebihnya ia akan menghilang. Tentu saja dengan Andi, laki-laki misterius yang selalu setia mengantar, menunggui untuk kemudian cabut dengan Katana silvernya. Sepertinya Tina benar. Andi telah mengambil Amanda dari komunitasnya. Sementara Amanda tampak sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, “ tepukan di bahuku membuyarkan lamunanku. Amanda memamerkan senyum di bibirnya yang penuh oleh gincu merah tua. Setua warna blus yang dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, gimana kabarnya? Rasanya lama sekali tidak bertemu,” kataku menyambut salamnya. “Baik-baik aja,” jawabnya,” Dhan, aku ingin ke rumahmu, boleh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why not? Kapan?” tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;“Setelah meeting ini, “ jawabnya datar.&lt;br /&gt;“Tidak ada yang menjemputmu?”tanyaku memastikan Amanda hanya menggeleng, “ Itu pun kalau kamu nggak ada agenda keluar,” Aku tersenyum dan menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Selepas meeting, Amanda akhirnya ke rumahku. Kami naik angkot. Jarak kantor ke rumahku memang tidak begitu jauh. Sepanjang perjalanan kami bercerita apa saja. Mulai dari kuliah sampai urusan kantor. Sebenarnya sih Amanda yang banyak mendominasi cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, aku memang ingin menjadi pendengar yang baik. Barangkali dengan hanya mendengarkan saja aku bisa menyelami apa yang sedang bergayut dalam diri gadis yang pernah menjadi wakil senat mahasiswa ini. Kutangkap selintas ada galau di matanya meski senyum Amanda tidak pernah lepas dari bibir bergincu merah tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kamu nggak ada acara, Dhan?” tanyanya setelah sadar aku hanya mendengarkan saja.&lt;br /&gt;“Nggak,” jawabku pendek&lt;br /&gt;“Akhir pekan seperti ini aku lebih santai. Nggak ada kuliah, kerjaan juga nggak banyak. Jadi aku lebih banyak waktu buat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;“Pacar?”tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuma tersenyum. Bagiku tidak ada kosa kata pacar. Yang ada hanyalah bagaimana menyelesaikan kuliahku dengan baik, kemudian bekerja baru menikah. Sekali lagi, menikah! Dan bukan pacaran. Mungkin aku kolot tapi menurutku itu yang lebih logis. Aku tidak percaya dengan komitmen orang berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hal itu disebut baik jika relasi lawan jenis yang belum diikat oleh hukum manapun sudah berani melangkah sedemikian jauhnya. Apa sih yang dilakukan oleh pasangan yang berpacaran? Ngeri rasanya melihat fenomena anak muda sekarang dalam berpacaran. Dan aku tidak mau ambil bagian dalam dosa publik seperti itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-9009603928878864941?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/9009603928878864941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=9009603928878864941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/9009603928878864941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/9009603928878864941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/menanti-pagi-kembali-ii.html' title='Menanti Pagi Kembali (II)'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-1824067235687765415</id><published>2007-12-07T23:45:00.001+07:00</published><updated>2007-12-07T23:48:23.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>My First Blog</title><content type='html'>Beruntung sekali aku punya suami yang motivator ulung, sahabat yang lebih sering mendengar, kekasih yang punya hati seluas samudera, entertainer yang punya segudang canda-- kadang cerdas namun tak jarang konyol luar biasa--dan ayah yang tidak jarang jadi kuda bagi anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ilmunya yang sederhana, kekasihku itu mengajari banyak hal. Mulai hal-hal yang berbau ideal seperti bagaimana memaknai hidup secara sederhana, ikhlas tanpa batas, serta bagaimana menumbuhkembangkan cinta yang ada untuk menyebut beberapa. Atau  hal-hal tehnis seperti bagaimana memilih ketela yang baru untuk membuat kolak atau yang sedikit gaul seperti bagaimana membuat blog seperti yang saat ini aku lakukan (thanks honey).   Yap! Inilah hari pertama kutapakkan jari tangan dan pikiranku di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat? Untunglah aku penganut prinsip never too late. Aku berharap banyak dari aktifitasku ini karena aku ingin mendapat lebih dan menjadi lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah bagiku-- ibu tiga orang balita dan akan menjadi empat dalam hitungan bulan, serta pegawai yang menghabiskan 8 jam kerja setiap hari di kantor--  untuk berkembang. Rutinitas kerja dan membesarkan anak-anak merupakan aktifitas utamaku. Dan itu membutuhkan energi yang luar biasa. Hampir-hampir aku tidak punya kesempatan untuk  berkembang. Hidupku benar-benar stagnan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak hendak menjadikan kerja dan kesempatan membesarkan anak-anak sebagai alasan kebekuanku. Sungguh tidak bijak! Anak-anak dengan mata indahnya sangat tidak pantas dijadikan apologi. Justru di sini aku sampai pada kesadaran bahwa aku tidak cukup pintar dalam mengelola waktuku, the rest of my life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah mutiara, tabunganku di masa depan, sementara pekerjaanku sebagai praktisi pendidikan sesungguhnya menawarkan berjuta peluang untuk menebar cinta dan kasih sayang. Eureuka!!! Aku telah menemukan cara pandang yang baru! Sekarang aku punya niat, semangat, motivasi, nyali, atau apapun namanya untuk menebus semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life begins now!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-1824067235687765415?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/1824067235687765415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=1824067235687765415' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1824067235687765415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1824067235687765415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/my-first-blog.html' title='My First Blog'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-2062340852814697153</id><published>2007-12-07T23:41:00.001+07:00</published><updated>2007-12-07T23:43:04.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>ZIAH</title><content type='html'>Ia anak yang unik. Aku tahu setiap anak itu unik tapi Ziah berbeda. Bahkan sejak pertama kali aku melihatnya, aku bisa merasakan aura keunikan itu. Insting keibuanku yang mengatakan itu. Insting keguruanku mendukung asumsi itu. Dan insting kewalikelasanku mendorong pembuktian asumsi itu. Ziah memang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua puluh delapan anak di kelasku, Ziahlah yang pertama kali menarik perhatianku. Caranya berbicara, memandang, berjalan, bersosialisasi dengan lingkungan tidak seperti anak kebanyakan. Dan asumsi itu dibenarkan fakta-fakta yang kudapatkan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, seorang wali murid menelponku pada hari pertama sekolah. Ia mengenalkan diri sebagai ayah Putri Nadia, salah satu anak di kelas SalMa, satu lima, kelasku. Kemudian ia menceritakan betapa senangnya anak sulungnya tersebut diterima di sekolah favorit di kota ini dan harapan-harapannya ke depan. Namun akhirnya, ia menceritakan bahwa anaknya memutuskan mogok sekolah keesokan harinya karena tidak suka dengan pengaturan tempat duduk yang kubuat. Teman sebangku Putri suka ramai, berjalan-jalan semauanya, dan aneh. Ayah Putri menuntutku mengubah denah tempat duduk. Rupanya Putri duduk bersebelahan dengan Ziah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wali kelas, aku meminta ayah Putri membujuk anaknya untuk bersekolah. Kepadanya kuterangkan bahwa ini masih hari pertama, mungkin anak-anak masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan yang baru. Aku berjanji akan berbicara dengan Putri dan Ziah secara terpisah. Alhamdulillah, wali murid ini bisa memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, aku mendapat catatan kecil dari ketua kelas SalMa yang berbunyi: Hari ini Ziah dan Lian ramai terus, mondar mandir saat pelajaran Matematika. Sudah diingatkan tapi tetap saja. Setelah membaca memo tersebut, aku duduk di kursi wali kelas yang letaknya tepat di pojok belakang ruang kelas. Inilah meja kerjaku ketika tidak sedang mengajar. Di sini aku  bisa mengobservasi tidak saja pola tingkah anak-anak sepanjang pembelajaran tapi juga menyaksikan bagaimana seorang guru mentransfer ilmunya dan memberi treatment yang tepat  kepada mereka. Dari sini diharapkan tumbuh kembang anak akan optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan betapa Ziah mondar-mandir meninggalkan tempat duduknya. Dan, mulutnya itu, seolah tak  mau diam. Selalu mengumbar kata. Dan memo sejenis berulang kali kudapatkan sejak laporan pertama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pada sebuah kesempatan makan siang di kantin, beberapa rekan guru mendiskusikan topik baru: Ziah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak sudah kuperingatkan berkali-kali, ia masih saja jalan-jalan di kelas,” ujar bu Tika, guru bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;“Kinestetik, kali!” sergah bu Yanti, guru kesenian.&lt;br /&gt;“Mungkin ia sulit menerima pelajaran ketika duduk manis,” kata yang lainnya.&lt;br /&gt;“Di Matematika itu, yang duduk diam saja masih sulit mengerjakan soal. Apalagi yang harus mondar-mandir begitu,” kali ini bu Dewi, guru Matematika yang menimpali.&lt;br /&gt;“Kalau menurut Bu Arum, gimana? Ibu kan wali kelasnya,” tanya salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;Aku tersenyum simpul. Tak tahu harus berkata apa karena selera makanku sedang bagus. Makan siang hari ini nasi rawon, favoritku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, topik hangat nih,” kataku kemudian.&lt;br /&gt;”Mmm, menurutku sih ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi proses adaptasi dengan lingkungan baru agak lambat. Ziah itu kan dari SD luar As-Saliim sehingga bisa saja kultur yang lama itu terbawa di sini. Lagian, ini kan baru seminggu kita mengajar. Masih banyak yang harus kita pelajari. Yah, disyukurin aja. Siapa tahu dengan kehadirannya justru membuat kita lebih giat “belajar”  lagi. Oke,” kataku menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus segera ke BK, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari bulan September menyapa pagi. Setelah hujan semalam pasti sinarnya terasa lebih hangat. Di lengkung  langit yang biru tampak binar cerah. Harapanku agar secerah hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menekuni angka-angka dalam lembar Daftar Kumpulan Nilai UTS ini. Ziah terkena remidi di semua bidang studi. Ada 12 bidang studi yang diujikan. Kasus baru yang kutemui. Biasanya paling banyak 7-8 remidi. Itu pun sudah mampu membuat guru dan wali kelasnya pusing. Apalagi 12. Pusing? Tentu saja, tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Daftar ujian remidi dari panitia segera kuutak atik agar waktu tiga hari yang disediakan cukup untuknya. Ziah benar-benar kedodoran dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak aneh bagiku melihat kenyataan Ziah mendapat remidi dalam hal ini karena hasil tes masuk menunjukkan kapasitasnya yang sangat kurang jika dibandingkan dengan teman lainnya.  Sebelum UTS pun tanda-tanda ke arah ini juga sudah ditampakkan. Ziah selalu kedodoran dalam mengikuti pembelajaran, apalagi Matematika. Mencatat pun ia selalu ketinggalan. Satu lagi, tulisan tangannya setara dengan tulisan tangan anak SD kelas empat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsiku ternyata benar: Ziah memang unik.  Ia bermasalah, tidak saja relasi sosial tapi juga di bidang akademis. Untunglah, sejak dini aku sudah mengkomunikasikan keunikan ini pada konselor sekolah, bu Rani. Ia berjanji akan melakukan observasi lebih dalam kepada Ziah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kusesalkan, orang tuanya kurang kooperatif. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya namun selalu gagal. Beberapa pesan yang kutulis di Buku Penghubung juga tidak menghasilkan respon positif. Aku sendiri heran, Ziah memberikan 4 sampai 5 nomor telepon yang kalau kuhubungi selalu nihil. Mail box lah, servis area di luar jangkauan, jaringan sedang sibuk, atau bahkan hanya bunyi tut..tut..tut dan tak terangkat. Hal ini juga membuat gemes teman-temannya khususnya kelompok tutornya karena selalu gagal dalam bersubuh call, sebuah program kelas membangunkan untuk sholat subuh secara berantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mendapat nomor telpon baru dari Ziah. Aku berusaha kontak dan alhamdulillah tersambung. Tapi bukan orang tua yang menerima melainkan pembantunya. Aku menitip pesan dan berharap orang tua Ziah menelpon balik. Tapi sepanjang hari itu HPku tidak berdering.  Ternyata, Aku belum seberuntung pagi yang disapa hangat sang mentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya yang panas di suatu siang. Gerah. Aku dalam perjalanan menuju rumah Ziah melakukan kunjungan rumah, Home Visit bersama bu Rani. Setelah satu jam perjalanan, sampailah kami di sebuah rumah yang sangat besar dan berteras sangat lapang. Pepohonan dan bunga-bunga mahal mengelilingi rumah berpagar tinggi tersebut. Setiba di ruang tamu yang lapang, kulihat pintu-pintu dan jendela terbuka lebar. Harapanku, semoga begitu juga dengan pintu hati ibunda Ziah. Terbuka dengan lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak habis pikir, seminggu yang lalu, pihak sekolah mengundang wali murid untuk sosialisasi program semester genap. Ziah ngotot kalau ibunya hadir di pertemuan yang merupakan agenda rutin sekolah itu namun aku tidak menemukan tanda tangannya di daftar hadir. Nah, di home visit ini aku ingin memastikan benar tidaknya hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Ziah keluar dari ruang tengah dengan senyum yang aku tidak mampu menerjemahkannya. Setelah berbasa-basi sejenak, ia menceritakan bagaimana ia terus berusaha agar Ziah mendapatkan pendidikan yang baik. Dibayarnya beberapa guru les dengan sangat mahal , yang pada akhirnya menurut ibunda ini tidak optimal bagi perkembangan akademik Ziah.  Alasannya, gurunya kurang pintar sehingga Ziah tidak pernah mendapat nilai bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak begitu dominan dan cenderung melempar kesalahan pada orang lain. Ketika sampai bagianku untuk menanyakan kehadirannya dalam pertemuan seminggu yang lalu, wanita cantik ini langsung terdiam.  Ia mengakui tidak bisa datang karena anak yang terkecilnya sakit panas. Ibunda telah berbohong kepada Ziah. Hening sesaat. Akhirnya bu Rani mengambil alih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, beberapa hari lalu Kami melakukan serangkaian tes kepada Ananda berkaitan dengan kurang optimalnya Ziah dalam pembelajaran. Setelah mengevaluasi hasilnya maka Kami memutuskan memberikan terapi motorik kepadanya. Harapan kami, agar Ziah bisa lebih konsentrasi lagi karena konsentrasi ini dibutuhkan dalam penguasaan pelajaran. Nah, untuk itu kami butuh kerja sama dari orang tua untuk mendampingi Ziah  melakukan latihan-latihan ringan seperti berdiri dengan satu kaki, …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimik muka ibunda Ziah segera berubah.&lt;br /&gt;“Anak saya itu normal, Bu, bukan autis,” katanya kemudian. Aku sedikit tersentak. Bu Rani tetap tenang.&lt;br /&gt;“Siapa bilang putri Ibu autis. Ziah hanya belum menuntaskan motorik kasar dan halusnya. Itu saja. Dan itu berpengaruh pada konsentrasi belajarnya. Kalau dibiarkan, ia akan terus tertinggal. Kami berharap Ibu dan keluarga akan mendukung program ini dengan mendampingi Ziah melakukan latihan di rumah. Sementara Kami di sekolah akan mengevaluasi progress reportnya. Bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Ziah tampak tak suka. Raut mukanya menegang.&lt;br /&gt;“Yah, Ibu tidak perlu menjawab sekarang. Dipikirkan dulu saja. Yang pasti, semua ini Kami lakukan demi kebaikan Ziah,” kata bu Rani.&lt;br /&gt;Kunjunganku kali ini bagai gayung tak bersambut.&lt;br /&gt;Autis? Sepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi oleh kata-kata ibunda Ziah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hatiku galau. Sepanjang karirku sebagai wali kelas, baru kali ini aku merasa galau. Yah, Ziah, gadis unik itu telah membuatku galau. Aku takut membuat keputusan yang salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu, ketika kutanya ingin jadi apa ketika besar nanti, dengan mantap Ziah menjawab: pesikolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Kamu ingin jadi psikolog,  Zi?” tanyaku mengejar.&lt;br /&gt;“Karena Aku bisa bantu orang lain, Bu. Kayak bu Ana, pesikologku waktu di SD dulu.  Ia selalu mendengar apa yang kuceritakan. Aku dulu pernah tidak naik kelas karena nilaiku jelek semua. Aku tidak bisa menerima pelajaran dengan cepat.  Sebenarnya Aku itu cerdas, katanya. Tapi kenapa ya Aku tidak bisa menangkap pelajaran dengan cepat? Padahal Aku sekolah di sekolah biasa. Tidak seperti di sini yang sampai sore. Pelajarannya buanyak lagi. Apakah Aku autis ya?” tanyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Kamu bertanya seperti itu?” aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Ya Bu, karena waktu kelas satu dulu Aku pernah mendengar tanteku menyuruh mama menyekolahkan Aku di tempat khusus tapi mama tidak mau. Akhirnya kelas empat Aku tidak naik kelas. Dua adikku autis. Dulu, sekolahnya khusus, Bu. Sekarang mereka pintar-pintar,” katanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziah tersenyum menceritakan kelucuan adik-adiknya. Aku mulai paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, apa Aku akan tidak naik kelas?” tanyanya. Kali ini mimiknya serius.&lt;br /&gt;“Menurut Kamu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Yah, remidiku kan banyak. Cuma satu pelajaran yang nggak remidi. Dan Aku tidak lulus di remidi-remidi itu,” Ia tampak sedih.&lt;br /&gt;“Ziah, tidak naik kelas itu bukan hukuman. Ada anak-anak yang butuh waktu lebih lama untuk menguasai pelajaran ini-itu. Seperti Kamu. Dan itu bukan anak bodoh. Mungkin ia pandai di musik, olah raga, dan lain-lain. Atau ia tidak cocok dengan sekolah yang sehari penuh karena bisa jadi ia terlalu capek untuk berpikir. Bisa jadi di sekolah biasa ia akan lebih optimal,” kataku mengerucutkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tetap saja tidak naik kelas, Bu,” Ziah ngotot.&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau Kita ubah pandangan Kita tentang tidak naik kelas. Tidak naik kelas bukan akhir dari segalanya. Einstein itu harus gagal berapa kali sebelum akhirnya berhasil menemukan bom atom? Kamu pasti tahu KFC, yang membuat resepnya  adalah seorang kakek. Dan Ziah tahu, berapa kali ia menawarkan dagangannya sampai akhirnya ada yang mau beli ayam gorengnya? Puluhan kali atau bahkan ratusan kali. Tapi orang-orang ini tidak mau menyerah. Di Jepang, ada seorang laki-laki yang tidak punya kedua lengan dan kedua kaki. Tapi ia jago main basket dan pintar menulis. Ia merasa hidupnya tidak berakhir hanya karena tidak punya tangan dan kaki.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku serasa tidak bisa menghentikan kalimat-kalimatku. Aku berharap Ziah paham. Kalau tidak sekarang mungkin  nanti. Tak apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat pleno kenaikan kelas. Setiap wali kelas menyampaikan laporan hasil belajar di kelasnya.&lt;br /&gt;“Kelas 1-3, jumlah siswa 30. Yang memenuhi syarat kenaikan kelas 30 siswa. Yang tidak memenuhi syarat 0,” ucap pak Husain, wali kelas 1-3 mantap.&lt;br /&gt;“Kelas 1-4, jumlah siswa 29. Yang memenuhi syarat kenaikan kelas 29 siswa. Yang tidak memenuhi syarat 0,” ucap bu Indah, wali kelas 1-4 mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliranku. Ada gemuruh dalam dadaku. Kubaca basmallah, “Kelas 1-5, jumlah siswa 28. Yang memenuhi syarat kenaikan kelas 27 siswa. Yang tidak memenuhi syarat 1.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggulangin, 24 Juni 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-2062340852814697153?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/2062340852814697153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=2062340852814697153' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2062340852814697153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2062340852814697153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/ziah.html' title='ZIAH'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-1250240836977573866</id><published>2007-12-07T23:29:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T08:58:20.690+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerbung'/><title type='text'>Menanti Pagi Kembali (I)</title><content type='html'>Sebenarnya aku bukan teman dekat Amanda. Kalau dihitung-hitung, tidak ada satu pun kesamaan hal di antara kami. Aku bertipe pendiam sementara dia jauh lebih terbuka. Pun minat kami jauh berbeda. Aku suka menenggelamkan diriku diantara buku-buku sementara dia lebih suka mengembangkan kecerdasaan interpersonalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda suka membangun relasi dengan orang lain. Ia seorang gadis yang fashion minded sementara aku penganut paham simple is elegant , alias memang aku tidak punya koleksi baju yang selalu berubah seiring berubahnya musim. Aku tidak suka sesuatu yang berlebihan. Bagi Amanda, ke kampus dengan bibir bergincu tebal adalah biasa. Bagiku, itu berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada satu hal yang mendekatkan kami hanyalah karena Amanda menjadi rekan kerja baruku. Lembaga di mana aku meluangkan separo waktuku untuk bekerja membutuhkan tenaga baru dan aku menawarkan padanya. Amanda benar-benar membutuhkan pekerjaan untuk menyambung kuliahnya, begitu katanya sehari sebelum aku membawa informasi pekerjaan tersebut. Begitulah. Setelah serangkaian tes dilakukan terhadap dirinya, ia diterima. Ia benar-benar berterima kasih padaku karena aku yang membawakan informasi pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di kampus, kami tidak sedekat ketika di kantor. Aku mempunyai sahabat sendiri, tentu saja, orang yang punya kesamaan minat denganku: buku. Amanda pun begitu. Dengan beberapa orang kelompoknya, ia suka berjalan-jalan ke Mall, makan-makan dan sesekali kongkow-kongkow dengan teman laki-laki. Biasanya mereka mahasiswa lain jurusan atau fakultas atau kakak tingkat satu jurusan dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku? Paling-paling ke perpustakaan, meski sekedar membaca koran hari ini. Atau ke kantin, makan makanan dengan menu khas kantong mahasiswa. Paling apes, ngobrol di bawah pohon beringin yang sudah berusia puluhan atau bahkan ratusan tahun di depan aula kampus untuk menunggu waktu mata kuliah berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi yang namanya ketertarikan kepada lawan jenis. Amanda termasuk gadis yang berani. Beberapa kali ia tampak dekat dengan laki-laki yang berbeda. Sepertinya ia tipe petualang. Sementara aku, jatuh cinta saja tidak berani. Kalau dipikir sebenarnya bukan masalah berani atau tidak, melainkan baik atau buruk yang menjadi pertimbanganku. Kami benar-benar berbeda. Dan aku benar-benar mensyukuri keputusanku untuk berhati-hati dalam hal ini karena di kemudian hari kudapati hal inilah yang menyelamatkan kehidupan seorang gadis, dan bahkan hidup orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;November yang basah. Sisa-sisa hujan tadi malam masih terlihat di aspal jalanan. Sebagian membentuk genangan di sana-sini. Bunga-bunga bougenvil ungu, pink dan putih saling bermekaran dalam satu tempat. Berjajar di sepanjang jalan menuju kampus. Membawa nuansa pagi yang segar. Rupanya sang gardener kampus menyilangkan bunga ini sedemikian rupa sehingga pemandangan yang tercipta sungguh luar biasa, penuh harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, aku terburu-buru. Kali ini karena angkot yang kutumpangi harus berhenti lama sekali untuk mencari penumpang. Aku yang sudah berangkat kesiangan harus mentolerir nasib sopir yang tidak dapat penumpang. Jadinya, dengan setengah berlari-lari kecil aku berusaha mencapai kampusku agar tidak terlambat, meski itu mustahil. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 07.15, berarti 15 menit sudah aku terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terlalu serius dengan langkahku, aku tidak mendengar ketika seseorang turun dari Katana silver menyapaku. Tepat di depan gerbang fakultas.&lt;br /&gt;“Terlambat ya Dhan?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Ya nih, 15 menit,” jawabku seraya melihat siapa yang menyapaku. Amanda. Kulirik laki-laki di belakang kemudinya. Masih muda, meskipun tidak tampak sebagai mahasiswa. Amanda bersay good bye kepada laki-laki ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualihkan perhatianku dan langsung menuju ruang kuliah. Amanda terburu-buru menjajari langkahku. Aku tidak perlu menanyakan siapa laki-laki di dalam Katana tadi karena pertama, aku tidak dekat dengan Amanda sehingga bukan urusanku kalau ia pergi dengan laki-laki itu. Kedua, aku sedang konsen menuju ruang kuliah Pak Besar, dosen killer itu. Dan benar, pintu sudah tertutup. Itu artinya perkuliahan sudah dimulai. Aku menata hati, sebenarnya sih menyiapkan jawaban yang tepat atas pertanyaan pak Besar. Amanda tampak biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian di jam pertama tadi membuat semua aktifitasku tidak karuan. Pak Besar meminta kami menemuinya. Ternyata hari ini ada sekitar sepuluh mahasiswa yang terlambat, termasuk aku dan Amanda. Dan itu rekor tersendiri di kelas Phonology Pak Besar. Sebagai konsekuensinya, kami harus mencari buku-buku yang terkait dengan materi hari ini dan mereviewnya. Waktu yang diberikan hanya dua hari.&lt;br /&gt;Untunglah aku mempunyai sahabat yang minat pada Phonology begitu besar. Nana, demikian nama sahabatku. Ia bersedia menemaniku mencari buku yang dimaksud. Begitu jam ketiga kosong, tempat pertama yang kutuju adalah perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini perpustakaan sedang lengang. Hanya ada beberapa orang mahasiswa tingkat akhir sedang menekuni buku-buku tebal di depannya. Biasanya aku selalu menuju ke ruang majalah dan surat kabar karena di situ tempatnya nyaman. Kami duduk di karpet merah yang bersih ditemani beragam surat kabar dan majalah terbitan lokal sampai internasional. Mungkin ke sana menjadi pilihan kedua setelah menyelesaikan tugas pak Besar hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Nana segera mencari buku yang dimaksud. Nana sangat cekatan menjelajah buku demi buku setelah mendapatkan datanya dari katalog. Aku sih nurut saja karena memang ia jagonya. Aku lebih berminat pada sastra sementara Nana lebih suka pada Linguistik.&lt;br /&gt;Ketika sedang membuka-buka buku, tak sengaja mataku bersirobok dengan seseorang yang begitu kukenal. Amanda. Ia sedang berjalan masuk ke ruangan ini bersama dengan seorang laki-laki. Tapi siapa laki-laki itu? Sepertinya orang yang sama dengan yang kulihat pagi tadi di dalam Katana.&lt;br /&gt;“Hai Dhan, sedang cari tugas pak Besar ya?” sapanya.&lt;br /&gt;“Yap, kamu?”&lt;br /&gt;“Ya samalah. Yok ya,” katanya tanpa mengenalkan laki-laki di belakangnya. Aku segera tenggelam dengan bacaanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-1250240836977573866?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/1250240836977573866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=1250240836977573866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1250240836977573866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/1250240836977573866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/menanti-pagi-kembali.html' title='Menanti Pagi Kembali (I)'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-3439701564161355963</id><published>2007-12-07T23:26:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T23:27:15.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi cinta buat inspirasiku</title><content type='html'>Dalam geliat pagi&lt;br /&gt;Ditemani aroma rumput yang basah&lt;br /&gt;Aku meminta engkau bertanya&lt;br /&gt;Apa saja, sekali lagi: APA saja!!!&lt;br /&gt;Tentang aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu binar matamu tajam&lt;br /&gt;Suaramu membelah dunia&lt;br /&gt;Tanyamu mencengkeram angkasa&lt;br /&gt;Aku tahu engkau sedang belajar pada alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalirlah jawab dengan bahasa hati&lt;br /&gt;Yang hanya engkau mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang bola mata tajam bergerak,  ikut bertanya&lt;br /&gt;”Bagaimana pandanganmu tentang kami?”&lt;br /&gt;Aku tersentak. Telak.&lt;br /&gt;Namun kumampu kuasai diri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengalirlah jawab dengan bahasa hati&lt;br /&gt;Yang hanya engkau mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaulah inspirasiku&lt;br /&gt;Kaulah yang membuat pagiku  bersinar&lt;br /&gt;Kaulah yang membuat tanganku mampu memeluk&lt;br /&gt;Asa dan citamu,&lt;br /&gt;Mimpi dan harapanmu,&lt;br /&gt;Kaulah yang membuatku mampu mengumbar dzikir&lt;br /&gt;Abadi atas nama cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa tak percaya&lt;br /&gt;Tapi memang: kaulah inspirasiku, anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1st meeting in 9f&lt;br /&gt;By hernawati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-3439701564161355963?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/3439701564161355963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=3439701564161355963' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3439701564161355963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/3439701564161355963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/puisi-cinta-buat-inspirasiku.html' title='Puisi cinta buat inspirasiku'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-7524144879198127659</id><published>2007-12-07T23:17:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T23:21:56.064+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>ATM Kondom Bukan Solusi</title><content type='html'>PERILAKU seksual remaja akhir-akhir ini cukup memprihatinkan. Beberapa penelitian mengenai perilaku seksual mereka memberikan informasi bahwa remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah hampir terdapat dimana-mana. Penelitian yang diadakan Lembaga Demografi FE UI pada 1998/1999 di empat provinsi -Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung-menunjukkan bahwa dari 8.084 responden remaja, 35,5 persen remaja laki-laki tahu bahwa di antara teman sesama laki-laki pemah melakukan hubungan seksual pranikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara remaja perempuan sebesar 33,7 persen. Beberapa tahun lalu, pernah dilakukan riset terhadap mahasiswa/i di Jogjakarta. Ternyata, hasilnya sangat mengejutkan. Sejumlah mahasiswa/i di sana pernah melakukan. hubungan seksual sebelum menikah. Sebagian besar mahasiswa/i melakukan hubungan intim tersebut secara sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi perilaku pacaran mereka. Begitu mudahnya relasi lawan jenis itu mendapat tempat di hati mereka. Gaya hidup kebarat-baratan yang cenderung liberal dibungkus cantik ala modernitas. Tidak gaul kalau tidak punya pacar, begitu ungkap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau kita cermati, aktivitas yang mereka lakukan cenderung tidak sehat. Mungkin, awalnya hanya pandangan mata, lalu mulai berpegangan tangan. Kemudian, istilah KNP (kissing, necking, petting) menjadi akrab di telinga mereka. Yang demikian itu pun memuluskan langkah setan ke arah perzinaan. Kalau pembaca ingin mengetahui perilaku pacaran remaja Surabaya, rim DetEksi Jawa Pos pernah membuktikan melalui pooling-nya bahwa perilaku seksual remaja Surabaya tidak jauh dari situ. Memandang, memegang, KNP, akhirnya ML (making love).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena di atas, sudah sewajarnya jika masyarakat banyak yang menolak pe-ngadaan AIM kondom oleh pemerintah. Masyarakat menilai keberadaan ATM kondom tersebut sama saja dengan melegalkan seks bebas (Jawa Pos, Rabu 23 Februari 2006). Padahal, seks bebas sendiri menyebabkan beragam masalah sosial seperti penyakit menular seksual/PMS, HlV/AIDS, dan kehamilan yang tidak dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang disebut terakhir akan mengakibatkan masalah lain seperti aborsi, tingkat kematian ibu yang tinggi, kelahiran prematur, dan bayi dengan berat rendah. Apalagi kemudahan dalam mengaksesnya. Pengguna tinggal memasukkan tiga koin uang lima ratusan ke mesin ATM untuk mendapatkan tiga buah kondom dengan aneka aroma. Ditambah semakin terkikisnya budaya malu di kalangan remaja semakin mengukuhkan kekhawatiran masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, masih sangat jarang kita saksikan remaja berdua-duaan di tempat umum. Sekarang, kita bisa dengan mudah menyaksikan pemandangan tersebut. Di pusat-pusat perbelanjaan, pusat-pusat hiburan, di jalan, bahkan di lingkungan pendidikan seperti sekolah dan kampus-kampus. Belum lagi di tempat-tempat pariwisata. Parahnya, aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan remaja di usia akhir (dua puluhan), tapi juga remaja awal (belasan tahun). Ada apa dengan remaja kita Mungkinkah asimilasi budaya Barat ditelan mentah-mentah oleh mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau alasan pengadaan ATM tersebut untuk meminimalisasi penyebaran HTV/AIDS, sesungguhnya itu kurang tepat. Kebijakan tersebut justru akan meningkatkan perilaku seksual mereka. Pesatnya perkembangan teknologi informasi saja disikapi salah oleh sebagian remaja kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah mengenal seluk beluk sensualitas dunia maya. Browsing ke situs-situs porno, chatting yang menjurus ke arah seksualitas. Semuanya begitu bebas. Tanpa hukum dan undang-undang. Demikian yang terjadi di dunia maya. Akankah pemerintah menambahnya dengan memberikan kemudahan akses di dunia nyata? Tampaknya, pemerintah memang harus mengkaji ulang kebijakan itu demi melihat akses yang ditimbulkan pada masyarakat, remaja khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas Keluarga&lt;br /&gt;Kalau pemerintah ingin meminimalisasi penyebaran HTV/AIDS dan masalah sosial lainnya, kuncinya adalah memperbaiki kualitas keluarga. Seperti kita pahami bersama bahwa keluarga merupakan lingkungan primer hampir setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum seorang anak mengenai lingkungan yang lebih luas, dia akan mengenai lingkungan keluarganya terlebih dahulu. Pertama, seorang anak menyerap norma dan nilai-nilai yang berlaku adalah dalam keluarga. Keluarga merupakan madrasah pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang sehat adalah keluarga yang di dalamnya terdapat komunikasi yang hangat;  antara orang tua dan anak. Tidak terkecuali masalah seksual. Seiring dengan perkembangari zaman, orang tua dituntut belajar kembali dalam menyampaikan nilai dan norma kepada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan seksualitas bukanlah hal yang tabu jika itu proporsional dengan perkembangan kejiwaan anak. Justru anak harus mengetahui hal tersebut dari orang tua agar tidak salah melangkah. Orang tua yang bijak akan selalu mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangan anak agar tumbuh kembangnya optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menjadi rujukan pertama pertanyaan si anak ketika dia beranjak balig. Kalau seorang gadis, dia harus tahu seluk beluk menstruasi dari orang tua. Begitu juga dengan anak laki-laki, dia harus tahu bahwa mimpi basah pertamanya adalah pertanda dia memasuki masa puber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan dan saling ketergantungan di antara anggota keluarga adalah pilar-pilar yang harus ada dalam membina komunikasi keluarga. Orang tua harus pandai-pandai menggunakan pola pendekatan pada remaja, mengingat setiap zaman memberikan tantangan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain komunikasi yang sehat, keluarga berkualitas akan selalu meningkatkan kualitas kesalehan anggotanya, baik kesalehan pribadi maupun sosial. Kegiatan pembiasaan seperti beribadah bersama, berakhlak yang baik, berolahraga, dan membaca buku ditengarai mampu menjauhkan remaja dari perangkap free sex yang telah menjadi life style bagi sebagian remaja. Jadi, free sex tidak bisa diminimalisasi dengan mendistribusikan ATM kondom ke tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hernawati Kusumaningrum&lt;br /&gt;(Guru SMP Al Hikmah Surabaya)&lt;br /&gt;(Sumber : Jawa Pos, Rabu 1 Maret 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-7524144879198127659?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/7524144879198127659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=7524144879198127659' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/7524144879198127659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/7524144879198127659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/atm-kondom-bukan-solusi.html' title='ATM Kondom Bukan Solusi'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-6279013136725281598</id><published>2007-12-07T23:14:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T09:55:18.837+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Safir Keranjingan Pesawat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_RZbLOa8wg9s/R1oG12TieZI/AAAAAAAAAAU/bmcd2OU8JgY/s1600-h/safir-play-alone-web.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141429446777141650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_RZbLOa8wg9s/R1oG12TieZI/AAAAAAAAAAU/bmcd2OU8JgY/s320/safir-play-alone-web.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Sudah seminggu ini Safir, anakku nomor dua, keranjingan pesawat. Mulai bangun tidur di pagi hari sampai hendak tidur di malam hari ia minta dibuatkan pesawat. Tentu saja pesawat yang diminta bukanlah sejenis pesawat penumpang atau kargo yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tidak bisa menyebut jenis pesawat apa yang diminta kecuali ia terbuat dari selembar kertas, dilipat sedemikian rupa, kemudian dilepaskan, terbang bebas sebebas bebasnya. Meskipun durasi penerbangannya tidak lebih dari dua detik tapi cukup mampu mengembangkan senyum yang sesungguhnya, senyum kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Safir, anakku yang hitam manis itu sangat pintar.&lt;br /&gt;“Buatkan lagi, Mi,” pintanya. Dan jari jemariku dengan lincah bergerak kesana kemari melipat kertas yang entah sudah menjadi pesawat keberapa dengan nomor penerbangan ke sekian. Safir bisa menghabiskan satu buku tulis isi 30 lembar dalam sehari. Tentu saja buku tulis yang digunakan buku tulis bekas kakaknya, mbak Bita yang kini duduk di sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang penuh tulisan, gambar, dan warna warni khas anak TK itu segera berubah menjadi pesawat yang indah. Kadang aku menuliskan Safir Air pada sayapnya untuk menunjukkan pesawat itu miliknya. Dan ia akan menerbangkannya dengan bangga sebangga seorang pilot menerbangkan pesawat pertamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bisa dibayangkan ruang tamu, kamar tidurnya, musholla, ruang keluarga, segera berubah fungsi menjadi bandara, tempat lalu lalang pesawat. Sebuah bandara tanpa pengelola. Pesawat berseliweran di mana-mana. Tidak jarang saling bertabrakan. Safir senang bukan kepalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah hari keberapa (aku kurang jeli memperhatikannya) Safir, kekasihku berambut jabrik itu, membuatku cemburu. Ia tidak mau kubuatkan pesawat. Ia lebih memilih abinya dan Mas Dendi, saudara sepupu, untuk memproduksi pesawatnya. Menurutnya, pesawatku kurang canggih, terlalu sederhana. Ia benar. Pesawat buatan abi dan Dendi itu lebih kompleks, punya tingkat kesulitan satu dua tingkat di atas pesawat buatanku. Dan performancenya itu, lebih cool, lebih maskulin dan bisa terbang jauh lebih lama dari pesawatku. Aku telah mendapat pesaing yang hebat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya lagi, anakku itu sudah pandai membandingkan sesuatu Tapi aku santai saja karena itu berarti ia telah belajar banyak hal, melihat, membandingkan dan memutuskan. Bukankah itu termasuk kecerdasan tersendiri bagi anak seusianya? Terlebih lagi, aku bisa mendelegasikan pembuatan pesawat pada pihak ketiga (he-he-he)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, rumah kami dipenuhi oleh pesawat-pesawat. Lebih menyenangkan lagi karena akhirnya Safir mulai berusaha memproduksi pesawatnya sendiri. Pada awalnya dipenuhi oleh tangisan karena ia tidak bisa membuat pesawat sederhana seperti yang kubuat apalagi secanggih buatan abi dan Dendi. Tapi afirmasi positif yang kami buat menjadikannya pantang menyerah. Hari ini aku belum mengecek sudah berapa pesawat yang diproduksinya sekaligus diterbangkannya. Selamat mengudara, Pilotku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggulangin, 7 December 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-6279013136725281598?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/6279013136725281598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=6279013136725281598' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6279013136725281598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/6279013136725281598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/safir-keranjingan-pesawat.html' title='Safir Keranjingan Pesawat'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RZbLOa8wg9s/R1oG12TieZI/AAAAAAAAAAU/bmcd2OU8JgY/s72-c/safir-play-alone-web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-5613563935789036959</id><published>2007-12-07T11:51:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T09:23:20.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Wah, Kalah Dong Saya</title><content type='html'>Judul di atas saya kutip dari komentar seorang kawan yang baru saya kenal beberapa pekan berselang. Ketika itu, kami asyik ngobrol &lt;em&gt;ngalor ngidul &lt;/em&gt;termasuk menyoal pekerjaan masing-masing. Sambil menikmati makanan kantin, perbincangan kami melebar sampai urusan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Fif sudah berkeluarga?” tanya kawan tadi.&lt;br /&gt;“Sudah,” jawab saya singkat.&lt;br /&gt;“Anaknya berapa,” lanjutnya dengan wajah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca raut wajahnya, saya senyum-senyum saja. Saya sengaja mengolor-olor jawaban dengan mengunyah beberapa potong makanan ringan karena saya dapat memastikan bahwa dia akan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga,” jawab saya. “Anak pertama perempuan lima tahun, kedua laki-laki tiga tahun dan ketiga laki-laki lima bulan.”&lt;br /&gt;“Masak sih,” lanjutnya tidak percaya. “Wah, kalah dong saya. Saya baru dua,” tawanya meledak. Sekalipun umurnya jauh lebih tua dari saya, ternyata dia baru punya dua anak.&lt;br /&gt;“Kalau soal jumlah anak, sampeyan kalah,” lanjut saya pede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah terbiasa jika kawan-kawan terkejut mengetahui saya punya tiga ‘anak buah’. Saya tidak ingat komentar kawan itu komentar keberapa. Saya sih, meminjam iklan rokok, &lt;em&gt;enjoy aja &lt;/em&gt;alias super cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memaklumi kalau orang-orang di sekeliling saya banyak yang terkecoh. Salah satu penyebabnya adalah postur tubuh saya yang tidak setinggi postur tubuh laki-laki kebanyakan --- tapi tidak pendek-pendek amat. Kedua, ini menurut teman-teman, wajah saya ‘terlalu muda’ untuk ukuran seorang bapak dengan tiga putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah, adik saya kandung bertandang ke rumah. Tetangga mengira dia kakak saya. Bahkan, teman istri menyebut kami sebagai pasangan “pernikahan dini”. Saya tidak mengerti apakah terma tersebut merujuk judul sinetron di televisi. Atau, lantaran penampilan saya dan istri, sekali lagi, terlalu muda dengan satu putri dan dua putra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Yang jelas, sejauh ini komunikasi saya dan istri aman-aman saja --- doakan senantiasa demikian. Ini juga mengingatkan saya pada pepatah &lt;em&gt;Kulon&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;don’t judge book by it’s cover&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali soal anak. Selain komentar di atas, komentar sebelumnya sudah banyak. Komentar bernada mendukung di antaranya, “Enak ya, anak-anak besar, kamu masih muda”, “Gak apa-apa, mumpung masih muda”, “Anak itu membawa rejeki sendiri-sendiri”, “Bersyukurlah, banyak pasangan yang bertahun-tahun berkeluarga namun belum dikaruniai momongan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara komentar bernada prihatin tidak sedikit. “Kalau ditinggal kerja, siapa yang mengasuh anak-anak”, “Gak repot merawatnya”, “Pembantunya berapa”, “Cepetan ikut KB”, “Kecil-kecil kok banyak anak”, “Kerep (istilah Jawa berarti jarak antartanaman terlalu dekat)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar kedua kebanyakan datang dari orang tua, termasuk pimpinan saya di kantor. Karena &lt;em&gt;telat&lt;/em&gt; mengikuti rapat, saya menelepon teman akrab bahwa ketiga anak saya sakit dan saya datang terlambat. Tiba di kantor, saya langsung menuju ruang kerja. Mendadak pimpinan mencegat di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fif, kamu punya tiga anak,” tanyanya.&lt;br /&gt;“Ya,” jawab saya ringkas. Saya heran dari mana pimpinan tahu soal ini.&lt;br /&gt;“Pemerintah saja menganjurkan dua anak. “Kamu kok tiga. Sudah jangan banyak anak,” lanjutnya disertai tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karuan saja, rekan lain sekantor terkejut dan tertawa. Komentar mereka pun berhamburan. Sekali lagi, saya sih super cuek. Namun, belum sempat saya duduk di kursi, tiba-tiba teman akrab sekantor mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, aku tadi bilang bos. Ketiga anakmu sakit dan kamu tidak bisa ikut rapat. Si bos kaget,” ujarnya cengengesan.&lt;br /&gt;“Kampret,” jawabku bersungut-sungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulan saya meleset. Ternyata tidak semua orang tua berkomentar dengan nada prihatin. Suatu hari saya bersama istri mengantar anak kami yang ketiga ke rumah sakit. Saat menunggu obat di apotek rumah sakit, di sebelah saya duduk seorang nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Putra keberapa,” tanya sang nenek dalam bahasa Jawa.&lt;br /&gt;“Tiga,” jawab saya sambil sedikit menundukkan kepala.&lt;br /&gt;“Gak apa-apa,” kata sang nenek seakan-akan sudah membaca pikiran saya. “Keponakanku dulu ikut KB. Tapi, terjadi pendarahan hebat. Akhirnya ia berhenti KB. Sekarang punya sembilan anak. Anak itu amanah dan membawa rejeki sendiri,” lanjutnya dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma diam membisu sembari sesekali menganggukkan kepala. Selama perjalanan pulang, saya cerita ke istri tentang nenek tersebut. Satu hal yang membuat kami tidak mampu menahan tawa adalah nenek tadi memanggil saya dengan panggilan “cak” yang dalam bahasa Jawa berarti mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengasuh banyak anak memang menuntut segala sesuatunya serba ekstra. Baik tenaga, pikiran, waktu maupun biaya. Anak saya yang kedua misalnya sering kali membuat saya kewalahan mengimbangi ‘energi kreatifnya’ pada saat bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara anak pertama menuntut kesabaran ekstra kalau sedang merajuk alias ngambek. Apalagi ketika mereka lagi bertengkar atau berebut mainan. Saat-saat inilah kesabaran dan kearifan kita sebagai orang tua betul-betul diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi anak ketiga yang masih bayi selalu bangun di sepertiga malam. Saya dan istri bergantian mengganti popok yang basah, membuat susu, menggendong dan meninabobokannya kembali. Tidak jarang ia mengajak bercanda ketika kantuk sedang menyergap. Tapi ada untungnya juga, ternyata jam biologis si kecil memudahkan kami untuk sholat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka terlelap di peraduan acapkali saya dan istri memandangi wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah innoncent. Wajah-wajah penuh kedamaian. Kalau sudah begini, dalam hati saya cuma dapat berdoa, “Ya Allah berilah kekuatan dan ketabahan hambamu dalam menjaga amanahMu”. Jadikanlah mereka anak-anak yang sholeh.” (abi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-5613563935789036959?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/5613563935789036959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=5613563935789036959' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5613563935789036959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/5613563935789036959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/wah-kalah-dong-saya.html' title='Wah, Kalah Dong Saya'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-7891689742656812008</id><published>2007-12-04T07:23:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T08:37:31.420+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opensource'/><title type='text'>rayuan Gutsy Gibbon</title><content type='html'>beberapa hari lalu aku bertandang ke rumah seorang kawan di kawasan Jetis Wetan Surabaya (depan Royal Plaza). tanpa diduga, saat hendak undur diri, kawan tadi menyodorkan bungkusan plastik putih berisi 5 kepingan DVD &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Repository"&gt;repositori&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; distro &lt;a href="http://www.ubuntu.com/"&gt;Ubuntu Linux 7.10&lt;/a&gt;. saat tulisan ini dibuat, Ubuntu Gutsy Gibbon ini merupakan rilis paling gres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jujur saja, aku sempat gak percaya dengan kepingan DVD ini meski covernya yang terbuat dari kertas tertulis "DVD Repositori Ubuntu 7.10". "&lt;em&gt;it's just kidding" &lt;/em&gt;gumanku dalam hati. ternyata beneran. kepingan tersebut adalah kepingan DVD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Repo (panggilan ringkas untuk repositori) Gutsy Gibbon 5 DVD," teriakku dalam hati masih tidak percaya. Bagaimana tidak luar biasa. 3 kepingan DVD &lt;a href="http://www.debian.org/"&gt;Debian&lt;/a&gt; 4.0r0 yang aku punya, menurutku sudah terlalu banyak. nah, ini 5 DVD. biasanya kapasitas 1 DVD kisaran 4,9GB (untuk memudahkan hitungan kita bulatkan 5GB). maka 5 DVD setara 25GB!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah alasan yang membuat aku sangat tergoda mencicipi Ubuntu Linux 7.10 di laptop ummi. sempat sih beberapa kali mencoba &lt;a href="http://www.kubuntu.org/"&gt;Kubuntu&lt;/a&gt; 7.10 di kantor. Kubuntu diturunkan dari Ubuntu tetapi desktopnya memakai &lt;a href="http://www.kde.org/"&gt;KDE&lt;/a&gt; --- sementara Ubuntu memakai &lt;a href="http://www.gnome.org/"&gt;GNOME&lt;/a&gt;. namun godaan itu akhirnya tidak mempan lantaran saat ini aku masih jatuh cinta pada Debian. tepatnya, GNU/Linux Debian 4.0r0. (abi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-7891689742656812008?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/7891689742656812008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=7891689742656812008' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/7891689742656812008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/7891689742656812008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/rayuan-gutsy-gibbon.html' title='rayuan Gutsy Gibbon'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-2773159763241207826</id><published>2007-12-01T22:26:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T09:33:29.312+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Menjadi Einstein Tanpa Terburu-buru</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_RZbLOa8wg9s/R1oCM2TieYI/AAAAAAAAAAM/gJwWWxTRjBM/s1600-h/menjadi_einstein_tanpa_terburu_buru.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141424344355993986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_RZbLOa8wg9s/R1oCM2TieYI/AAAAAAAAAAM/gJwWWxTRjBM/s320/menjadi_einstein_tanpa_terburu_buru.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Judul buku : Einstein Never Used Flash Cards.&lt;br /&gt;Penulis : Kathy Hirsh-Pasek, Phd., Roberta Michnik Golinkoff, Phd., dan Diane Eyer, Phd.&lt;br /&gt;Penerbit : Kaifa&lt;br /&gt;Cetakan : 1, November 2005&lt;br /&gt;Tebal : 413 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drummer terkecil Julian Pavone yang baru berusia 1 tahun 9 bulan sudah mampu memainkan drum milik ayahnya untuk melantunkan nada musik rekaman West Bloomfield juga Michigan AS. Ia belajar drum sejak umur 3 bulan dengan dipangku sang ayah. (Jawa Pos, 09/03/2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak anak-anak pintar usia dini seperti Pavone. Jika Pavone menggebuk drum, ‘Pavone-pavone’ lain mampu menghafal nama-nama negara beserta kepala negaranya; berhitung cepat menggunakan metode khusus yang saat ini tengah digandrungi atau piawai memainkan alat musik tertentu dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, kita sangat bangga memiliki anak seperti ini. Bangga lantaran kita berhasil menjadikan mereka memiliki kemampuan istimewa yang belum tentu dipunyai anak seusianya. Pujian dan sanjungan datang silih berganti. Inilah anak-anak ajaib abad milenium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menyimak buku Einstein Never Used Flash Card, kebanggaan kita tadi bisa berujung kekhawatiran. Mengapa? Karena meminjam istilah David Elkind, mereka adalah the hurried child atau dalam bahasa populer mereka adalah anak-anak karbitan. Mereka sebenarnya matang sebelum waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tiba waktunya, anak-anak tadi dipaksa melahap apa yang diajarkan orang tuanya. Mereka dijejali berbagai pelajaran dan pengetahuan yang sebenarnya belum waktunya untuk dikonsumsi. Singkat kata, kita telah mempercepat pertumbuhan intelektual dan memaksa mereka melewati masa kanak-kanak dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengarang buku ini, ada banyak faktor yang menyebabkan orang tua bersikap demikian. Pertama, ada anggapan lebih cepat dan lebih dari segalanya adalah lebih baik. Semakin cepat anak menguasai salah satu kemampuan, semakin cepat pula orang tua menggiring mereka menjadi miniatur orang dewasa. Alhasil, orang tua pun tidak segan-segan ‘menginvestasikan’ uangnya guna mewujudkan impiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sadar atau tidak, kita telah menjadi manusia yang memuja kesuksesan. Kita menjadi sangat bangga memiliki anak seperti ini. Rasa bangga adalah manusiawi bila proporsional. Namun, apa artinya sebuah kebanggaan kalau harus mengorbankan si anak, mengorbankan masa-masa indah saat bermain, masa-masa mengeksplorasi dunia mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, orang tua merasa mahakuasa. Banyak orang tua meyakini mereka, dan hanya merekalah, yang bertanggung jawab atas pertumbuhan kecerdasan, kemampuan atletik, keberhasilan artistik, pengendalian emosi dan kehidupan sosial anak-anaknya (hal 377). Orang tua memandang dirinya sebagai penentu kecerdasan dan kemampuan sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, orang tua tidak bisa menentukan masa depan anaknya dengan menyediakan jenis pengalaman yang dihadapi anak-anak masa kecilnya. Orang tua harusnya bertindak sebagai rekan bijak yang menemani anak-anak menjalani lorong-lorong pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain = Bensin bagi Mobil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis jadi teringat ketika masih mengajar di lembaga kursus bahasa Inggris yang cukup punya nama di Surabaya. Salah satu anak didik penulis adalah siswa SMU Negeri paling favorit di Surabaya. Ia menolak masuk kelas akselerasi padahal kemampuannya memungkinkannya masuk kelas ini. “Gak enak. Aku gak punya banyak teman. Anak-anak yang lain lagi senang-senang bermain, aku serius belajar. Aku ingin jadi manusia normal, Mom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah apa yang dapat kita petik dari ucapan siswa tadi? Waktu bermain mereka dirampas. Padahal, menurut buku ini, bermain sama dengan bensin untuk mobil. Bermain adalah bahan bakar untuk setiap aktivitas intelektual; menyediakan dasar kuat untuk pertumbuhan intelektual, kreativitas, dan penyelesaian masalah. Bermain juga menjadi kendaraan untuk pertumbuhan emosional, dan berbagai keterampilan sosial penting lainnya (hal 328). Bermain akan membangun keahlian intelektual yang kaya, luwes, dan fleksibel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jauh-jauh hari Albert Einstein sudah menandaskan, “Bermain merupakan unsur penting dalam kemampuan berpikir ilmiah yang produktif --- sebelum ada hubungan dengan logika dalam bentuk kata-kata atau tanda-tanda lain yang bisa dikomunikasikan dengan orang lain.” (hal 329). Jadi, bermain = belajar. Maka, sudah waktunya kita (orang tua dan pendidik) untuk mengubah paradigma tentang bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang meraih penghargaan Books for a Better Life tahun 2003 ini tidak hanya piawai berbicara dalam tataran teoritis. Lebih dari dua pertiga halaman menyuguhkan panduan pengasuhan dan pengembangan anak pada tataran praktis. Diantaranya panduan bagaimana anak-anak bermain; belajar angka/ kuantitas, bahasa, dan membaca; mengembangkan konsep diri; dan mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pengembangan kecerdasan sosial-emosional, buku ini mengajak kita meluangkan waktu belajar berempati. Karena sang anak telah memukul temannya misalnya, kita katakan, “Karena kamu memukul kepala temanmu dengan mainan truk itu, dia mungkin akan merasa sakit dan menangis. Kamu mau itu terjadi?” (hal 309). Ucapan semacam ini mengajak anak memahami perasaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat Prinsip Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahwa mempercepat kemampuan intelektual anak dan merampas sebagian waktu bermain mereka adalah tindakan salah, buku ini mengusulkan empat cara sehat dalam mengasuh dan mengembangkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, belajar yang ada dalam jangkuan mereka. Maksudnya, menyajikan berbagai masalah yang ada dalam jangkauan mereka, yang masuk akal dalam konteks kehidupan sehari-hari. Karena ini akan menjamin belajar yang berarti dan asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menekankan proses daripada hasil. Penekanan proses daripada hasil akhir akan menciptakan cinta belajar hingga belajar menjadi menyenangkan. Sebaliknya, penekanan hasil akhir daripada proses bisa menjadi bumerang dan menciptakan kelelahan, dan rasa tertekan pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, EQ bukan IQ. Banyak orang yang memiliki IQ tinggi namun tidak sukses dalam kehidupan. Mengapa? Karena tanpa EQ, kemampuan sosialisasi, dan kemampuan pragmatis, orang genius pun akan mengalami kesulitan menjalani kehidupan ini. Salah satu hal yang memupuk IQ dan EQ adalah dengan bermain (387).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, belajar dalam konteks. Artinya, belajar harus berdasar konteks kehidupan nyata dan kegunaan yang bisa dipahami anak. Ini akan membuat belajar jadi menyenangkan; bukan sebagai tugas tetapi sebuah proses dalam menjalani kehidupan. Anak akan melepaskan rasa penasaran alami dan kreatifitas yang terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, buku ini tidak hanya mendekonstruksi dan meluruskan pandangan kita, orang tua, yang salah kaprah dalam mengasuh dan mendidik anak, tetapi juga menuntun anak belajar melalui pelbagai permainan yang sesuai usia sekaligus membangun inisiatif, kreativitas, rasa ingin tahu, empati dan kepercayaan diri. Jadi, tidak perlu terburu-buru menjadikan anak sekaliber Albert Einstein.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-2773159763241207826?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/2773159763241207826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=2773159763241207826' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2773159763241207826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/2773159763241207826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/menjadi-einstein-tanpa-terburu-buru.html' title='Menjadi Einstein Tanpa Terburu-buru'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RZbLOa8wg9s/R1oCM2TieYI/AAAAAAAAAAM/gJwWWxTRjBM/s72-c/menjadi_einstein_tanpa_terburu_buru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184997102653457404.post-4681080778699156295</id><published>2007-12-01T22:04:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T07:21:27.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Menikmati Kemacetan</title><content type='html'>Siapapun orangnya pasti tidak menyukai bahkan membenci yang namanya macet atau kemacetan. Entah kemacetan dalam urusan dapur, rumah tangga, pekerjaan, pergaulan sampai kemacetan selama perjalanan. Nah, kemacetan yang terakhir inilah yang menderaku akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pindah dan menempati rumah sendiri, aku hampir tidak ada masalah dengan kemacetan lalu lintas. Pasalnya, jarak antara rumah orang tua, tempat aku tinggal, dengan sekolah tempat aku mengajar memakan waktu hanya 20 menit dengan sepeda motor. Lagi pula, jalur yang kulewati tidak seberapa padat. Jadi, sejauh ini kondisi psikologis yang aku alami pada batas normal alias aman-aman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ‘kedamaian’ ini sedikit ‘terusik’ ketika aku menempati rumah sendiri. Jarak rumah dengan tempat bekerja sekitar 45 menit --- satu jam menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50-60 km per jam.&lt;br /&gt;“Bi, kepalaku pusing,” keluhku suatu hari.&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya suamiku ringan.&lt;br /&gt;“Gak tahan macet,” jawabku.&lt;br /&gt;“Kita beli camilan depan situ, yuk, ” ajaknya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa detik, suami langsung menepikan sepeda motor yang dikendarainya dan berhenti tepat di depan sebuah warung makanan. Aku membeli beberapa potong makanan ringan dan sebotol minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, kami sudah kembali melaju di jalanan Surabaya-Sidoarjo. Jalur ini terkenal sangat macet, lebih-lebih ketika jam berangkat atau pulang kantor. Macetnya minta ampun!&lt;br /&gt;“Pusingnya berkurang?,” tanyanya.&lt;br /&gt;“Lumayan berkurang bi,” jawabku sembari menikmati makanan ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang gampang sekali pusing apalagi ketika kemacetan menyergap. Suara klakson dan knalpot yang memekakkan telinga, kepulan asap kendaraan dan debu jalanan serta laju kendaraan yang membuat miris. “Teror” ini harus aku alami selama lebih kurang 1 jam perjalanan kantor-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nikmati aja kemacetan ini. Kita tidak punya pilihan,” imbuh suami dengan suara merendah.&lt;br /&gt;Awalnya sih aku cuek dengan omongan suami. Namun, diam-diam aku mencari jawab sembari 'menggugat' perkataannya. “Menikmati kemacetan?” tanyaku dalam hati. Kemacetan kok dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini suami tetap enjoy aja, menikmati hiruk pikuk perjalanan. Padahal, menyetir kendaraan menuntut konsentrasi tinggi dan stamina prima. Sering, setelah mengantarku ke kantor, ia langsung pulang menghabiskan sebagian waktunya bersama anak-anak. Siangnya, ia ngantor dan sorenya menjemputku. Kalau ditotal, suamiku harus menghabiskan 3-4 jam di atas kendaraan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah menikmati kemacetan senada dengan kemampuan memanage stres?”, “Inikah kemampuan mengubah energi negatif menjadi energi positif?” “Inikah kunci hingga suamiku begitu menikmati perjalanan berangkat-pulang kantor dan melontarkan perkataan tadi?” Pertanyaan itu datang bertubi-tubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Aku sendiri tak pernah menanyakannya. Namun suami aku selalu mengajarkan untuk bersyukur atas apa yang kita dapat. Termasuk memiliki rumah sendiri meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat bekerja. Bukankah Allah akan menambahkan nikmatNya bilamana kita bersyukur terhadap nikmat yang kita terima. Sebaliknya, jika kita tidak mau bersyukur terhadap nikmat Allah, niscaya siksa Allah sangat pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang kini menjadi kebiasaan dalam perjalanan pulang, sebelum rasa pusing mendera, aku mampir ke toko membeli beberapa potong makanan ringan juga sebotol minuman. Sering pula kami mampir di sebuah kios dadakan yang menjual koran dengan harga lumayan miring. Atau, saat laju kendaraan kami melambat, aku bercerita apapun atau meminta suami bercerita, baik tentang kantor atau kabar anak-anak di rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184997102653457404-4681080778699156295?l=hernawati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hernawati.blogspot.com/feeds/4681080778699156295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184997102653457404&amp;postID=4681080778699156295' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/4681080778699156295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184997102653457404/posts/default/4681080778699156295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hernawati.blogspot.com/2007/12/menikmati-kemacetan.html' title='Menikmati Kemacetan'/><author><name>hernawati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17911244951880232118</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
